
JAKARTA, aiotrade
Nyeri dada sering menjadi keluhan utama yang muncul pada penderita penyakit jantung. Rasa tidak nyaman ini bisa memicu rasa cemas dan bahkan panik. Jika nyeri dada tidak segera ditangani dalam waktu 15 menit, kondisi bisa semakin memburuk hingga membuat pasien melakukan Levine sign, yaitu tindakan mengepal tangan di dada untuk mengurangi rasa sakit.
Menurut dr. Birry Karim, Sp.PD, KKV, dokter spesialis penyakit dalam subspesialis kardiovaskular, jika terjadi nyeri dada mendadak, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah meminum aspirin.
“Aspirin dan obat bawah lidah memiliki fungsi yang sama. Namun, umumnya obat bawah lidah tidak tersedia. Jadi, jika tidak ada, sebaiknya segera bawa ke UGD,” ujarnya dalam seminar bertema “Kendalikan LDL, Cegah Penyakit Jantung” di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan, Selasa (9/12/2025).
Mengapa harus ke UGD?
Tidak semua nyeri dada disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Namun, memeriksakan diri ke rumah sakit sangat penting untuk mengetahui penyebab pastinya.
“Saat pasien dengan nyeri dada masuk ke UGD, EKG sudah siap dibaca. Dokter dapat langsung menginterpretasikan hasilnya dan menentukan tindakan selanjutnya,” jelas dr. Birry.
Bagi dokter, penting untuk menentukan apakah nyeri dada disebabkan oleh jantung atau bukan.
“Apakah nyeri dada itu berasal dari jantung atau bukan? Nyeri dada karena jantung biasanya disebabkan oleh sumbatan,” tambahnya.
Jika diketahui bahwa nyeri dada bukan disebabkan oleh jantung, maka kondisi tersebut tidak terlalu mengancam nyawa. Beberapa kondisi lain yang bisa menyebabkan nyeri dada antara lain asam lambung, kontraksi otot, atau akibat membawa beban berat.
Hati-hati dengan serangan jantung
Dr. Birry mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap risiko serangan jantung. Sebab, kondisi ini tidak hanya menyerang orang tua, tetapi juga banyak menyerang kalangan muda.
“Sekitar 70 persen usia rata-rata pasien serangan jantung adalah usia 30-35 tahun. Untuk perempuan, setelah masa menopause, angkanya akan sama dengan laki-laki karena faktor hormonal,” katanya.
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) pada tahun 2025 menunjukkan bahwa sekitar 800.000 orang meninggal setiap tahun akibat penyakit kardiovaskular. Sementara itu, data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2021 melaporkan bahwa tiga dari sepuluh penyebab kematian terbanyak di Indonesia adalah penyakit kardiovaskular seperti stroke, penyakit jantung iskemik, dan penyakit jantung hipertensi.
“Setelah diteliti, 10 persen penyebab penyakit kardiovaskular bersifat genetik, sedangkan 90 persen lainnya disebabkan oleh gaya hidup. Jadi, kita tidak boleh hanya menyalahkan faktor keturunan,” ujar dr. Birry.
Untuk mencegah risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, penting untuk mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain:
- Mengurangi berat badan jika kegemukan
- Berhenti merokok
- Mengontrol tekanan darah dan kadar kolesterol
- Aktif bergerak secara rutin
Dengan perubahan gaya hidup yang tepat, risiko penyakit jantung dapat diminimalisir dan kesehatan jantung dapat terjaga dengan baik.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar