
Harga Telur di Pasar Mandalika Bertais Masih Tinggi
Harga telur di Pasar Mandalika Bertais masih bertahan di level tinggi meskipun memasuki awal tahun 2026. Berdasarkan pantauan lapangan, harga telur merah tercatat sebesar Rp50.000 per tray sejak September 2025 lalu. Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak hanya terjadi pada satu jenis telur saja, tetapi juga pada berbagai jenis lainnya.
Perkembangan Harga Telur
Menurut informasi dari salah seorang pedagang telur di pasar tersebut, Marcel, harga telur tidak pernah turun selama beberapa bulan terakhir. Ia menyebutkan bahwa harga telur merah berkisar antara Rp50.000 hingga Rp60.000 per tray. Sementara itu, telur putih kini mencapai harga Rp60.000 per tray, sedangkan telur puyuh dijual dengan harga Rp35.000 per tray. Untuk telur asin, harga yang ditawarkan saat ini adalah Rp2.500 per butir.
Dampak Kenaikan Harga Pakan Ternak
Kenaikan harga telur ini disebabkan oleh kenaikan biaya produksi, khususnya harga pakan ternak. Hal ini diungkapkan oleh Farida, pengusaha telur yang juga memiliki usaha ternak ayam petelur di Bertais. Menurutnya, kenaikan harga pakan membuat margin keuntungan para peternak semakin menipis.
Meskipun permintaan telur meningkat akibat adanya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan ini tidak berdampak signifikan terhadap keuntungan para peternak. Farida menjelaskan bahwa meski permintaan tinggi, biaya produksi yang juga meningkat membuat keuntungan tidak bertambah.
Kondisi Produksi dan Pasokan
Farida mengatakan bahwa stok harian yang ia pasok ke pasar mencapai 18 ikat tray. Stok ini berasal dari populasi ayam petelur sebanyak 10.000 ekor. Namun, kondisi ekonomi yang sulit membuat para peternak kesulitan dalam menjaga keuntungan.
“Walaupun ada permintaan yang banyak dari MBG ini, tapi tidak berpengaruh besar karena memang harga telurnya mahal, tapi biaya pakan dan lainnya juga mahal. Sama saja dengan bulan-bulan sebelum naiknya harga telur,” ujarnya.
Aktivitas Pasar yang Lesu
Selain masalah produksi, aktivitas pasar di Pasar Mandalika Bertais juga mengalami penurunan. Kondisi ini dipicu oleh jeda atau libur pada program MBG. Meski program tersebut sedang tidak berjalan, hal ini dilaporkan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap stabilitas harga di tingkat pedagang maupun stok yang tersedia.
Tantangan yang Dihadapi Pedagang
Para pedagang kini menghadapi dilema karena aktivitas pasar yang lesu. Meskipun harga telur tinggi, permintaan yang tidak stabil membuat mereka kesulitan dalam menjual produknya. Beberapa pedagang mengaku bahwa situasi ini memengaruhi omzet mereka secara signifikan.
Kesimpulan
Harga telur di Pasar Mandalika Bertais masih tinggi meskipun memasuki awal tahun 2026. Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh kenaikan biaya produksi, khususnya harga pakan ternak. Meskipun permintaan meningkat, keuntungan yang diperoleh para peternak tidak sebanding dengan biaya produksi yang semakin tinggi. Selain itu, aktivitas pasar yang lesu juga menjadi tantangan bagi para pedagang dalam menjual produknya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar