Pelajaran Berharga dari Siklon Tropis: Mitigasi Bencana Perlu Diperkuat

Korban Tewas dan Hilang Akibat Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera

Hingga Rabu (3/12/2025) pagi, jumlah korban tewas akibat bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh mencapai 753 jiwa. Sementara itu, sebanyak 650 orang lainnya masih hilang. Meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan peringatan dini sejak delapan hari sebelum bencana terjadi, banyak korban tetap terkena dampak buruk dari bencana ini.

Menurut BMKG, bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatera disebabkan oleh cuaca ekstrem yang diakibatkan oleh siklon tropis. Namun, siklon tropis tidak biasa terjadi di Indonesia, sehingga pemerintah kurang siap menghadapi kondisi cuaca ekstrem tersebut. Dari peristiwa ini, muncul pelajaran penting tentang kebutuhan untuk memperkuat mitigasi bencana di Indonesia.

Dorongan DPR untuk Penguatan Mitigasi Bencana

Ketua Komisi V DPR Lasarus menyatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang sering mengalami bencana. Oleh karena itu, pemerintah didesak untuk memperkuat kemampuan deteksi dini dan respons di lapangan dalam menghadapi bencana. Penguatan deteksi dini meliputi peningkatan infrastruktur, alat, serta kompetensi sumber daya manusia dalam penanggulangan bencana.

"Indonesia ini dikepung bencana, baik tanah longsor, banjir bandang, gempa, tsunami, dan seterusnya. Ini memerlukan kesiapan kita dengan sarana-prasarana yang memadai," ujar Lasarus dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan BMKG dan Basarnas.

Ia mencontohkan cuaca ekstrem yang menjadi pemicu bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Menurutnya, bencana yang terjadi menunjukkan pentingnya peningkatan teknologi deteksi dini di Indonesia. Selain infrastruktur dan peralatan mitigasi, peningkatan kompetensi petugas juga sangat krusial dalam proses penanganan bencana di lapangan.

Salah satu contohnya adalah evakuasi yang membutuhkan petugas terlatih. Setiap detik dalam proses evakuasi sangat berharga. "Golden time ini hanya bisa ditangani oleh orang-orang terampil, orang-orang terlatih dan orang-orang yang mengerti bagaimana cara menyelamatkan orang dalam situasi bencana. Niatnya menolong, kalau ditangani dengan cara salah bisa fatal akibatnya. Ini juga kenapa pelatihan SAR kita pandang perlu," ujar Lasarus.

Peran Sistem Deteksi Dini dan Mitigasi Bencana

Larasus juga menyadari bahwa faktor geografis dan pola permukiman masyarakat di Indonesia membuat bencana tidak bisa dihindari sepenuhnya. Namun dengan diperkuatnya sistem peringatan dini, ia yakin jumlah korban maupun kerugian yang besar dapat dihindari.

"Namanya penanggulangan ini, harusnya bukan hanya menanggulangi setelah terjadi bencana. Harusnya juga teman-teman di sana bekerja, melakukan pekerjaan bagaimana supaya bencana itu tidak terjadi di lokasi itu," ujar Lasarus.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Komisi V Ridwan Bae yang menekankan pentingnya sistem deteksi dini dan mitigasi bencana. "Jika ada kekurangan alat atau sistem, agar segera kementerian terkait menyampaikannya kepada Presiden," ujar Ridwan.

Indonesia Tidak Siap Menghadapi Siklon Tropis

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan mengapa bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh menimbulkan banyak korban, meskipun BMKG sudah memberi peringatan dini sejak 8 hari sebelumnya.

Teuku menjelaskan, Indonesia sejak awal tidak merasa rawan terhadap siklon tropis. Menurutnya, siklon tropis biasa terjadi di negara lain seperti Filipina, Jepang, Hong Kong, dan Taiwan. Sehingga, negara-negara tersebut lebih siap menghadapi bencana yang datang.

"Mengapa kesiapsiagaannya masih belum optimal? Ini karena begini. Sejak dari kita tumbuh, bahwa kita tidak merasa bahwa Indonesia ini adalah daerah yang rawan terhadap siklon. Itu biasanya terjadi di daerah-daerah di atas 5 derajat Lintang Utara atau 5 derajat Lintang Selatan. Jadi daerah seperti Jepang, Taiwan, Filipina, Hongkong itu daerah siklon," ujar Teuku Faisal di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (2/12/2025).

BMKG Sudah Berikan Peringatan Dini

Teuku mengatakan, BMKG sudah memberi peringatan dini mengenai cuaca ekstrem di Sumut sejak delapan hari sebelum bencana terjadi. Untuk kawasan Aceh dan Sumbar, BMKG sudah memberi peringatan sejak 4 hari sebelum bencana.

"Berikut kami sampaikan analisis dari BMKG terkait dengan cuaca terkini di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam rentang waktu 27 November hingga 4 Desember 2025," ujar Teuku, Senin.

"Ini kami sampaikan bahwa untuk daerah Aceh dan Sumatera Barat, BMKG telah menerbitkan press release untuk potensi bencana siklon atau cuaca ekstrem di Aceh dan Sumatera Barat. Ini 4 hari sebelum bencana. Untuk Sumatera Utara, press release-nya telah diterbitkan 8 hari sebelum bencana terjadi," sambungnya.

Teuku menyampaikan, BMKG pusat telah memberi wewenang kepada Kepala Balai Besar BMKG Wilayah I yang membawahi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau untuk menyampaikan peringatan dini. Menurutnya, ketika peringatan disampaikan, sejumlah kepala daerah memberikan respons positif.

"Ini adalah peringatannya. Beberapa kepala daerah itu langsung memberikan respons positif dengan mengingatkan warganya melalui berbagai kanal. Ini kita sampaikan ke Forkopimda, provinsi, BPBD, semua kami sampaikan. Dan ini terus di-update setiap 2 hari bahwa akan terjadi cuaca ekstrem pada tiga wilayah ini," imbuh Teuku.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan