
Anggaran Rp 90 Miliar untuk Relokasi Penyintas Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki
Pemerintah melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 90 miliar untuk tahap pertama proyek relokasi penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Dana tersebut akan digunakan dalam pembangunan Hunian Tetap (Huntap) yang ditujukan bagi ribuan jiwa dari dua desa di Kecamatan Ile Bura dan empat desa di Kecamatan Wulanggitang.
Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, menyampaikan bahwa dana sebesar Rp 90 miliar ini akan digunakan untuk membangun sebanyak 500 unit Huntap. Namun, jumlah tersebut dinilai belum cukup untuk mengakomodir seluruh penyintas yang terdampak erupsi.
"Anggaran Rp 90 miliar itu baru sepertiganya saja untuk bangun rumah. Kita sudah siapkan lokasi, ada tiga lokasi," ujar Anton Doni Dihen pada Sabtu (3/01/26).
Anton menjelaskan tiga lokasi yang telah disiapkan, yaitu Kuhe, Todo, dan Kureng. Ketiga titik potensial ini memiliki luas lebih dari 100 hektar. Namun, hingga saat ini hanya 5 hektar yang telah dieksekusi.
Menurutnya, eksekusi per 5 hektar dilakukan demi percepatan proses, mengingat kewenangan pengaturan lokasi berada di tangan Pemkab Flores Timur. Proyek Huntap direncanakan mulai berlangsung awal tahun 2026. Pembangunan akan dimulai setelah penerbitan Surat Keputusan (SK) Penetapan Lokasi (Penlok).
"Kita berharap tahun ini bisa direalisasikan," tambahnya.
Kondisi Terkini Gunung Lewotobi Laki-laki
Sementara itu, Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki kembali melaporkan peningkatan kegempaan vulkanik dalam. Peningkatan tersebut terjadi sejak 31 Desember 2025 dan masih berlangsung hingga 3 Januari 2026. Hal ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat sekitar gunung.
Masyarakat diminta tetap mematuhi radius aman sejauh 7 kilometer dari pusat erupsi. Warga yang tinggal di bawah jarak 5 kilometer masih mengungsi di Hunian Sementara (Huntara) Desa Konga, Kecamatan Titehena.
Selain itu, banyak warga yang memilih mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat. Saat ini, total pengungsi mencapai hampir 8.000 jiwa. Mereka berasal dari Desa Hokeng Jaya, Desa Klatanlo, Desa Dulipali, Desa Nawokote, Desa Nobo, serta Dusun Kampung Baru dan Dusun Podor (Desa Boru).
Rencana dan Tantangan dalam Proyek Relokasi
Proyek relokasi ini diharapkan dapat memberikan solusi permanen bagi penyintas yang terdampak erupsi. Namun, beberapa tantangan masih harus dihadapi, seperti pengadaan lahan yang cukup luas dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di lokasi baru.
Selain itu, proses administratif seperti penerbitan SK Penlok juga menjadi faktor penting dalam mempercepat pelaksanaan proyek. Meski begitu, pemerintah daerah berkomitmen untuk segera menyelesaikan semua tahapan agar pembangunan Huntap dapat segera dimulai.
Dengan adanya proyek ini, diharapkan kehidupan masyarakat yang terdampak erupsi dapat kembali stabil dan layak. Selain itu, peningkatan kegempaan vulkanik yang terjadi di Gunung Lewotobi Laki-laki menjadi peringatan bagi masyarakat untuk tetap waspada dan mematuhi protokol keselamatan yang telah ditetapkan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar