Penjelasan Mengenai Nyepi dan Tilem Berdasarkan Tri Pramana
Polemik mengenai pelaksanaan Nyepi pada hari Tilem Kesanga atau awal bulan Kadasa kembali menjadi topik yang menarik perhatian. Namun, bagaimana jika kita melihatnya dari sudut pandang sastra dan ajaran Hindu?
Menurut penjelasan dari Manggala Sabha Wiku Kabupaten Klungkung, Ida Pedanda Gede Putra Batuaji, dalam tulisan ringkasnya tentang Nyepi, Tri Pramana digunakan sebagai alat uji kebenaran Tattwa dalam agama Hindu. Tri Pramana terdiri dari tiga bagian utama:
- Pratyaksa Pramana, yaitu kebenaran empiris yang diperoleh melalui pengalaman dan pengamatan langsung.
- Anumana Pramana, merupakan kebenaran rasional atau logis.
- Agama Pramana, merujuk pada kebenaran wahyu atau sastra suci.
"Suatu ajaran disebut supremasi Tattwa bila selaras dengan ketiga pramana tersebut," ujarnya.
Pratyaksa Pramana: Fakta Empiris dan Kosmologis
Dalam konteks ini, Pratyaksa Pramana mencakup fakta-fakta alam yang dapat diamati secara nyata. Misalnya, Tilem adalah puncak kegelapan bulan, di mana energi pralina (pelebur) sangat kuat. Hal ini memengaruhi psikologis dan biologis manusia, membuat mereka lebih mudah gelisah, emosi tidak stabil, serta cenderung reaktif.
"Kondisi ini tidak cocok dengan hakikat Yoga Brata Penyepian yang menuntut kejernihan citta, keseimbangan sattwa, dan pengendalian indria," jelas beliau.

Namun, sebaliknya, kondisi Tilem sangat relevan untuk Bhūta Yadnya (Tawur), karena bhuta kala tidak dihindari, tetapi dinetralkan. Sejak tahun 1953 hingga saat ini, Tawur dilaksanakan pada Tilem, sedangkan Nyepi dilakukan pada penanggal apisan dan tidak menimbulkan kerusakan tatanan kosmis maupun sosial.
"Ini memperkuat bahwa praktik tersebut terbukti bekerja secara nyata," katanya. Dengan demikian, kesimpulan bahwa Tawur Tilem dan Nyepi apisan sesuai dengan realitas alam dan pengalaman umat dapat diterima berdasarkan Pratyaksa Pramana.
Anumana Pramana: Logika dan Rasionalitas
Selanjutnya, berdasarkan Anumana Pramana, logika dan rasionalitas Tattwa juga mendukung pendapat tersebut. Struktur yadnya dan brata memiliki logika yang jelas. Tawur adalah aktivitas ritual aktif yang bersifat eksternal, sedangkan Nyepi adalah yoga brata pasif yang bersifat internal.
Jika keduanya dilakukan bersamaan, maka akan terjadi kontradiksi fungsi, yakni aktivitas bhūta yadnya bisa merusak konsentrasi yoga brata. "Maka logika menuntut Tawur lebih dahulu (menutup tahun lama), baru Nyepi sesudahnya (membuka tahun baru)," jelasnya.
Logika kosmologis waktu juga menjelaskan bahwa Tilem adalah akhir siklus bulan (penutupan), sedangkan penanggal apisan sama dengan awal siklus baru (pembukaan). Maka sangat logis bila Tilem digunakan untuk mempralina (Tawur). Setelah itu baru Nyepi (utpatti). Menempatkan Tawur pada Tilem dan Nyepi pada penanggal apisan adalah logis, sistemik, dan tidak kontradiktif.
Agama Pramana: Sastra dan Babon Tattwa
Agama Pramana merujuk pada sastra suci dan Babon Tattwa. Contohnya adalah Negarakertagama dan Agama Pramana Makro. Negarakertagama adalah sastra negara Majapahit yang digunakan raja-raja sebagai pedoman dharma negara, mengatur tatanan jagat, moral, dan spiritual masyarakat.
Petikan “tanggal ning Cetra” menegaskan bahwa penanggal pisan sebagai hari refleksi moral, selaras dengan hakikat penyepian. Ini menjadi legitimasi sastra bahwa Nyepi sama dengan penanggal apisan. Kemudian Tawur mendahului sebagai penataan jagat.
"Raja Purana Besakih menegaskan tanggung jawab negara atas Bhūta Yadnya, legitimasi Tawur Jagat pada momentum kosmis (Tilem)," tegas beliau. Dalam Sundarigama dan Swamandala, Palid sebagai wariga lokal menuntun desa dan individu, namun tidak dimaksudkan menggantikan sastra negara.
Kesimpulan Āgama dari Negarakertagama, Raja Purana Besakih, dan Tattwa Yadnya secara sah mendukung Tawur Tilem dan Penyepian penanggal apisan. Dengan demikian, kesimpulan Tri Pramana, Pratyaksa selaras dengan alam, psikologi, dan pengalaman umat. Anumana kaitan logis, tidak kontradiktif, sistemik. Āgama dengan didukung Negarakertagama & Raja Purana Besakih.
Maka dapat ditegaskan bahwa penetapan Tawur pada Tilem dan Brata Penyepian pada Penanggal Apisan memenuhi Tri Pramana dan layak disebut sebagai supremasi tattwa.
“Berdasarkan Tri Pramana — Pratyaksa, Anumāna, dan Āgama—dengan rujukan Negarakertagama sebagai Babon Tattwa Majapahit, penempatan Tawur pada Tilem dan Brata Penyepian pada Penanggal Apisan adalah paling palid, logis, dan selaras dengan alam. Inilah bentuk supremasi tattwa, bukan sekadar tradisi,” ujarnya. (*)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar