Opini: Siapa Tanggung Jawab Krisis Akses Kerja bagi Lulusan Baru?

Masalah yang Dihadapi Lulusan Baru di Kendari

Setiap tahun, ribuan mahasiswa di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) merayakan kelulusan dengan harapan memasuki dunia kerja yang sesuai dengan bidang yang mereka tekuni selama bertahun-tahun. Namun setelah toga dilipat dan ijazah dibingkai, sebagian besar fresh graduate justru dihadapkan pada kenyataan yang jauh dari ekspektasi.

Mencari pekerjaan pertama saja sulit, apalagi pekerjaan yang relevan dengan studi. Situasi ini bukan hanya terjadi di satu kampus, tetapi menjadi persoalan kolektif yang berulang dari tahun ke tahun. Secara nasional, tantangan ini semakin terasa karena jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat setiap tahun lebih dari 1 juta lulusan masuk ke pasar kerja setiap tahun sejak 2019. Sementara itu, jumlah lowongan kerja tidak tumbuh sebanding.

Ada tahun-tahun ketika lowongan meningkat, tetapi ada pula periode ketika lowongan justru merosot tajam seperti pada 2020 dan 2023. Ketidakstabilan ini mempersempit ruang bagi lulusan baru untuk masuk ke dunia kerja secara layak. Di tingkat daerah, gambaran serupa juga tampak jelas. Tingkat pengangguran di Sulawesi Tenggara dalam lima tahun terakhir bergerak fluktuatif: sempat naik hingga 4,58 persen pada 2020, lalu turun perlahan di kisaran 3,1–3,09 persen pada 2020–2024, dan kembali naik menjadi 3,31 persen pada 2025.

Angka yang tampak kecil ini menyimpan persoalan yang jauh lebih besar, banyak lulusan bekerja di sektor informal, tidak sesuai kompetensi, atau bahkan menganggur lebih lama karena lapangan kerja yang relevan tidak tersedia. Jika fenomena ini dialami oleh banyak lulusan, apakah masalahnya ada pada kualitas mahasiswa? Atau justru ada celah besar pada sistem yang mengatur arah pembangunan daerah dan ketenagakerjaan?

Pertanyaan ini penting untuk dipikirkan serius, terutama ketika ribuan lulusan terdidik setiap tahun justru tidak memiliki ruang untuk berkontribusi di daerahnya sendiri. Pada titik ini, pertanyaan "tanggung jawab siapa?" menjadi semakin kompleks. Pemerintah belum menyiapkan regulasi yang kuat, industri belum berkembang optimal, dan kampus belum sepenuhnya terhubung dengan dunia profesional. Sementara itu, fresh graduate berdiri sendirian di persimpangan jalan, berusaha menerka arah masa depan mereka.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada langkah yang dapat diambil. Pemerintah perlu mulai merancang kebijakan yang lebih ramah bagi lulusan baru mulai dari pembangunan pusat karier daerah, program pelatihan industri, hingga insentif bagi perusahaan yang merekrut fresh graduate. Kampus juga harus memperkuat kurikulum, memperpanjang masa magang, dan menyediakan pelatihan relevan sesuai kebutuhan industri digital dan kreatif yang semakin berkembang.

Strategi Bertahan bagi Fresh Graduate

Bagi fresh graduate, upaya bertahan membutuhkan strategi adaptif. Membangun portofolio sejak dini, mengikuti pelatihan tambahan, memperluas jejaring profesional, hingga mencoba pekerjaan freelance dapat menjadi jalan untuk mendapatkan pengalaman kerja. Keahlian digital, storytelling visual, editing, dan manajemen konten kini menjadi kompetensi yang banyak dicari, khususnya bagi lulusan Jurnalistik.

Krisis akses kerja bagi fresh graduate bukan hanya soal angka pengangguran, tetapi tentang keberlanjutan pembangunan sumber daya manusia. Jika dibiarkan, Kota Kendari bisa kehilangan potensi besar dari generasi muda yang sebenarnya memiliki kapasitas untuk membangun daerah. Karena pada akhirnya, masa depan Kendari tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang benar-benar diberi ruang untuk berkembang.

Namun di tengah keterbatasan itu, lulusan Jurnalistik sebenarnya masih memiliki peluang besar jika mampu mempersiapkan diri lebih awal. Dunia media dan komunikasi hari ini menuntut kemampuan yang lebih fleksibel sekaligus lebih teknis. Karena itu, mahasiswa jurnalistik yang ingin benar-benar bekerja di bidangnya perlu mulai bergerak sejak masih kuliah.

Membangun portofolio liputan, menulis secara konsisten, dan terlibat dalam kegiatan pers kampus adalah langkah awal yang memperkuat identitas profesional mereka. Selain itu, memperdalam kemampuan teknis seperti editing video, desain grafis dasar, fotografi jurnalistik, hingga manajemen media sosial dapat membuka lebih banyak pintu kesempatan di industri kreatif yang kini menjadi salah satu sektor penyerap tenaga kerja terbesar.

Fresh graduate jurnalistik juga perlu berani terjun ke dunia freelance sebagai batu loncatan. Banyak jurnalis berpengalaman yang memulai kariernya dari proyek kecil, kontributor media, dan kerja-kerja lapangan independen sebelum mendapatkan posisi tetap. Dengan memperluas jejaring profesional sejak awal baik melalui komunitas media, seminar, workshop, maupun jejaring digital, lulusan jurnalistik dapat mempercepat proses masuk ke industri.

Dunia media kini menghargai mereka yang "punya karya", bukan sekadar punya ijazah.

Peluang dari Pemanfaatan AI

Tetapi di tengah tantangan pasar kerja yang semakin ketat, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) menjadi peluang strategis yang tidak boleh diabaikan oleh fresh graduate. Teknologi AI saat ini tidak hanya digunakan oleh perusahaan besar, tetapi juga oleh individu yang ingin mempercepat perkembangan kariernya.

Bagi lulusan baru, AI dapat dimanfaatkan untuk menyusun portofolio digital, membuat CV profesional yang terstruktur otomatis, melatih kemampuan wawancara melalui simulasi, hingga menganalisis lowongan pekerjaan yang paling sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Selain itu, bagi lulusan Jurnalistik, AI memungkinkan mereka memproduksi konten lebih cepat mulai dari riset data, penyusunan naskah, penjadwalan konten media sosial, hingga penyuntingan tulisan dan video.

Dengan memanfaatkan AI secara etis dan bijak, fresh graduate dapat meningkatkan daya saingnya, memperluas peluang kerja, serta menunjukkan bahwa mereka mampu beradaptasi dengan tuntutan dunia industri yang bergerak menuju era digital. Kehadiran AI bukan untuk menggantikan lulusan baru, tetapi menjadi alat yang memperkuat kompetensi mereka agar tidak tertinggal dalam persaingan yang semakin kompleks.

Menjadi Generasi Produktif dan Adaptif

Pada akhirnya, membangun karier di bidang jurnalistik bukan hanya soal menunggu lowongan kerja, tetapi tentang bagaimana lulusan mampu menunjukkan kapasitasnya dan menciptakan ruang sendiri di tengah kompetisi yang ketat. Dalam situasi pasar kerja yang tidak stabil, strategi personal semacam ini menjadi penting agar para lulusan tidak hanya menjadi angka dalam statistik pengangguran, tetapi hadir sebagai generasi muda yang produktif, adaptif, dan mampu bertahan. Karena sejatinya, kualitas lulusan jurnalistik bukan diukur dari gelarnya, tetapi dari sejauh mana ia berani mengeksekusi potensinya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan