Pemain Muda MU Sering Kekacauan, Nani Ingat Keperkasaan Sir Alex Ferguson

Kritik Terhadap Pemain Muda Manchester United

Mantan pemain Manchester United, Luis Nani, memberikan pernyataan terkait masalah yang sedang dihadapi oleh pelatih klub, Ruben Amorim, dengan para pemain muda saat ini. Sebelum pertandingan Liga Inggris antara Manchester United melawan Aston Villa, Amorim menyebut bahwa para pemain muda klub memiliki sikap "sombong". Pernyataan tersebut dilatarbelakangi oleh pertanyaan mengapa ia tidak mempercayai pemain muda untuk tampil lebih sering.

Amorim menilai bahwa ada sikap tertentu yang perlu diperbaiki sebelum pemain muda diberi kesempatan bermain lebih banyak. Ia menyatakan, "Terkadang kata-kata keras bukanlah kata-kata buruk." Ia juga menegaskan bahwa tim tidak tampil seperti yang seharusnya di lapangan, tetapi di luar lapangan, ia tidak mengecewakan klub. Menurutnya, para pemain lupa arti pentingnya bermain untuk Manchester United.

Isu ketidakharmonisan antara Amorim dan para pemain muda MU semakin mengemuka, termasuk Chido Obi yang disebut menyindir pelatih asal Portugal itu melalui media sosial. Selain itu, Kobbie Mainoo mulai tersisih dari skuad utama MU. Bahkan, saudaranya membela Mainoo dengan mengenakan kaos bertuliskan "Free Kobbie Mainoo" saat laga MU melawan Bournemouth pada 15 Desember lalu di Old Trafford.

Perbandingan Era Ferguson di Man United

Nani merespons situasi ini dengan mengingat pengalamannya saat masih membela klub. Ia menyatakan bahwa situasi serupa tidak akan terjadi jika MU masih ditangani oleh Sir Alex Ferguson. Menurut Nani, Ferguson dikenal tegas dalam menjaga keteraturan ruang ganti Man United. Metode ini membuat setiap pemain memahami batasan dan tanggung jawab sebagai bagian dari klub.

Ia menyebut bahwa pemain akademi saat ini berada dalam kondisi berbeda dibandingkan era sebelumnya. Dalam wawancara yang dikutip Daily Mail, Nani menjawab apakah pemain muda MU saat ini akan lolos dari konsekuensi akibat perilaku mereka di era Ferguson. Ia menyatakan, "Tidak mungkin, tidak ada peluang sama sekali. Jika seseorang membutuhkannya, dia akan menempatkan pemain tersebut di luar lapangan untuk satu pertandingan, dan biasanya mereka akan langsung belajar. Jika Anda bermasalah karena perilaku buruk apa pun, Anda hanya akan bermain lagi setelah berganti seragam."

Pengalaman Pribadi Nani di Bawah Ferguson

Nani juga membagikan kisah pribadinya selama bermain di Man United pada periode 2007 hingga 2015. Ia mengakui pernah merasakan keputusan tegas Ferguson ketika dinilai perlu melakukan pembenahan sikap. "Anda perlu menerima aturan dan kemudian Anda perlu mengikuti aturan tersebut. Bagi kami pada waktu itu, itulah kuncinya. Tidak ada yang lebih besar dari klub. Tidak ada pemain, bukan Ronaldo, bukan Rooney, bukan Giggs, tidak ada seorang pun. Jika perilaku Anda tidak cukup baik, Anda akan dihukum," jelas Nani.

"Itu sebenarnya terjadi pada saya selama salah satu minggu pertama saya. Saya memainkan satu pertandingan fantastis dan kemudian saya tidak bermain selama beberapa minggu." Ia mengeluh kepada Cristiano Ronaldo, mengatakan, "Hei, saya tidak tahu mengapa saya tidak bermain." Ia tahu ada sesuatu di balik layar yang ingin mereka perbaiki, dan kemudian ketika mengetahui apa itu, ia mengatasinya dan bekerja keras.

Para pemain saat ini membutuhkan sesuatu yang serupa; disiplin dan aturan. Selama membela MU, Nani meraih 12 trofi, termasuk empat gelar Liga Inggris. Ia menilai pendekatan melatih Ferguson telah membentuk budaya tim yang kuat di Manchester United sepanjang 26 tahun Fergie melatih klub berjuluk Setan Merah tersebut.

Ferguson meraih banyak kesuksesan bersama MU sebagai pelatih. Ia mempersembahkan 13 gelar liga, dua gelar Liga Champions, hingga lima trofi FA Cup.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan