PELNI Tinggalkan Larantuka, Pemda Flores Timur Dianggap Gagal Mendukung

PELNI Tinggalkan Larantuka, Pemda Flores Timur Dianggap Gagal Mendukung

Perpindahan Kantor Cabang PELNI dari Larantuka ke Lewoleba

Pemindahan kantor cabang PELNI dari Larantuka, Flores Timur, ke Lewoleba, Kabupaten Lembata, telah resmi dilakukan. Keputusan ini diambil setelah perusahaan pelayaran milik negara tersebut menilai bahwa dukungan yang diberikan oleh pemerintah daerah di Lembata lebih memadai dibandingkan yang selama ini diterima di Larantuka.

Menurut laporan sebelumnya, PELNI telah beroperasi di Larantuka selama bertahun-tahun. Namun, keberadaannya di sana dinilai tidak memperoleh dukungan optimal dari pemerintah setempat, terutama dalam hal "penyediaan lahan hibah dan bentuk kerja sama lainnya". Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Lembata menawarkan fasilitas yang lebih lengkap, termasuk tanah hibah untuk pembangunan kantor baru dan rencana pembangunan PELNI Mart yang menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Kepala Cabang PELNI Larantuka, Yulianto, menjelaskan bahwa saat ini layanan PELNI di Lewoleba masih berstatus sebagai kantor subcabang atau Terminal Point (Terpo). Penetapan resmi sebagai kantor cabang masih menunggu surat keputusan dari kantor pusat.

Jika SK sudah keluar, kantor di Larantuka akan turun status menjadi kantor unit, ujarnya saat dihubungi PR NTT, Jumat 12 Desember 2025.

Menurut Yulianto, jika kantor cabang resmi beroperasi di Lembata, layanan pelayaran di wilayah tersebut akan semakin kuat. Ia menjelaskan bahwa kantor cabang memiliki kewenangan penuh untuk mengatur operasional pelayaran, mulai dari pelayanan tiket, logistik, hingga koordinasi dengan pemerintah daerah. Perubahan status itu juga memindahkan pusat kendali operasional yang sebelumnya berada di Larantuka.

Ia juga menilai perpindahan ini akan berdampak pada pergerakan ekonomi. Data PELNI menunjukkan bahwa Lembata saat ini disinggahi enam kapal penumpang setiap pekan, yaitu KM Bukit Siguntang, Sirimau, Sanus 108, Tidar, Kendhaga Nusantara 7, dan Gandha Nusantara 14. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan Larantuka yang hanya dilayani empat kapal, yakni KM Lambelu, Tidar, Kendhaga Nusantara 7, dan Gandha Nusantara 14.

Meski pelayanan ke wilayah Flores Timur tetap berjalan, Yulianto menyayangkan penurunan status Larantuka menjadi kantor unit karena kewenangannya menjadi terbatas. Ia mengatakan, kantor unit hanya menangani pelayanan teknis seperti penjualan tiket dan pelayanan penumpang, tanpa memiliki kewenangan strategis dalam pengambilan keputusan operasional.

Menurutnya, keberadaan kantor cabang biasanya membuka peluang penambahan armada dan peningkatan frekuensi pelayaran, yang pada akhirnya memperkuat aktivitas ekonomi dan arus logistik di daerah. Dengan perpindahan pusat pelayanan ini, Larantuka akan kehilangan peran strategis yang telah lama dipegang, sementara Lewoleba bersiap menjadi pusat pelayaran baru di wilayah timur Flores.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan