Pembangunan Huntara di Aceh Harus Berkelanjutan, Bukan Hanya Hunian Darurat


nurulamin.pro.CO.ID - JAKARTA.

Harapan Akademisi Aceh terhadap Pembangunan Hunian Sementara

Seorang akademisi dari Universitas Esa Unggul, Iswadi, menyampaikan harapan bahwa pembangunan hunian sementara (Huntara) oleh Danantara bagi korban banjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, harus dilakukan secara berkelanjutan dan benar-benar berorientasi pada kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Menurut Iswadi, pembangunan ribuan Huntara tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung sementara, tetapi juga menjadi bagian penting dari proses pemulihan fisik, sosial, dan psikologis warga. Karena itu, ia menilai proyek kemanusiaan ini perlu dirancang dengan pendekatan jangka menengah hingga panjang.

“Saya berharap pembangunan ini terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pembangunan Huntara harus disertai perencanaan yang jelas menuju hunian tetap bagi para penyintas bencana. Selain itu, Iswadi berharap kerja-kerja kemanusiaan yang dilakukan Danantara dapat memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas masyarakat dalam membangun kembali Aceh.

Iswadi juga meminta agar pembangunan Huntara mengacu pada standar yang pernah diterapkan saat penanganan bencana tsunami Aceh pada 2004. Standar tersebut dinilai telah terbukti memenuhi aspek keamanan, kelayakan huni, keberlanjutan lingkungan, serta kebutuhan sosial warga terdampak.

“Dengan menerapkan standar yang telah teruji, hunian sementara diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal darurat, tetapi juga mampu mendukung proses pemulihan yang lebih baik dan bermartabat,” ujarnya.

Peran Hunian dalam Pemulihan Ekonomi Warga

Pandangan serupa disampaikan oleh Guru Besar Universitas sekaligus Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda, Umaimah Wahid. Ia menilai keberadaan hunian sangat krusial bagi masyarakat Aceh yang terdampak bencana, namun menekankan bahwa upaya pemulihan tidak boleh berhenti pada pembangunan Huntara semata.

Umaimah berharap pemerintah dan pihak terkait juga memberi perhatian serius pada pemulihan sektor ekonomi masyarakat. Pasalnya, banyak sumber mata pencaharian warga yang hilang akibat bencana.

“Salah satu yang hilang adalah sawah. Lahan mata pencaharian tertutup lumpur,” kata Umaimah.

Peninjauan Presiden dan Progres Pembangunan Huntara

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto pada 1 Januari 2026 meninjau langsung proses pembangunan Huntara oleh Danantara di Aceh Tamiang. Proyek kemanusiaan tersebut telah dikerjakan sejak 24 Desember 2025 dan menunjukkan perkembangan signifikan dalam waktu kurang dari dua pekan.

Danantara berencana menyerahkan 600 unit Huntara kepada pemerintah daerah pada 8 Januari 2026 untuk kemudian disalurkan kepada warga terdampak. Secara keseluruhan, Danantara menargetkan pembangunan 15.000 unit Huntara dalam waktu tiga bulan ke depan dengan memastikan seluruh bangunan memenuhi standar kelayakan huni.

Sinergi Lintas BUMN dalam Proyek Kemanusiaan

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan capaian proyek kemanusiaan tersebut tidak lepas dari sinergi lintas BUMN dan berbagai pihak terkait.

Menurut Rosan, proyek ini menjadi wujud komitmen bersama untuk mempercepat pemulihan Aceh pascabencana. “BUMN bergerak cepat dan bekerja di lapangan dalam kondisi yang tidak mudah untuk memastikan masyarakat segera mendapatkan hunian yang layak,” ujarnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan