Sejarah dan Perayaan Haul Guru Sekumpul
Haul Guru Sekumpul adalah peringatan tahunan yang diadakan untuk mengenang kisah hidup dan perjuangan KH Muhammad Zaini Abdul Ghani atau lebih dikenal dengan sebutan Abah Guru Sekumpul. Pada tahun 2025, perayaan Haul Guru Sekumpul akan berlangsung dua kali karena adanya perbedaan dalam kalender Hijriah.
Pada tanggal 5 Rajab 1446 Hijriah, Haul Guru Sekumpul pertama dilaksanakan pada hari Minggu, 5 Januari 2025. Sementara itu, Haul kedua akan digelar pada 5 Rajab 1447 Hijriah yang jatuh pada 25 Desember 2025. Meski belum ada pengumuman resmi, banyak yang memprediksi bahwa Haul Guru Sekumpul 2025 akan diselenggarakan bersamaan dengan ibadah rutin Minggu malam.
Perayaan Haul Guru Sekumpul biasanya dilakukan di lingkungan keluarga dan masyarakat setempat. Tahun ini, kegiatan tersebut akan dipantau melalui link live streaming yang tersedia. Link tersebut bisa diakses untuk menyaksikan secara langsung perayaan Haul Guru Sekumpul yang dihadiri oleh ribuan jemaah.
Profil Singkat Abah Guru Sekumpul
KH Muhammad Zaini Abdul Ghani lahir pada tanggal 11 Februari 1942 di Desa Tunggul Irang, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Ia memiliki nama lengkap Muhammad Zaini Abdul Ghani al-Banjari. Dalam masyarakat, ia dikenal sebagai Abah Guru Sekumpul atau Guru Ijai.
Abah Guru Sekumpul adalah keturunan ke-8 dari Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari, seorang ulama besar di Kalimantan Selatan. Silsilah keluarganya mencakup beberapa tokoh penting dalam sejarah Islam di wilayah tersebut.
Perjalanan Hidup Abah Guru Sekumpul
Kehidupan Abah Guru Sekumpul dimulai dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang. Ia diajarkan tentang kedisiplinan dalam pendidikan tauhid, akhlak, dan membaca Al-Quran. Bimbingan pamannya, Syekh Seman Mulia, sangat berpengaruh dalam perkembangan spiritualnya.
Ia juga didorong untuk belajar dari tokoh-tokoh Islam terkenal seperti al-Alim al-Allamah Syaikh Anang Sya’rani. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Abah Guru Sekumpul diberi amanah untuk mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Beliau direkomendasikan oleh beberapa tokoh agama untuk menjadi pengajar di sana.
Beberapa tahun kemudian, Abah Guru Sekumpul memutuskan untuk memulai kegiatan dakwah dengan membuka pengajian di rumahnya di Keraton Martapura. Awalnya, pengajian ini hanya ditujukan untuk para santri, tetapi seiring waktu jumlah jemaah semakin bertambah.
Pengajian pun berkembang pesat dengan penambahan kitab-kitab yang lebih bervariasi, seperti fikih, tasawuf, tafsir, dan hadis. Abah Guru Sekumpul juga memperkenalkan karya Maulid al-Habsyi atau Simthud Durar karya al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi.
Tempat Pengajian dan Kematian Abah Guru Sekumpul
Pada tahun 1980-an, Abah Guru Sekumpul memilih wilayah Sungai Kacang sebagai tempat tinggal dan pengajian barunya. Komplek rumahnya diberi nama "Komplek Ar-Raudhah," yang terinspirasi dari nama Ar-Raudhah di Masjid Nabawi, Madinah.
Abah Guru Sekumpul meninggal dunia pada 10 Agustus 2005 di usia 63 tahun. Sebelum wafat, ia dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura karena sakit ginjal. Makamnya berada di kompleks pemakaman keluarga dekat dengan Musala Ar Raudhah, Sekumpul, Martapura Kalimantan Selatan.
Musala Ar Raudhah, Sekumpul, Martapura Kalimantan Selatan juga menjadi pusat kegiatan Haul Abah Guru Sekumpul yang diperingati setiap tahunnya dengan selalu dihadiri jutaan jemaah.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar