Pelaku bom Depok Dapat Alamat 10 Sekolah via ChatGPT

Pelaku Teror Bom di Depok Menggunakan ChatGPT untuk Memilih Sekolah

Seorang pelaku teror bom di Depok, HRR (23 tahun), diketahui menggunakan layanan artificial intelligence (AI) untuk menentukan target serangannya. Dalam kasus ini, ia memperoleh alamat email sekolah melalui ChatGPT, sebuah platform AI yang populer saat ini.

Menurut Kompol Made Gede Oka, Kasat Reskrim Polres Metro Depok, HRR memilih sekolah secara acak dengan bantuan AI. Ia mencari informasi melalui Google GPT dan menerima alamat email tersebut secara tidak sengaja. Hal ini menjadi salah satu faktor yang memicu tindakan pelaku.

Setelah mendapatkan alamat email, HRR membuat akun email baru atas nama mantan kekasihnya, K, lalu mengirimkan ancaman bom ke sekolah tersebut. Motif dari tindakan ini adalah untuk mendapatkan perhatian K setelah hubungan mereka putus sejak 2022 lalu.

“Faktanya memang bahwa kita bisa memastikan bahwa H yang memang mengirimkan email tersebut,” ujar Oka kepada wartawan pada Jumat (26/12/2025).

Latar Belakang Kekecewaan Pelaku

Berdasarkan pengakuan HRR, ia merasa kesal karena lamarannya ditolak oleh K dan keluarganya. Kekecewaan ini kemudian berkembang menjadi tindakan yang tidak terkendali. Pada tahun 2022, HRR mulai diteror melalui akun palsu di media sosial. Ia juga menerima banyak pesan fiktif dari pelaku ke rumahnya.

Selain itu, HRR juga mengirimkan surat pengunduran diri ke kampus K dengan alasan telah melakukan tindak pidana asusila. Tindakan ini menunjukkan bagaimana kekecewaan yang dialami oleh pelaku berubah menjadi tindakan yang sangat ekstrem.

Tindakan Hukum yang Dihadapi Pelaku

Atas perbuatannya, HRR dijerat dengan beberapa pasal dalam hukum Indonesia. Ia terkena Pasal 45B jo Pasal 29 Undang-Undang ITE, Pasal 335 KUHP, dan Pasal 336 ayat 2 KUHP. Ancaman hukuman maksimal yang dapat diterima oleh pelaku adalah 5 tahun penjara, serta denda sebesar Rp750.000.

Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya penggunaan teknologi seperti AI dalam kehidupan sehari-hari, namun juga menyoroti risiko yang muncul jika teknologi tersebut digunakan secara tidak bertanggung jawab.

Kesimpulan

Kasus teror bom di Depok ini menjadi peringatan bagi masyarakat tentang bahaya penggunaan teknologi untuk tujuan negatif. Meskipun AI memiliki potensi besar dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan dan komunikasi, penggunaannya harus disertai dengan kesadaran akan konsekuensi hukum dan etika.

Pelaku HRR, dengan tindakannya, menunjukkan bagaimana perasaan kecewa dan marah dapat membawa seseorang ke jalur yang sangat berbahaya. Ini juga menggarisbawahi pentingnya pengawasan dan edukasi terhadap penggunaan teknologi modern, terutama di kalangan remaja.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan