
nurulamin.pro.CO.ID – JAKARTA.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Bea Cukai) terus melakukan berbagai langkah perbaikan internal guna meningkatkan kualitas kinerja, baik dalam sektor pengawasan maupun penerimaan negara. Salah satu fokus utama yang diperkuat adalah pembinaan dan penegakan disiplin terhadap sumber daya manusia (SDM).
Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai, Nirwala Dwi Heryanto, menyampaikan bahwa selama tahun 2024, Bea Cukai telah memberhentikan sebanyak 27 pegawai yang terbukti melakukan tindakan fraud serta pelanggaran disiplin berat. Sementara itu, pada tahun 2025, proses penjatuhan hukuman sedang berlangsung terhadap 33 pegawai yang terindikasi melakukan pelanggaran serupa.
“Kami berkomitmen untuk menindaklanjuti secara tegas setiap pelanggaran disiplin, sebagai bagian dari penguatan kualitas dan integritas SDM Bea Cukai,” ujar Nirwala di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Sejumlah langkah signifikan dilakukan oleh Bea Cukai dalam upaya membenahi citra lembaga tersebut. Hal ini terkait dengan instruksi langsung dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan tenggat waktu satu tahun kepada dirinya untuk membenahi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
Jika tidak ada perbaikan signifikan, DJBC terancam dibekukan dan sekitar 16.000 pegawainya akan dirumahkan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap citra buruk yang melekat pada lembaga tersebut dalam jangka panjang, baik di mata publik maupun pemerintah.
“Kita akan bereskan Bea Cukai. Saya sudah minta waktu ke Presiden satu tahun untuk enggak diganggu dulu, beri waktu saya untuk memperbaiki Bea Cukai. Karena ancamannya serius,” ujar Purbaya kepada wartawan usai Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Kamis (27/11/2025).
Purbaya menegaskan bahwa reformasi DJBC harus dilakukan secara fundamental. Ia menyebut, jika perbaikan tidak menghasilkan kepuasan publik, pemerintah bisa saja mempertimbangkan langkah ekstrem, termasuk mengembalikan fungsi kepabeanan kepada lembaga swasta seperti SGS (Société Générale de Surveillance) seperti pada era sebelumnya, atau bahkan merumahkan seluruh pegawai Bea Cukai.
“Kalau Bea Cukai enggak bisa memperbaiki kinerjanya dan masyarakat masih enggak puas, Bea Cukai bisa dibekukan dan diganti dengan SGS seperti zaman dulu,” ungkap Purbaya.
Tantangan dan Upaya Perbaikan
Bea Cukai kini menghadapi tantangan besar dalam menjalankan tugasnya. Sejumlah isu korupsi dan pelanggaran disiplin yang muncul belakangan telah memicu ketidakpercayaan dari berbagai pihak. Untuk mengatasi hal ini, lembaga tersebut memperkuat sistem pengawasan internal dan memastikan transparansi dalam operasionalnya.
Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:
Penegakan disiplin terhadap pegawai yang melanggar aturan
Peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan pengembangan
Pembenahan sistem administrasi dan teknologi informasi
Kolaborasi dengan instansi terkait untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi
Selain itu, Bea Cukai juga aktif dalam membangun hubungan dengan masyarakat dan pelaku usaha, agar dapat memahami kebutuhan dan harapan mereka. Dengan demikian, lembaga ini berharap bisa kembali menjadi institusi yang diandalkan dan dipercaya.
Tantangan ke Depan
Meski beberapa langkah telah diambil, tantangan ke depan tetap besar. Bea Cukai perlu membuktikan bahwa perubahan yang dilakukan benar-benar mampu meningkatkan kinerja dan memenuhi ekspektasi publik.
Dalam beberapa bulan mendatang, lembaga ini akan terus memantau perkembangan dan mengevaluasi hasil perbaikan yang telah dilakukan. Jika tidak ada perbaikan yang signifikan, kemungkinan besar akan ada tindakan lebih lanjut yang diambil oleh pemerintah.
Dengan kesadaran akan tantangan yang dihadapi, Bea Cukai berkomitmen untuk terus berupaya memperbaiki diri dan menunjukkan komitmennya dalam menjalankan tugasnya dengan profesional dan transparan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar