Pasca-banjir, produksi sawit Aceh Singkil turun 30 persen

Pasca-banjir, produksi sawit Aceh Singkil turun 30 persen

Dampak Banjir pada Produksi Kelapa Sawit di Aceh Singkil

Banjir yang terjadi di Kabupaten Aceh Singkil pada akhir November 2025 lalu memberikan dampak signifikan terhadap produksi tanaman kelapa sawit. Kondisi ini terlihat dari penurunan produksi sebesar 25 hingga 30 persen per hektare dalam satu periode panen.

Penurunan produksi ini disebabkan oleh stres yang dialami tanaman sawit setelah berada dalam kondisi genangan air selama beberapa pekan. Bahkan, hingga saat ini, genangan air masih terlihat di beberapa wilayah, seperti Kecamatan Singkil dan Kecamatan Singkil Utara. Genangan tersebut menghambat aktivitas perkebunan petani dan turut memperparah penurunan produktivitas tanaman.

Selain kebun yang masih terendam banjir, kebun sawit yang telah mengering juga belum mampu pulih sepenuhnya. Produksi tetap rendah meskipun air banjir telah surut. Dalam dunia perkelapa sawitan, kondisi ini dikenal dengan istilah trek.

“Memang semua trek setelah banjir ini,” ujar Andi, seorang petani sawit di kawasan Singkil Utara.

Harga TBS Kelapa Sawit yang Stabil

Meski produksi menurun, harga TBS (Tandan Buah Segar) kelapa sawit tidak mengalami perubahan. Di tingkat petani, harga TBS mencapai Rp 2.400 per kilogram dengan catatan buah harus diantar ke pengepul. Sedangkan jika dijemput langsung oleh pengepul, harga menjadi Rp 2.350 per kilogram.

Pengepul tidak menerima buah sawit petani pada hari Kamis (25/12/2025). Hal ini disebabkan karena pabrik pengolahan minyak kelapa sawit sedang tutup libur Natal. Pengepul akan kembali membuka usaha pembelian sawit petani pada hari Sabtu (26/12/2025) besok.

Peran Kelapa Sawit dalam Ekonomi Masyarakat Aceh Singkil

Kelapa sawit merupakan komoditas utama bagi masyarakat Aceh Singkil. Lebih dari 70 persen penduduk di daerah ini bergantung pada sektor perkebunan ini untuk mencari penghidupan.

Diketahui bahwa luas perkebunan kelapa sawit yang dimiliki oleh perusahaan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) mencapai 44.483,12 Ha. Sementara itu, luas kebun sawit rakyat mencapai 31.351 Ha. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya kelapa sawit bagi ekonomi masyarakat setempat.

Tantangan Pasca-Banjir

Kondisi pasca-banjir yang masih terasa hingga saat ini menimbulkan berbagai tantangan bagi para petani. Selain produksi yang menurun, akses ke pasar juga terganggu. Pengepul yang tutup sementara membuat petani kesulitan menjual hasil panen mereka.

Namun, meski ada tantangan, masyarakat Aceh Singkil tetap berupaya untuk bangkit. Dengan dukungan dari pemerintah dan pelaku bisnis, diharapkan dapat segera pulih dan kembali meningkatkan produksi kelapa sawit.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan