
Penjelasan dari Ormas Madura Asli Mengenai Kasus Pembongkaran Rumah Nenek 80 Tahun
Ormas Madura Asli (Madas) menyampaikan pernyataan resmi mengenai kejadian pembongkaran paksa rumah yang menimpa nenek 80 tahun, Elina Wijayanti. Mereka secara tegas mengecam segala bentuk tindakan premanisme yang terjadi.
“Sebagai ketua umum DPP MADAS, saya sangat prihatin dengan kejadian ini. Kami juga mengecam tindakan-tindakan arogansi dan premanisme yang tidak bisa diterima,” ujar Moh Taufik saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (27/12/2025).
Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin tindakan semacam itu terjadi kepada siapa pun sebagai warga negara. Ia juga menyampaikan rasa dirugikan atas pemberitaan yang mengarah pada isu rasisme dari masyarakat.
“Saya merasa dirugikan oleh pemberitaan yang cenderung bias dan mengarah pada rasisme. Kami tidak pernah mendengar informasi atau rumor tentang pembongkaran rumah tersebut saat kejadian pada Agustus 2025,” tambahnya.
Moh Taufik mempertanyakan mengapa kasus ini baru diangkat sekarang, meskipun kejadian sudah berlangsung beberapa bulan lalu. Ia mengungkapkan bahwa informasi hanya didapat dari media.
“Saya baru mengetahui informasinya melalui media. Saya merasa ini tidak adil,” ujarnya.
Ia berharap proses penegakkan hukum dapat dilakukan secara adil antara kedua belah pihak. “Silakan lakukan upaya hukum sesuai dengan aturan, tetapi dengan prinsip keadilan,” tuturnya.
Tidak boleh ada tekanan dalam proses penyelidikan maupun penyidikan yang dilakukan oleh Polda Jawa Timur. “Jangan sampai framing ini membuat proses hukum menjadi tidak objektif,” imbuhnya.
Kronologi Kejadian Pengusiran dan Pembongkaran Rumah
Kejadian pengusiran dan pembongkaran rumah Elina Wijayanti terjadi pada 4 Agustus 2025. Saat itu, sekelompok orang dari sebuah ormas mengaku telah membeli rumah tersebut dari Samuel dan meminta seluruh keluarga untuk keluar.
Namun, pihak keluarga tidak pernah menjual rumah tersebut dan menolak permintaan tersebut. Pada 6 Agustus, sekelompok orang kembali masuk ke rumah Elina dan mengusirnya secara paksa.
Puncaknya, pada 9 Agustus 2025, rumah Elina dibongkar secara paksa menggunakan excavator atas perintah Samuel. Setelah pembongkaran, semua barang-barang seperti pakaian, peralatan dapur, kendaraan, hingga surat berharga hilang tanpa jejak.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar