Pedagang TTS dan Kartu Pos Yogyakarta Tetap Laku di Kalangan Wisatawan


YOGYAKARTA, berita

Kehidupan Pedagang di Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta

Di tengah perubahan era digital yang semakin pesat, para pedagang teka-teki silang (TTS) dan kartu pos masih bertahan di kawasan Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta. Meskipun kondisi pasar mereka sepi dibanding masa lalu, kawasan ini tetap menjadi destinasi favorit bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta selalu ramai, baik siang maupun malam hari. Banyak wisatawan yang datang untuk mengabadikan momen liburan dengan mengunjungi bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda. Salah satu pedagang yang masih bertahan adalah Sumarni. Ia menjual buku, kalender, TTS, hingga kartu pos di kiosnya yang terletak di samping Kantor Pos Besar Yogyakarta dan dekat dengan gedung bank pelat merah.

Pada masa 90-an, kios Sumarni selalu ramai. Banyak orang mencari buku, TTS, dan kartu pos. Saat itu ia juga menjual kupon sayembara ketoprak. Dulu waktu Lebaran, kartu Lebaran masih laku. Dulu jualan prangko bisa 5 lembar habis, padahal satu lembar isinya 100 biji, kenangnya.

Namun, sejak tahun 2015, ketika era digital mulai menggeser kebiasaan masyarakat, dagangan Sumarni mulai sepi. Masyarakat lebih memilih menggunakan media digital daripada membaca buku atau membeli kartu pos. Hal ini memaksa para pedagang untuk mencari alternatif lain dalam berjualan.

Beradaptasi dengan Perubahan

Banyak rekan-rekannya kini beralih menjual makanan dan minuman. Ada yang jual sempol, dan camilan untuk kopi-kopi gitu, ujar Sumarni. Di kawasan Titik Nol Kilometer, kini hanya tersisa empat pedagang yang masih menjual buku, TTS, dan kartu pos, termasuk dirinya sendiri.

Meski jumlah pembeli menurun, Sumarni tetap setia menjalani usahanya. Ia juga menjual kopi selama lima tahun terakhir. Saya masih jualan benda pos, terus saya juga masih jualan kartu pos. Sama kopi, sudah lima tahunan, katanya.

Daya Tarik Wisatawan Asing

Meski tidak sepopuler dulu, kartu pos yang dijual Sumarni justru diminati oleh wisatawan asing. Kartu pos masih ada yang beli, turis-turis itu, ujarnya. Selain itu, kalender juga masih menjadi incaran, terutama kalender yang mencantumkan hari pasaran Jawa. Masih ada, kalau kalender masih laku keras, tambahnya.

Meski omzet penjualan menurun, Sumarni tetap bersyukur. Alhamdulillah masih ngebul dapurnya. Untuk biaya anak sekolah, Alhamdulillah, ucapnya.

Keberlanjutan Usaha

Sumarni percaya bahwa meski usaha ini tidak lagi sebesar dulu, namun ia akan tetap menjalankannya selama masih ada permintaan. Selama dapur masih ngebul, saya akan tetap telaten berjualan, tutupnya.

Keberadaan kios-kios seperti milik Sumarni menjadi bagian dari warisan budaya yang masih hidup di tengah modernisasi. Meski banyak perubahan, mereka tetap menjadi bagian dari sejarah dan daya tarik kota Yogyakarta.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan