Para Pakar Properti RI Sepanjang 4 Dekade

Perkembangan Industri Properti Indonesia

Selama 40 tahun atau 4 dekade terakhir, lanskap properti Indonesia telah diubah oleh para tokoh yang tidak hanya membangun gedung, tetapi juga menciptakan kota dan peradaban baru. Berikut adalah profil dan rekam jejak bisnis dari para tokoh besar properti nasional.

Ir. Ciputra (Ciputra Group)

Industri properti Indonesia tidak akan pernah sama tanpa sentuhan visioner dari Ir. Ciputra. Lahir dengan nama Tjie Tjin Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah pada 24 Agustus 1931, almarhum yang akrab disapa Pak Ci ini bukan sekadar insinyur arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), melainkan arsitek peradaban yang mengubah lahan kosong menjadi kota-kota terpadu yang hidup dan berkelanjutan.

Kiprah bisnis properti Ir. Ciputra dimulai sejak bangku kuliah di ITB pada 1957. Bersama dua rekan arsiteknya yakni Budi Brasali dan Ismail Sofyan, ia mendirikan biro konsultan arsitektur yang dikenal sebagai PT Daya Cipta. Namun, jiwa entrepreneur-nya tak puas hanya menunggu proyek. Dirinya bersama temanya tersebut lalu mendirikan PT Pembangunan Jaya (Jaya Group) pada 1961. Titik ini menjadi langkah besar pertamanya, dimana dirinya bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemda DKI).

Seiring perkembangannya, Jaya Group sukses menggarap proyek-proyek monumental yang masih ikonik hingga kini, termasuk Taman Impian Jaya Ancol dan Proyek Senen, menjadikannya tokoh kunci dalam pembangunan ibu kota.

Tahun berganti, pada 1970 Ciputra berkolaborasi dengan tokoh-tokoh bisnis terkemuka lainnya (termasuk Sudono Salim dan Sudwikatmono). Grup ini melahirkan kawasan residensial premium seperti Pondok Indah dan Bumi Serpong Damai (BSD). Kemudian, barulah Ciputra Group didirikan secara resmi pada tahun 1981 sebagai perusahaan keluarga.

Meski demikian, perjalanan bisnis Ciputra tidak selalu mulus. Ujian terberat datang menghantam pada Krisis Moneter (Krismon) 1997/1998. Kala itu, nilai tukar Rupiah terjun bebas, sementara sebagian besar utang proyek properti besar, termasuk yang berada di bawah Jaya Group dan Metropolitan Group, terdenominasi dalam dolar AS. Utang yang membengkak hingga nyaris mencapai US$100 juta saat itu, membuat banyak unit usaha, termasuk Bank Ciputra, terpaksa ditutup. Pada saat yang bersamaan, Ciputra turut melepas portofolio saham di BSD.

Ir. Ciputra wafat pada 27 November 2019, di usia 88 tahun di Singapura. Saat ini, Grup Ciputra dikelola oleh generasi kedua, di mana putra bungsu Ir. Ciputra yakni Candra Ciputra kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Ciputra Development Tbk. (CTRA). Hingga Kuartal III/2025 CTRA memiliki total asset mencapai Rp46,19 triliun.

Eka Tjipta Widjaja (Sinar Mas Group)

Eka Tjipta Widjaja adalah tokoh di balik lahirnya Sinar Mas Group. Dia dikenal sebagai salah satu pendiri konglomerasi terbesar di Indonesia yang memiliki portofolio sangat terdiversifikasi, mulai dari pulp and paper (APP), agribisnis dan makanan (Sinar Mas Agribusiness), jasa keuangan (Sinar Mas Financial Services), telekomunikasi, hingga properti di bawah bendera Sinar Mas Land.

Eka Tjipta Widjaja sendiri lahir di Quanzhou, Tiongkok pada 3 Oktober 1921. Eka Tjipa wafat di Jakarta pada 26 Januari 2019 atau pada usia 98 tahun.

Kisah Eka Tjipta Widjaja merupakan salah satu cerita sukses imigran yang inspiratif. Dia datang ke Indonesia yang saat itu masih dikenal sebagai Hindia Belanda, pada usia sembilan tahun. Karier bisnisnya dimulai dari nol, sempat menjadi pedagang keliling di Makassar, menjual biskuit dan makanan kecil. Kegigihan dan semangat wirausahanya memungkinkannya mengumpulkan modal untuk kemudian merambah ke komoditas dan industri yang lebih besar.

Fondasi utama Sinar Mas dibangun melalui komoditas. Pada 1968, dia mengakuisisi perkebunan kelapa sawit dan pabrik minyak kelapa di Sulawesi. Setelah itu, Eka berekspansi pesat ke sektor pulp and paper yang menjadi pilar pendapatan utama lainnya, yakni Asia Pulp and Paper (APP). Keberhasilan di sektor komoditas dan industri inilah yang memberikan modal besar untuk merambah sektor properti.

Berbeda dengan banyak pengembang lain, Sinar Mas Land dikenal dengan fokusnya pada pengembangan kawasan kota mandiri (township development) berskala sangat besar (mega-skala) dan terintegrasi. Salah satu proyeknya ikonik besutan Sinar Mas Land yakni pengembangan Bumi Serpong Damai (BSD) City. Dimulai sejak 1989, proyek ini mengubah lahan luas di Tangerang Selatan menjadi sebuah kota mandiri yang lengkap dengan fasilitas residensial, komersial, pendidikan, dan teknologi.

Usai wafat pada 2019, Sinar Mas Group dikelola oleh anak-anak dan cucunya dalam struktur yang terpisah namun terkoordinasi di bawah nama besar Sinar Mas. Sinar Mas Land sendiri melalui PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) terus menjadi salah satu pengembang properti terbesar, fokus pada pengembangan lanjutan BSD City, ekspansi ke kawasan baru, dan proyek properti high-end di Jakarta.

Mochtar Riady (Lippo Group)

Mochtar Riady merupakan salah satu arsitek utama di balik industri perbankan dan properti modern Indonesia yang dikenal luas sebagai pendiri Lippo Group. Visi dan ambisinya yang besar telah membentuk gurita bisnis Lippo yang kini merambah sektor properti, keuangan, ritel, kesehatan, hingga pendidikan.

Pria kelahiran Malang, 12 Mei 1929 ini memulai karir bisnisnya sebagai penjaga toko kecil di Jember dan penjual batik di masa muda. Mimpinya yang memang menjadi serang bankir sejak kecil membawanya mendapat julukan “The Magic Man of Bank Marketing”. Mengutip laman resmi Lippo Group, Mochtar kemudian memulai peruntungannya di Jakarta pada 1954 untuk menjalani mimpi besarnya terjun di dunia perbankan. Tiga Dekade Kemudian di tahun 1980-an dirinya telah mengubah lanskap perbankan dan meletakkan fondasi penting bagi Panin Bank, Lippo Bank, dan BCA yang saat ini menjadi bank swasta terbesar di Indonesia.

Sukses di Dunia perbankan, pada 1990 Mochtar Riady mulai merambah Bisnis realestate lewat pengembangan Lippo Karawaci. Proyek tersebut menjadi bukti visi besarnya dalam menciptakan kota mandiri (township) dengan fasilitas lengkap, termasuk perumahan, pusat bisnis, mal, dan rumah sakit (Siloam Hospitals).

Bisnis Lippo Group menghadapi ujian terberatnya saat Krisis Moneter 1997/1998 melanda Asia. Badai krisis menyebabkan rush besar-besaran terhadap Bank Lippo dan melumpuhkan sektor properti yang memiliki utang dolar besar. Saat limbung, pemerintah menginjeksi modal kerja sekitar Rp7 triliun untuk menyehatkan Bank Lippo. Sebagai ganti, Mochtar harus melepas kepemilikan saham mayoritas di perusahaan kesayangannya itu. Sebanyak 59% saham Bank Lippo jatuh ke tangan pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Mochtar Riady saat ini tidak lagi mengurus bisnis secara operasional harian. Estafet kepemimpinan telah diserahkan kepada generasi kedua dan ketiga, dengan James Riady (anak) dan John Riady (cucu) sebagai figur utama yang memimpin gurita bisnis Lippo.

Alexander Tedja (Pakuwon Group)

Alexander Tedja dikenal sebagai Raja Mal dari Surabaya, reputasi tersebut disematkan berkat keberhasilannya dalam memelopori dan mengembangkan konsep superblok yang merupakan area kawasan terpadu yang menggabungkan pusat perbelanjaan, hotel, kondominium, dan perkantoran sebagai model bisnis utama perusahaannya, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).

Menariknya, Alexander Tedja tidak memulai kariernya di bisnis properti. Dia mengawali kiprahnya sebagai pengusaha di sektor perfilman dan bioskop sejak tahun 1970-an. Rekam jejak awalnya mencakup pendirian beberapa perusahaan, seperti PT ISAE Film (1972) dan PT Menara Mitra Cinema Corp (1977), sebelum akhirnya beralih fokus bisnis.

Titik balik bisnisnya terjadi pada tahun 1982 ketika dia mulai merambah properti dengan mengakuisisi sebidang tanah di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya. Di atas lahan ini, pada 20 September 1982, PT Pakuwon Jati didirikan. Proyek properti pertamanya, Tunjungan Plaza I, diresmikan pada tahun 1986 dan tercatat sebagai pusat perbelanjaan modern pertama di Surabaya. Keberhasilan ini menjadi fondasi bagi proyek-proyek Tunjungan Plaza selanjutnya.

Langkah Alexander Tedja berikutnya adalah menjadi pelopor konsep superblok di Indonesia. Pengembangan Tunjungan City di Surabaya yang mengintegrasikan Tunjungan Plaza I hingga IV, Sheraton Surabaya Hotel & Tower, Menara Mandiri, dan Kondominium Regensi, menegaskan visi Pakuwon sebagai pengembang properti terpadu.

Dalam rangka mendorong ekspansi bisnis perusahaan, Pakuwon Jati mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Oktober 1989. Keputusan tersebut menjadikan PWON salah satu perusahaan properti pertama yang melantai di bursa.

Seperti konglomerasi properti lainnya, Pakuwon Jati turut dihantam oleh Krisis Moneter 1997/1998 yang menyebabkan utang luar negeri perusahaan membengkak dan menyebabkan kerugian pada 1998 hingga 2001. Akan tetapi, melalui restrukturisasi dan kepercayaan yang kuat, perusahaan berhasil melewati periode sulit tersebut dengan membalikkan kondisi bottom line kembali parkir di zona hijau pada 2002.

Pakuwon Jati Tbk. - TradingView

Pada 2007, Tedja melebarkan sayapnya ke ibu kota Jakarta. Langkah awal yang agresif adalah mengakuisisi mayoritas saham pengembang superblok Gandaria City. Ekspansi ini kemudian diikuti dengan pengembangan proyek-proyek ikonik yang mendominasi pasar properti Jakarta, seperti Kota Kasablanka di kawasan Central Business District (CBD) Kuningan. Adapun, hingga Kuartal III/2025 Pakuwon Jati tercatat memiliki total aset mencapai Rp36 triliun. Posisinya meningkat 2% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari posisinya sebelumnya Rp35,37 triliun.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan