
Pemda DIY Siapkan Sumber Daya untuk Bantuan Bencana, Tunggu Instruksi Pusat
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan kesiapan untuk memberikan bantuan dalam bentuk relawan dan tenaga kesehatan kepada daerah yang terdampak bencana di Sumatera. Namun, pengiriman personel tersebut masih menunggu instruksi resmi dari pemerintah pusat, terutama dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kesehatan.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, menjelaskan bahwa kesiapan relawan di DIY sudah terbentuk dengan adanya Tim Reaksi Cepat (TRC). Namun, keberangkatan mereka tidak bisa dilakukan tanpa keputusan nasional atau daerah. “Kami sebenarnya siap dari sisi relawan. Kami punya TRC dan TRC juga terhubung dengan seluruh relawan di DIY. Namun, harus kami pertimbangkan dari sisi kebijakan baik di tingkat nasional maupun daerah apakah kita perlu mengirim relawan atau tidak,” ujarnya.
Ruruh menekankan bahwa DIY saat ini berada dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Hal ini membuat daerah perlu memastikan kesiapsiagaan di wilayah sendiri sebelum mengerahkan sumber daya keluar daerah. “Saat ini status siaga darurat hidrometeorologi sehingga kita berjaga-jaga di lokasi kita. Walaupun kita tentunya berdoa terus terhindar dari bencana,” tambahnya.
Koordinasi Tenaga Kesehatan Masih Dilakukan
Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi, menjelaskan bahwa koordinasi bantuan tenaga kesehatan masih dilakukan bersama Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Hingga saat ini, kebutuhan tenaga medis untuk daerah bencana di Sumatera sebagian besar telah dipenuhi pemerintah pusat.
“Sepertinya sudah dipenuhi oleh Kemenkes, Pusat Krisis Kesehatan, dan belum banyak meminta bantuan. Dan nanti pasti ada arahan dari Pemda DIY terkait pengiriman bantuan dari tenaga-tenaga kesehatan,” ujar Anung.
Meski demikian, DIY tetap menyiapkan tim medis cadangan apabila sewaktu-waktu diminta memperkuat layanan kesehatan di lokasi bencana. “Kami punya Medical Emergency Team atau Emergency Medical Team, dan tim cadangan kesehatan. Datanya ada di kami, dan kami sudah berkomunikasi internal bahwa cukup banyak yang siap. Namun memang semuanya masih menunggu arahan,” katanya.
Anung menegaskan bahwa pengiriman nakes harus berdasarkan asesmen kebutuhan di Aceh, Sumut, dan Sumbar. “Karena bantuan-bantuan tersebut tanpa asesmen yang tepat mungkin belum tentu bisa kemudian membantu masyarakat yang bersangkutan,” tambahnya.
RSA UGM Kirim Tim Medis ke Sumatera
Berbeda dengan relawan BPBD dan nakes dari Pemda DIY yang masih menunggu keputusan, Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) telah memberangkatkan tim medis ke Sumatera. Direktur Utama RSA UGM, Dr. dr. Darwito, S.H., Sp.B(K)Onk., menyebutkan bahwa total 15 tenaga kesehatan telah dikirim.
“Kami memberangkatkan sebanyak 15 tenaga medis dan relawan dengan komposisi: 6 personel dari RSA UGM, 6 personel dari RSUP Dr. Sardjito, dan 3 personel dari RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. Mereka tergabung dalam payung Academic Health System (AHS) UGM dan bertugas melakukan eksplorasi kebutuhan, asesmen lapangan, dan penyediaan layanan kesehatan awal,” kata Darwito.
Tim akan bertugas selama satu minggu sebelum digantikan personel baru dalam skema rotasi. Tenaga medis yang dikirim merupakan dokter bedah, dokter anestesi, serta tim kamar operasi lengkap dengan sarana dan prasarana pendukung.
Darwito menambahkan bahwa dukungan kesehatan mental juga dipersiapkan. “Pada fase pasca-bencana, kami juga kemungkinan akan mengirimkan psikolog dan psikiater untuk membantu pemulihan mental para penyintas, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia,” ujarnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar