Identitas Wilayah dan Proses Transformasi Budaya
Identitas sebuah wilayah tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh dari interaksi manusia, pergerakan, jejak sejarah, serta transformasi budaya yang terus berlangsung seiring waktu. Pameran re/trace lahir dari kesadaran bahwa setiap tempat menyimpan pola, lanskap, dan ingatan kolektif yang membentuk cara hidup masyarakatnya, namun selalu berubah seiring adaptasi dengan ruang dan kelompok lain. Melalui pendekatan artistik, re/trace berupaya menelusuri kembali karakteristik wilayah dengan merepresentasikan sikap, corak, wujud, serta lanskapnya.
Penelusuran ini tidak hanya mengikuti jejak yang pernah ditempuh sebelumnya, tetapi juga membuka kemungkinan untuk bergerak ke arah yang berbeda dalam mencari struktur identitas yang lebih luas dan dinamis. Identitas lokal lahir dari perpaduan nilai-nilai yang bertahan, kebiasaan yang diwariskan, serta interaksi dengan pendatang atau budaya lain yang memperkaya sebuah wilayah. Di tengah percampuran tersebut, unsur keajegan tetap menjadi penanda penting yang menjaga kekhasan sebuah tempat.
Sejalan dengan konsep genre de vie, identitas wilayah dapat dibaca melalui kebiasaan hidup sebuah kelompok, kondisi fisik, struktur sosial, serta ikatan psikologis yang terbentuk dari hubungan panjang manusia dengan lingkungan. Dengan memahami ragam sikap, nilai, keyakinan, dan perilaku yang tersebar, kita dapat melihat bagaimana suatu komunitas tumbuh dari dinamika geografis dan sosialnya.
re/trace: Seni sebagai Pembacaan Ulang Jejak Wilayah
Menandai perjalanan dua dekade tudgam dalam menciptakan ruang dan masa melalui seni dan budaya, pameran re/trace merangkum jejaring yang dibangun melalui kerja arus bawah. Pameran ini tumbuh dari daya kritis, praktik artistik, kolaborasi, serta komitmen terhadap keberlanjutan yang menjadi fondasi kerja tudgam.
Pameran menghadirkan 10 seniman muda dari Kuningan, Brebes, dan Jogjakarta. Mereka adalah Ajay Ahdiyat, Arief Mujahidin, Bil Addakhil, Ellsa Berlandha Aditya, Neogreenmonster, Harry Fitriansyah, Geni, Nuggiera Item, Ryan Obet, dan Ungki Prasetyo. Dikuratori oleh Maulana Prasaja, re/trace tidak hanya menampilkan karya visual, tetapi juga memperluas ruang pengalaman melalui pertunjukan dan diskusi publik.
Program pertunjukan menghadirkan Sinar Surya dari Kuningan dan Bachoxs x DOMiSTiC dari Jakarta. Sementara itu, dua sesi diskusi publik pada 20 Desember 2025 memperkaya pembacaan tema pameran.
Diskusi Publik yang Memperkaya Tema Pameran
Ngobrol Buku Bercermin pada Yang Sudah: Kumpulan Esai Budaya dan Seni menghadirkan Berto Tukan (Penulis, Penyair, Peneliti Seni-Budaya), Aris Risma Sunarmas (Penulis & Cerpenis), dan dimoderatori Adriyana (Peneliti, Penulis, Dosen FKIP UNIKU). Diskusi ini membahas bagaimana esai-esai budaya dan seni bisa menjadi cerminan untuk memahami identitas wilayah.
Diskusi kedua, Dari Ritual ke Digital: Membaca Ulang Tradisi Lewat Teknologi, menghadirkan Arief Bachoxs Wicaksono (Perupa Intermedia & Praktisi Digital) dan Irvin Domi (Seniman Multidisiplin & Podcaster Seni Budaya), dimoderatori oleh Ajay Ahdiat (Seniman, Desainer, Dosen DKV UNIKU). Topik ini menggambarkan bagaimana teknologi bisa menjadi alat untuk memahami dan mereinterpretasi tradisi.
Pameran re/trace yang Menarik Perhatian
Pameran re/trace dibuka oleh Yusuf Oeblet (Music Director Tabuhan Nusantara & Owner Bumi Seni Tari Kolot) pada Sabtu (13/12) pukul 15.30 WIB di Balai Edukasi dan Ekosistem Kuningan, Gedung Graha Wangi, Jl. Veteran, Kuningan. Pameran berlangsung hingga 21 Desember 2025.
Dengan berbagai bentuk karya seni, pertunjukan, dan diskusi, re/trace memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana identitas wilayah dapat dipahami dan direpresentasikan melalui seni. Ini bukan hanya sekadar pameran, tetapi juga ruang dialog yang memperkaya pemahaman akan dinamika budaya dan sosial.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar