Pedagang Kembang Api Kesepian, Rianto Berharap Laku di Malam Tahun Baru

Pemilik Toko Kembang Api Menghadapi Tantangan di Akhir Tahun

Rianto (42) sedang menata kardus-kardus kembang api di toko yang ia jaga di kawasan Semarang Barat. Tangannya bergerak lincah, tetapi matanya sesekali menyapu jalanan yang masih sepi pembeli. Di tengah imbauan pemerintah tentang dilarangnya pesta kembang api saat malam pergantian tahun, kabar tersebut sudah sampai ke telinga Rianto. Ia memahami bahwa hal ini bisa berdampak pada bisnisnya. Meski begitu, harapan Rianto tetap sama: ada banyak pembeli di akhir tahun.

“Biasanya, saat mendekati tahun baru, pembeli sudah mulai datang. Tapi kali ini masih seperti biasa. Mungkin ramainya nanti H-2 pergantian tahun,” ujarnya, Jumat (26/12/2025).

Di tahun-tahun sebelumnya, rombongan dari perusahaan swasta sering memborong kembang api. Namun, dengan adanya imbauan pemerintah dan larangan pesta kembang api dari Polda Jateng, Rianto memilih untuk pasrah sambil berharap ada yang tetap mampir.

Rianto sempat tersenyum ketika disinggung soal pembeli perorangan. Hal ini menjadi penyelamat harapan, terutama anak-anak yang matanya berbinar setiap melihat warna-warni petasan mini. Jenis kembang api yang ia jual sangat beragam. Ada yang harganya belasan ribu rupiah, ada pula yang premium, menyentuh Rp6,5 juta satu paket.

“Belum bisa prediksi sepi atau tidaknya. Harapannya ya tetap ramai. Rezeki sudah ada yang mengatur,” tuturnya.

Rianto tahu soal imbauan pemerintah agar pesta kembang api ditiadakan pada malam pergantian tahun. Baginya, itu mungkin berdampak. Namun, ia memilih tidak terlalu memikirkannya panjang-panjang.

“Keberatan atau tidak, saya sendiri tidak begitu pusing,” imbuhnya.

Tidak jauh dari sana, Santi Dewi (33) mengelus dada. Ia adalah pedagang musiman yang mengkulak kembang api sejak Oktober lalu. Beberapa barang ia datangkan dari luar Semarang, berjudi dengan keberuntungan yang biasanya datang setiap akhir tahun.

“Tidak bisa berbuat banyak ya. Sudah terlanjur kulakan. Ya berharap tetap ada yang beli,” jelasnya.

Musim Santi berjualan biasanya mendekati tahun baru, atau bahkan Idulfitri. Namun, pendapatan terbesar selalu ada di momen pergantian tahun. Ia tidak menyebutkan jumlah keuntungannya, namun pada momen tersebut, keuntungannya sudah cukup untuk ditabung. Bisa saja untuk persiapan anak sekolah, atau kebutuhan lain yang tidak bersifat wajib.

“Lumayan banget, kadang saya tabung buat bayar anak sekolah, atau tambahan beli perabot rumah,” jelas Santi.

Santi memahami bahwa kondisi ini bukanlah kesalahan siapa pun. Ia hanya berharap ada sedikit ruang di tengah kebijakan agar dagangannya masih bisa mengais untung, meski tipis.

“Ya kalau jualan, tentu berharap bisa laris seperti tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan