
Insiden dan Kontroversi Mengiringi Pembukaan SEA Games 2025 di Thailand
Pesta olahraga Asia Tenggara (SEA Games) 2025 yang digelar di Bangkok, Thailand, dibuka dengan berbagai insiden dan kontroversi. Acara yang dijadwalkan berlangsung hingga 20 Desember ini menarik ribuan atlet dari 11 negara anggota ASEAN. Selain di Bangkok, beberapa pertandingan juga akan digelar di Provinsi Chonburi.
SEA Games kali ini menyajikan kompetisi dalam berbagai cabang olahraga (cabor), termasuk beberapa atlet kelas dunia. Contohnya adalah Hidilyn Diaz, peraih medali emas Olimpiade dari Filipina, serta lifter muda Indonesia, Rizki Juniansyah. Di sisi lain, Thailand menurunkan pebulu tangkis andalannya, Kunlavut Vitidsarn, yang telah meraih medali perak dunia.
Namun, semangat pesta olahraga ini terganggu oleh sejumlah insiden teknis dan protes suporter. Sebelum upacara pembukaan digelar di Stadion Nasional Rajamangala, terjadi beberapa kejadian yang mencolok. Salah satunya adalah saat pertandingan sepak bola putra Vietnam vs Laos pekan lalu. Lagu kebangsaan tidak diputar karena gangguan sistem audio, sehingga pemain dan pelatih harus menyanyikan lagu tersebut tanpa iringan musik.
Kepala Otoritas Olahraga Thailand menyampaikan permintaan maaf atas kesalahan ini. Selain itu, ada kesalahan teknis mengenai pemasangan bendera negara. Di cabor futsal dan sepak bola putri, Indonesia dipasang bendera Laos, sedangkan Thailand diberi bendera Vietnam di situs web resmi. Kesalahan ini membingungkan jurnalis dan penggemar olahraga, serta menambah tekanan pada panitia.
Selain itu, terjadi protes dari suporter tuan rumah saat tim nasional Thailand bertanding melawan Timor Leste. Stadion terlihat kosong karena boikot dari suporter. Mereka memprotes kebijakan tiket yang mewajibkan registrasi menggunakan kartu identitas alias KTP, serta kekhawatiran terkait alokasi tempat duduk. Pihak berwenang menjelaskan bahwa aturan ini diterapkan demi alasan keamanan.
Banjir Menyebabkan Perubahan Lokasi Pertandingan
Penyelenggaraan SEA Games tahun ini juga terkendala bencana alam. Banjir besar yang melanda wilayah selatan Thailand memaksa pemindahan sejumlah cabang olahraga dari Provinsi Songkhla. Di tengah kondisi tersebut, Kamboja menarik hampir separuh dari kontingennya dengan alasan keamanan, menyusul bentrokan baru di perbatasan dengan Thailand pada Senin (8/12/2025).
Delapan cabang olahraga ditinggalkan, termasuk sepak bola, gulat, judo, karate, dan petanque—olahraga asal Perancis yang menempatkan Thailand sebagai kekuatan utama dunia. Meski menuai kecaman dari publik dan warganet, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul tetap membela penyelenggaraan SEA Games. Ia menekankan bahwa banjir dan keterbatasan anggaran menjadi tantangan besar yang harus dihadapi.
"Perubahan lokasi mendadak dan tambahan biaya membuat kami harus beradaptasi dengan cepat," ujarnya. Sementara itu, Gubernur Otoritas Olahraga Thailand, Gongsak Yodmani, mengakui bahwa masa transisi pemerintahan turut memengaruhi proses persiapan.
"Upacara pembukaan mungkin tidak semegah biasanya, tetapi tetap akan diselenggarakan dengan elegan dan penuh martabat," kata Gongsak, dikutip dari media lokal.
Sejarah dan Kontroversi SEA Games
Thailand kali terakhir menjadi tuan rumah SEA Games pada 2007. "Negeri Gajah Putih" ini juga menjadi tempat penyelenggaraan perdana ajang tersebut pada 1959. SEA Games dikenal karena menghadirkan sejumlah cabang olahraga khas Asia Tenggara yang tidak dipertandingkan di Olimpiade, seperti sepak takraw dengan bola rotan, hingga pencak silat dari Indonesia.
Kontroversi beberapa kali terjadi dalam sejarah SEA Games. Pada edisi sebelumnya di Kamboja 2023, final sepak bola putra Indonesia vs Thailand berlangsung panas. Pertandingan itu diwarnai tujuh gol, empat kartu merah, dan dua keributan massal yang mencoreng sportivitas.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar