
nurulamin.pro, SURABAYA – Tingkat hunian kamar hotel di Jawa Timur mengalami peningkatan yang signifikan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Angka okupansi mencapai rata-rata 90 hingga 95%, bahkan melebihi target yang sebelumnya ditetapkan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).
Ketua PHRI Jawa Timur, Dwi Cahyono, menyampaikan bahwa capaian ini menjadi angin segar bagi industri perhotelan di wilayah tersebut. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat dan wisatawan selama libur panjang akhir tahun.
“Alhamdulillah momen libur Nataru periode kali ini rata-rata okupansi hotel di Jawa Timur berkisar antara 90 sampai dengan 95%,” ujar Dwi saat dikonfirmasi, Jumat (2/1/2026).
Menurutnya, tingkat hunian kamar tidak hanya mencapai target tetapi juga melebihi proyeksi yang diberlakukan sebelumnya. Beberapa kota dan daerah destinasi wisata di Jawa Timur, seperti Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Malang, dan Kota Batu, melaporkan peningkatan yang cukup signifikan.
Selain itu, wilayah seperti Blitar, Kediri, Madiun, Jember, hingga Banyuwangi juga mengalami kenaikan dalam jumlah pengunjung hotel.
Dwi menjelaskan bahwa angka tersebut sejalan dengan target PHRI Jawa Timur, yang sejak awal memproyeksikan okupansi hotel selama libur panjang Nataru bisa mencapai kisaran 90%.
Namun, setelah masa libur Nataru berakhir, tingkat hunian kamar hotel mulai menurun secara bertahap. Meski begitu, penurunan tersebut tidak terlalu signifikan.
“Sekarang [tingkat okupansi kamar] turun, tetapi tidak signifikan. Tapi beberapa daerah rata-rata per hari ini 65%,” tambahnya.
Beberapa faktor yang memengaruhi tingkat hunian hotel selama libur Nataru antara lain:
- Peningkatan kepercayaan diri masyarakat terhadap situasi ekonomi dan keamanan nasional.
- Ketersediaan fasilitas dan layanan yang semakin baik di berbagai destinasi wisata.
- Kebiasaan masyarakat untuk melakukan perjalanan liburan setiap akhir tahun.
Selain itu, promosi dan pemasaran yang dilakukan oleh pelaku industri pariwisata juga memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan jumlah pengunjung.
Dwi menilai bahwa hasil yang dicapai selama libur Nataru menjadi indikator positif bagi pertumbuhan industri perhotelan di Jawa Timur. Ia berharap tren ini dapat dipertahankan bahkan meningkat di masa mendatang.
Tidak hanya itu, Dwi juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menjaga kualitas layanan serta memastikan kepuasan para pengunjung.
Dengan adanya peningkatan okupansi yang signifikan, industri perhotelan di Jawa Timur diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar