
Duka di Jalur Lari Ekstrem Siksorogo Lawu Ultra
Karanganyar kembali berduka setelah dua peserta ajang lari ekstrem Siksorogo Lawu Ultra (SLU) 2025 meninggal dunia pada Minggu, 7 Desember 2025. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang komunitas pelari, tetapi juga memicu langkah-langkah evaluasi dari pihak terkait untuk memastikan keselamatan peserta dalam acara tahunan tersebut.
Wakil Bupati Menyoroti Pentingnya Evaluasi Keselamatan
Wakil Bupati Karanganyar, Adhe Eliana, yang turut serta dalam salah satu kategori lomba, menyampaikan bahwa SLU merupakan event positif bagi promosi pariwisata daerah. Namun, ia menilai musibah ini menunjukkan adanya titik-titik yang perlu diperbaiki, terutama pada jalur ekstrem dan kategori jarak jauh.
Adhe menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan, ketersediaan medis, dan kesiapsiagaan relawan. Ia mencontohkan, idealnya setiap 500 meter ada relawan atau personel keamanan agar penanganan darurat dapat dilakukan dengan cepat ketika peserta mengalami masalah kesehatan atau cedera.
Perlunya Pemeriksaan Kesehatan yang Lebih Ketat
Selain itu, Adhe juga menyebut syarat surat keterangan sehat dari peserta sudah baik, tetapi masih perlu diperketat. Ia menilai penting untuk memastikan kondisi fisik peserta benar-benar siap, terutama karena rute-rute tertentu membutuhkan stamina dan persiapan yang matang.
Ia juga menegaskan pentingnya edukasi mengenai mitigasi risiko, potensi cedera, hingga bahaya memaksakan diri sebelum lomba dimulai. Hal ini diharapkan bisa mencegah terjadinya insiden serupa di masa depan.
Pengalaman Wabup Saat Ikut Kategori 7K
Dalam kesempatan itu, Adhe menceritakan pengalamannya saat mengikuti kategori 7K. Rute pendek tersebut membawanya melewati pematang sawah dan tegalan di kaki Gunung Lawu. Ia mengaku, tidak langsung menyaksikan jalur 15K yang menelan korban jiwa. Namun setelah mendapat kabar duka, ia bersama jajaran Pemkab Karanganyar segera mengunjungi keluarga dua peserta yang meninggal: Pujo Buntoro, suami Kabag Perekonomian Setda Karanganyar, dan Sigit Joko Purnomo, pegawai Kemenparekraf.
Asuransi Peserta Masih Perlu Dipastikan
Terkait perlindungan asuransi bagi para pelari, Adhe menegaskan masih perlu dilakukan pengecekan lebih lanjut. Ia belum mendapatkan laporan lengkap dari panitia. “Informasinya akan kami telusuri lebih dulu,” jelasnya.
Masukan dari Peserta: Area Makan dan Dukungan Relawan
Selain komentar dari pemerintah daerah, sejumlah peserta juga memberi masukan. Salah satunya Niken Satyawati, pelari asal Solo. Ia menilai area makan sebenarnya sangat lengkap, namun kebersihan perlu ditingkatkan. “Pilihan makanannya luar biasa lengkap. Tapi karena ramai, meja cepat penuh. Sisa makanan juga menumpuk,” ujarnya.
Niken berharap, panitia menambah relawan kebersihan dan menyediakan lebih banyak terapis perempuan untuk peserta wanita. Meskipun ada dua tragedi di jalur lain, ia menegaskan tidak kapok mengikuti SLU. “Pemandangan di Mitis luar biasa. Dari situ bisa lihat Lawu jelas,” katanya.
Duka dan Doa dari Komunitas Pelari
Komunitas pelari dari berbagai daerah di Indonesia juga turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya dua peserta SLU 2025. Mereka berharap musibah ini menjadi pembelajaran untuk penyelenggaraan event outdoor yang lebih aman dan terstruktur, tanpa mengurangi semangat petualangan yang menjadi daya tarik utama lomba trail run.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar