Kisah Nini Saidah: Kehidupan yang Penuh Keterbatasan
Nini Saidah, seorang lansia berusia 64 tahun, tinggal di rumah yang sudah lapuk dan tidak layak huni. Rumahnya tidak memiliki kamar mandi, sehingga ia harus mandi di depan rumah terbuka. Kondisi tubuh Nini Saidah juga sangat memprihatinkan karena mengalami kelumpuhan sebelah akibat stroke. Meskipun begitu, ia tetap berusaha bertahan hidup dengan bantuan dari warga sekitar.
Pernah suatu hari, Nini Saidah didatangi oleh Wakil Walikota Banjarmasin. Namun, bantuan yang diberikan hanya berupa sembako, bukan uang tunai atau perbaikan rumah. Hal ini membuat Nini Saidah merasa kecewa karena ia sangat membutuhkan bantuan finansial dan perbaikan rumah.
Kondisi fisik Nini Saidah memperihatinkan. Tangan kirinya tidak bisa digerakkan, sementara tangan kanannya masih sedikit bisa bergerak. Ia sering kesulitan dalam berjalan dan selalu memegang sesuatu untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Air mata sering mengalir di wajahnya ketika mengingat masa lalunya yang penuh kesedihan.

Ia juga mengatakan bahwa air yang ingin ia basuh telah dipenuhi kutu. Kondisi rumahnya sangat memprihatinkan, dengan bagian belakang yang hancur dan berlubang besar. Ia takut hewan buas seperti ular masuk ke dalam rumahnya. Tanpa adanya toilet, ia harus mandi di depan rumah, meski merasa tidak nyaman.
“Di depan situ mandi, mau bagaimana lagi sudah kada kawa lewat ke belakang Nak. Hati-hati ikam ke sana,” ucap Nini Saidah kepada jurnalis yang mencoba melihat kondisi belakang rumahnya.
Kehidupan Yuliana Emawati: Guru yang Tinggal di Gubuk
Di tempat lain, Yuliana Emawati, seorang guru TK berusia 43 tahun, tinggal di gubuk kecil berdinding bambu dan triplek. Rumahnya lebih mirip bangunan darurat, dengan dinding yang reot dan atap yang bocor. Lantainya masih tanah, ditutupi terpal agar tidak becek saat hujan. Sementara itu, anak semata wayangnya harus pindah tempat tidur setiap kali hujan datang.
Yuliana mengabdikan dirinya sebagai guru TK selama sembilan tahun. Meskipun penghasilannya hanya Rp350 ribu hingga Rp400 ribu per bulan, ia tetap berusaha keras untuk mencukupi kebutuhan hidup. Ia juga menjual bumbu dapur dan kerudung untuk tambahan penghasilan.
Setiap pagi, ia mengayuh sepeda onthel tuanya menempuh jarak sekitar 20 menit menuju sekolah. Tak peduli panas atau hujan, ia tetap berangkat. Anak-anak di sekolahnya menjadi sumber semangatnya.
Ironisnya, Yuliana belum pernah menerima bantuan sosial seperti PKH atau program bedah rumah. Ia hanya sekali menerima sembako dari pemerintah daerah. “Saya tidak tahu caranya minta bantuan, saya juga nggak punya orang yang bantu urus,” ujarnya.
Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kabupaten Jombang mengakui bahwa kondisi seperti Yuliana bukan satu-satunya. Menurut Ahmad Rofiq Ashari, Kepala Bidang Pengembangan Kawasan Permukiman, pihaknya sedang mendata warga yang tinggal di rumah tidak layak huni untuk diajukan dalam program bantuan pusat.
“Kasus Bu Yuliana akan kami tindak lanjuti. Kami pastikan tidak ada warga yang terlewat dalam pendataan,” ungkap Ahmad.
Bupati Jombang Warsubi juga telah mengusulkan 10 ribu unit bantuan bedah rumah ke pemerintah pusat. Meski harapan mulai muncul, Yuliana tidak ingin berharap terlalu tinggi. Ia hanya ingin punya rumah sederhana yang tidak bocor, tempat ia dan anaknya bisa tidur dengan tenang.
“Kalau malam hujan deras, saya sering tidak bisa tidur. Tapi saya tetap bersyukur, masih bisa ngajar, masih punya anak yang selalu semangat. Mungkin ini cara Tuhan menguatkan saya,” pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar