Pembangunan Jaringan Listrik Pulau Hanaut Kotim Dipercepat, Selesai Tengah 2026

Pembangunan Jaringan Listrik Pulau Hanaut Kotim Dipercepat, Selesai Tengah 2026

Persoalan Listrik di Pulau Hanaut Mulai Menemukan Solusi

Masalah pasokan listrik yang selama ini mengganggu kehidupan masyarakat di Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. PT PLN telah menetapkan target untuk menyelesaikan penguatan jaringan listrik di wilayah tersebut pada pertengahan 2026 mendatang. Salah satu langkah utama yang akan dilakukan adalah pembangunan tower baru di wilayah Bagendang.

Pembangunan Tower Baru sebagai Solusi Utama

Camat Pulau Hanaut, Fahrujiansyah, menjelaskan bahwa proyek penguatan jaringan listrik akan melibatkan pembangunan tower dari arah Bagendang. Proyek ini bertujuan untuk menggantikan jaringan lama yang berasal dari arah Seranau, yang sering kali menyebabkan gangguan pasokan listrik.

“PLN menyampaikan targetnya pertengahan 2026 sudah selesai. Bahkan kalau pembangunan tower sudah mulai, sekitar tiga bulan pengerjaannya bisa rampung. Ini tentu kabar yang sangat melegakan bagi masyarakat Pulau Hanaut,” ujar Fahrujiansyah.

Pembangunan tower baru ini diharapkan dapat memberikan pasokan listrik yang lebih stabil dan berkelanjutan. Dengan adanya jaringan baru, pasokan listrik tidak lagi bergantung pada jaringan lama dari Seranau. Nantinya, jaringan akan disambungkan hingga Desa Hantipan, Mendawai, dan wilayah Katingan.

Masalah yang Selama Ini Menghambat Masyarakat

Sebelum adanya penguatan jaringan, masyarakat Pulau Hanaut sering mengeluhkan gangguan listrik yang tidak hanya terjadi dalam waktu singkat, tetapi juga bisa berlangsung hingga berminggu-minggu. Fahrujiansyah menjelaskan bahwa pemadaman bisa mencapai 21 hari dalam beberapa kejadian.

“Kalau padam, kadang sampai 21 hari. Petugas kesulitan menemukan titik gangguan, terutama saat cuaca buruk, angin kencang, atau ada pohon tumbang,” katanya.

Selain itu, rendahnya tegangan listrik juga menjadi masalah besar. Voltase yang hanya berkisar antara 160–165 volt menyebabkan peralatan elektronik seperti AC dan kulkas tidak berfungsi dengan optimal.

“AC tidak dingin, kulkas sering mati mendadak. Ini jelas sangat mengganggu aktivitas dan kenyamanan warga,” ungkapnya.

Isolasi Wilayah dan Tantangan Akses

Fahrujiansyah menilai bahwa jaringan lama sudah tidak relevan lagi untuk jarak sejauh Pulau Hanaut. Oleh karena itu, pembangunan tower baru dinilai sebagai solusi yang lebih efektif.

Selain penguatan jaringan utama, pihak kecamatan juga terus berupaya agar wilayah-wilayah yang belum teraliri listrik bisa segera mendapatkan akses. Beberapa daerah yang masih membutuhkan listrik antara lain Dusun Andi Londo, Dusun Gerombol, Desa Bantian, dan Handil Mawar.

“Pulau Hanaut ini sudah terisolasi secara akses jalan. Jangan sampai listrik juga tidak bisa dinikmati masyarakat. Indonesia sudah 80 tahun merdeka, dan kami akan terus memperjuangkan hal ini dengan dukungan anggota DPRD Dapil III,” tegasnya.

Dampak pada Pelayanan Publik

Lemahnya pasokan listrik juga berdampak pada pelayanan publik. Salah satunya adalah rencana pemasangan mesin ATM Bank Kalteng di kantor Kecamatan Pulau Hanaut. Sampai saat ini, rencana tersebut belum bisa direalisasikan karena pasokan listrik belum stabil.

“Bank Kalteng sebenarnya sudah siap memasang ATM. Namun perangkat mereka membutuhkan listrik yang stabil. Kalau tower sudah selesai dan jaringan normal, insyaallah ATM bisa segera terpasang,” pungkasnya.

Harapan Masyarakat

Dengan adanya penguatan jaringan listrik dan pembangunan tower baru, masyarakat Pulau Hanaut berharap dapat memiliki akses listrik yang lebih baik. Diharapkan, kestabilan pasokan listrik akan membantu meningkatkan kualitas hidup serta memfasilitasi layanan publik di wilayah tersebut.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan