
Bali Menghadapi Risiko Hujan Ekstrem Selama Natal dan Tahun Baru
Bali kini berada dalam wilayah risiko tinggi terhadap hujan ekstrem, terutama selama perayaan Natal dan Tahun Baru. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kondisi lingkungan setelah bencana banjir yang terjadi di Bali pada September 2025 lalu. Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali telah melakukan update terkait kegiatan normalisasi pasca-bencana tersebut.
Kepala DKLH Provinsi Bali, I Made Rentin, menjelaskan bahwa program Gotong Royong Semesta Berencana yang digagas oleh Gubernur Bali telah memasuki fase kedua. Pada fase pertama, sebanyak 35 ribu personil terlibat dalam penanaman pohon secara serentak. Namun, pada fase kedua, jumlah personil mungkin berkurang karena adanya perayaan Umanis Kuningan dan kegiatan serupa yang dilakukan oleh kabupaten/kota.
“Gubernur Bali memesankan agar program ini terus dilakukan secara konsisten, baik dalam penanaman pohon maupun kebersihan lingkungan,” ujar Rentin. Ia menambahkan bahwa program ini akan terus berjalan setiap bulannya.
Pada tahap pertama dan kedua, kegiatan masih dilakukan di Kabupaten Badung, yaitu di Desa Bongkasa Pertiwi dan kawasan Teluk Benoa, dengan penanaman lebih dari 2 ribu mangrove. Ke depan, Rentin berharap kabupaten lain siap menjadi tuan rumah untuk agenda serupa.
Saat ini, cakupan hutan di Bali mencapai 23,27 persen, jauh dari target ideal sebesar 30 persen. Gubernur Bali memiliki ekspektasi yang cukup terukur, yakni ingin cakupan lahan dan hutan di Bali mendekati atau bahkan melampaui angka 30 persen sebelum tahun 2027.
Pokli Gubernur bidang penyelamatan ekosistem danau, pantai, mata air, dan pegunungan telah memetakan hampir seluruh kabupaten/kota untuk menentukan area kosong yang perlu diberikan intervensi melalui penanaman pohon. Saat ini, ketersediaan bibit menjadi atensi utama. DKLH Bali bekerja sama dengan berbagai balai di bawah Kementerian Kehutanan untuk memastikan pemerataan bibit pohon di seluruh wilayah Bali.
- Berbagai jenis bibit seperti mangrove, pohon buah, tanaman hias, dan pohon kayu akan digunakan dalam program ini. Pohon kayu dimaknai sebagai pohon yang berada di kawasan hutan. Kolaborasi ini diharapkan bisa menyelesaikan 7,1 persen area yang belum tercover sebelum tahun 2027.
Upaya Normalisasi Tumpukan Sedimentasi
Selain itu, DKLH Bali juga bekerja sama dengan Dinas PUPR Provinsi Bali dan Balai Wilayah Sungai Bali Penida untuk melakukan normalisasi tumpukan dan endapan sedimentasi. Proses ini dilakukan secara konsisten dan terus-menerus hingga saat ini. Personil dibagi sesuai lokasi kerja untuk melakukan upaya pengerukan sedimentasi yang disinyalir sudah cukup tinggi.
- Tim ini berharap dalam beberapa bulan ke depan, PUPR Provinsi Bali, balai di bawah Kementerian PU, serta Kementerian Kehutanan dapat bersinergi untuk melakukan pengerukan sedimentasi di beberapa areal sungai di Bali.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar