Pandangan: Program Wajib Belajar di Rumah, Orangtua, dan Masa Depan NTT

Pandangan: Program Wajib Belajar di Rumah, Orangtua, dan Masa Depan NTT

Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak di Zaman Sekarang

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI (Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.

Gubernur Melki Lakalena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma telah mencanangkan untuk menerbitkan Peraturan Gubernur tentang jam wajib belajar di rumah bersama orang tua. Gaung belajar dari rumah ini penting karena realitas menunjukkan minat belajar anak didik makin menurun dari hari ke hari.

Anak didik saat ini makin jarang membaca buku dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain gawai. Selain masalah minat belajar yang menurun, rancangan Pergub tersebut juga merupakan respons terhadap makin maraknya perilaku bebas tak terkendali dari generasi muda saat ini.

Makin jamak kita saksikan di saat jam malam dimana anak didik mestinya berada di rumah dan belajar, mereka justru terlihat di tempat-tempat umum untuk sekedar nongkrong atau kegiatan lainnya. Peran orangtua semakin tereduksi dalam menjaga dan mengawasi anak-anak mereka.

Fakta buruk lainnya terlihat pada makin banyaknya penderita penyakit berbahaya di kalangan remaja yang nota bene adalah pelajar. Di Kota Kupang misalnya, jumlah anak sekolah yang mengidap penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS lebih tinggi dibandingkan dengan golongan PSK. Komisi Penanggulangan AIDS Kota Kupang merilis 254 kasus di kalangan pelajar/mahasiswa, lebih tinggi dari kasus PSK yang berada pada angka 203.

Peran Orang Tua yang Tergerus

Peran orangtua di zaman ini makin tergerus. Zaman emas dimana ketaatan kepada orangtua adalah kewajiban mutlak anak sudah berlalu. Kini anak-anak jauh lebih bebas dalam bergaul dan berekspresi tanpa takut pada orangtuanya lagi.

Ada beberapa faktor yang membuat peran orangtua makin tergerus di zaman ini:

  • Tekanan ekonomi
    Tuntutan kebutuhan hidup yang semakin meningkat menyebabkan banyak orangtua menghabiskan waktu lebih banyak di tempat kerja dibandingkan di rumah. Waktu mereka mendampingi anak untuk belajar menjadi sangat terbatas. Kelelahan setelah pulang dari tempat kerja melemahkan kemampuan mereka untuk mengawasi, memeriksa tugas atau sekadar mengobrol tentang pelajaran anaknya.

  • Perkembangan teknologi
    Gawai, media sosial dan permainan online sangat mendistraksi anak untuk belajar. Kegagalan orangtua dalam memahami literasi digital dengan sibuk berselancar sendiri di dunia maya akan melemahkan kemampuan mereka dalam mengontrol anak menggunakan gawai. Kondisi ini membuat anak bebas menentukan waktu belajar (jika masih berkeinginan belajar), waktu bermain dan durasi mengakses konten hiburan.

  • Pergeseran pola asuh
    Orangtua zaman ini sudah cenderung lebih permisif dan memberikan kebebasan lebih besar kepada anak untuk secara mandiri belajar. Sering terjadi kebebasan tersebut justru disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak produktif. Akibatnya anak kesulitan membangun disiplin diri dalam belajar sebagaimana diharapkan orangtua.

  • Perubahan lingkungan sosial
    Pada banyak komunitas, tanggungjawab kesuksesan belajar anak diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Ada anggapan orangtua bahwa ketika mereka mengirim anaknya ke sekolah maka seluruh aspek pendidikan anak adalah urusan guru. Cara pandang ini menggerus peran dan partisipasi orangtua dalam mendidik anak di rumah.

Ruang Belajar dan Berdiskusi

Program Wajib Belajar di Rumah yang dicanangkan Gubernur Melki Lakalena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma dapat menjadi stimulus dalam merevitalisasi peran orangtua ketika berelasi dengan anak dan mendorong terciptanya kebiasaan belajar yang positif.

Program ini dapat menjadi ruang istimewa untuk mendorong terciptanya relasi berkualitas antara orang tua dan anak. Jam belajar bersama orangtua bukan sekedar momen menyelesaikan tugas sekolah semata tetapi merupakan kesempatan membangun fondasi karakter, kedisiplinan dan motivasi belajar anak yang menentukan masa depannya.

Dalam implementasinya, Program Wajib Belajar di Rumah mengharuskan setiap anggota keluarga menghargai waktu khusus anak untuk belajar, dan orangtua hadir sebagai pendamping, fasilitator dan motivator. Kehadiran orangtua pada jam belajar anak menjadi tanda bahwa pendidikan adalah prioritas keluarga.

Keterlibatan orangtua membuat anak merasa didukung dan dihargai. Selanjutnya anak menjadi percaya diri, berani bertanya dan semangat belajarnya meningkat. Interaksi emosional yang hangat tercipta karena anak merasa memiliki orangtua yang peduli dengan proses belajarnya.

Program Wajib Belajar di Rumah juga akan membentuk ruang dialog antara orangtua dan anak. Dalam kebersamaan belajar, orangtua mengetahui kesulitan dan tantangan yang dihadapi anak pada mata pelajaran tertentu, mengetahui minat khusus anaknya serta membantu anaknya menemukan solusi terbaik untuk setiap kesulitan yang dihadapi.

Pola interaksi seperti ini sangat berguna dalam membangun komunikasi dua arah yang sehat dalam keluarga. Orangtua memberikan dukungan dan anak merasa dihargai pendapat dan perjuangannya.

Masa Depan yang Lebih Cerah

Dampak lanjutannya bukan saja menumbuhkan keterampilan akademik anak tetapi juga kompetensi social dan emosionalnya. Selanjutnya, program ini akan mendidik anak tentang arti penting kedisiplinan dan manajemen waktu. Kedisiplinan adalah nilai sangat penting yang sangat menentukan masa depan anak.

Pengelolaan waktu yang baik seperti tahu kapan waktu bermain, belajar dan bekerja membutuhkan komitmen kuat. Orang tua sangat berperan untuk menjadi teladan bagi anak dalam memanfaatkan waktu dengan baik. Contoh ketika anak disuruh belajar orangtua juga belajar. Mematikan televisi dan menghindari gawai selama proses belajar adalah bentuk aktivitas yang memberi pengaruh lebih kuat dibandingkan sekedar ucapan. Anak meniru apa yang dilakukan orangtuanya.

Ada asa bahwa program ini berdampak signifikan di masa depan. Ketika anak-anak terbiasa belajar secara disiplin dengan dukungan penuh orangtua maka mereka akan tumbuh sebagai pribadi yang memiliki motivasi, tanggungjawab dan keterampilan akademik yang positif. Mereka berkembang sebagai individu yang belajar sepanjang hayat (life long learner), berkarakter kuat dan mampu memecahkan masalah hidupnya sendiri (problem solver).

Akhirnya, Program Wajib Belajar di Rumah adalah investasi jangka panjang keluarga dalam membentuk generasi muda NTT yang berkualitas. Kehadiran orangtua dan interaksinya dengan anak dalam aktivitas belajar di rumah menjadi pilar utama dalam menyiapkan masa depan anak. Peran orangtua kembali hidup dan berkontribusi signifikan bagi cerahnya masa depan anak.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan