Orangtua Korban Gemetar Lihat Mobil MBG Pasca Kecelakaan di SD Kalibaru

Orangtua Korban Gemetar Lihat Mobil MBG Pasca Kecelakaan di SD Kalibaru

Trauma yang Menyelimuti Orang Tua Murid Pasca Kecelakaan di SDN Kalibaru 01 Pagi

Kecelakaan mobil MBG di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kalibaru 01 Pagi pada Kamis (11/12/2025) meninggalkan luka mendalam bagi para orang tua murid. Insiden ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap keselamatan anak-anak dan memicu berbagai tuntutan dari masyarakat.

Korban dan Rasa Trauma yang Mendalam

Dari insiden tersebut, sebanyak 21 orang mengalami luka dengan rincian 20 siswa dan satu guru. Salah satu orang tua, Elis Kurnia, mengungkapkan bahwa rasa trauma justru lebih dirasakan oleh orang tua dibandingkan anak-anak. Ia bahkan mengaku gemetar setiap melihat mobil MBG.

Elis menjelaskan bahwa biasanya mobil MBG berhenti terlebih dahulu di depan masjid sebelum masuk ke area sekolah setelah pagar dibuka. Namun, pada hari kejadian, mobil tersebut langsung melaju masuk. Ia berharap ada evaluasi terhadap para sopir mobil MBG agar kejadian serupa tidak terulang.

"Kami melihat mobil MBG jadi gemeteran lagi. Biasanya mobil MBG itu diam dulu, kalau pagar sudah dibuka baru masuk. Tapi ini kenapa tiba-tiba masuk. Harapannya ke depan sopir-sopir yang belum mahir jangan ditugaskan mengantar," ujar Elis.

Kekecewaan dan Kekhawatiran Orang Tua Lainnya

Orang tua lainnya, Andi Muzakir, juga menyampaikan kekhawatirannya. Ia mengatakan pihak sekolah menginformasikan kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) setidaknya hingga dua hari ke depan. Ia berharap kegiatan belajar dapat kembali normal, namun meminta agar mobil MBG ditempatkan di luar area sekolah demi keamanan.

"Namanya orang tua pasti khawatir. Harapannya belajar tetap normal, tapi mobil MBG itu baiknya di luar saja. Biasanya juga begitu, cuma kemarin tiba-tiba masuk. Mungkin karena sopir cadangan," ucapnya.

Para orang tua berharap Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi terhadap mekanisme dan kualifikasi sopir mobil pengantar MBG, guna mencegah kejadian serupa terulang.

Perubahan Fisik Sekolah Pasca Kecelakaan

Lapangan di SDN Kalibaru 01, Cilincing, Jakarta Utara mengalami perubahan warna pasca insiden mobil program Makan Bergizi Gratis (MBG) menabrak para siswa. Sebelumnya lapangan di SDN Kalibaru 01 berwarna abu-abu, namun pada hari ini telah berubah menjadi biru.

Berdasarkan pantauan Tribunnews.com, pagar sekolah tampak ditutup rapat. Awak media tidak dipersilakan masuk ke dalam area sekolah. Tidak tampak kegiatan di dalam sekolah.

Penjaga sekolah SDN Kalibaru 01, Cilincing, Dinan, mengatakan para guru saat ini sedang rapat dengan kepala sekolah. "Ada semua lagi rapat," katanya.

Tampak dua mobil terparkir di lapangan SDN Kalibaru 01 yang telah berubah warna.

Pembelajaran Jarak Jauh Diterapkan

Pasca insiden kecelakaan mobil pembawa Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menabrak sejumlah murid SDN Kalibaru 01 Pagi, kegiatan belajar mengajar pada Jumat (12/12/2025) dilakukan secara jarak jauh atau daring.

Sejumlah orang tua murid mengaku masih khawatir dan trauma setelah kejadian yang terjadi pada Kamis pagi tersebut. Usai peristiwa itu, sekolah tampak sepi pada Jumat pagi. Hanya beberapa guru yang berada di halaman, sementara para murid tidak terlihat seperti biasanya. Beberapa orang tua datang ke sekolah untuk memastikan kondisi terbaru.

Bantuan Psikologis dari Polda Metro Jaya

Tim Psikologi Biro SDM Polda Metro Jaya bersama Ikatan Psikologi Klinis (IPK) HIMPSI Jakarta turun tangan memberikan pendampingan kepada siswa-siswi SDN 01 Kalibaru, Jakarta Utara, yang menjadi korban kecelakaan mobil. Bantuan itu berupa Psychological First Aid (PFA) untuk meredakan trauma pasca insiden.

Dalam keterangan yang diterima, Kamis (11/12), para psikolog membantu anak-anak mengelola reaksi awal, memberikan rasa aman, serta menenangkan kepanikan yang muncul. Melalui PFA, siswa dan orang tua mendapatkan penguatan psikologis serta pendampingan agar lebih tenang menghadapi situasi traumatis.

Sebanyak 10 personel psikolog dan konselor Polda Metro Jaya diterjunkan, didukung 5 psikolog IPK HIMPSI Jakarta. Mereka memberikan layanan berupa dukungan emosional, pendampingan keluarga korban, hingga observasi awal terhadap siswa yang dinilai membutuhkan penanganan lanjutan.

Seluruh pendampingan dilakukan dengan pendekatan ramah anak dan suasana menenangkan. Kabag Psikologi Biro SDM Polda Metro Jaya, Adi Putra Yadnya, menegaskan pihaknya akan terus memantau kondisi siswa dan siap melakukan pendampingan lanjutan.

Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak sekolah jika diperlukan. Dukungan psikologis kami pastikan optimal agar siswa dan keluarga bisa melewati masa pemulihan dengan lebih tenang, ujarnya.

Polda Metro Jaya menegaskan komitmennya memberikan layanan psikososial bagi masyarakat, terutama anak-anak sebagai kelompok rentan. Pendampingan ini diharapkan mempercepat pemulihan emosional, mengembalikan rasa aman, dan mendukung proses belajar siswa secara normal.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan