Pemilihan Rektor Unhas: Kepemimpinan Akademik Bukan Persaingan Kekuasaan

Pemilihan Rektor Unhas: Kepemimpinan Akademik Bukan Persaingan Kekuasaan

Pemilihan Rektor Unhas: Kepemimpinan Akademik Bukan Perebutan Kekuasaan

Lirik Mars Universitas Hasanuddin (Unhas) yang berbunyi, “Panjimu kita bawa serta, Pancangkan di medan bakti, Namamu kita bawa bersama, Membina kejayaan nusa, Indonesia bahagia...” cukup untuk menjadi alasan agar kita tidak terus-menerus memperdebatkan, membentuk opini negatif, atau melakukan framing yang tidak sehat dalam konteks pemilihan rektor.

Di era disrupsi yang begitu liar, baik dalam tatanan sosial maupun politik, kampus seharusnya menjadi sumber pengetahuan, kebijaksanaan, dan kebenaran yang selalu disuarakan dengan basis data dan pemahaman konteks. Kampus adalah tempat berkumpulnya para ilmuwan dan orang-orang bijak.

Narasi-narasi yang muncul dalam momentum pemilihan rektor sering kali bersifat banal dan tendensius, yang justru merusak eksistensi perguruan tinggi. Beberapa masalah yang dibahas seharusnya jika ingin menjadi kritik konstruktif sudah lama disampaikan, bukan saat ini ketika semua permasalahan telah terklarifikasi oleh pihak universitas.

Jabatan Rektor: Kekuasaan Vs Tugas Profetik

Kampus sering diasosiasikan sebagai rumah bagi para profesor, tempat orang-orang bijak berkumpul. Pragmatisme politik tidak boleh tumbuh menjadi semak belukar dalam kampus, karena jika demikian maka akan sulit dibersihkan di masa depan. Politik di kampus harus menjadi cerminan etis yang menjadi contoh bagi dunia luar. Proses pemilihan rektor seharusnya menjadi metode melahirkan pemimpin, bukan tujuan utama.

Mekanisme pemilihan telah sepenuhnya disepakati, palu telah diketuk, dan kesepakatan telah bulat dalam forum senat akademik. Lalu mengapa masih ada keberatan? Bukankah jabatan rektor adalah tugas profetik, yaitu tugas mulia yang harus dijalankan oleh para insan akademis Unhas?

Keberlanjutan Prestasi dan Reputasi Unhas

Tulisan ini mungkin akan dikritik dan dianggap sebagai dukungan bagi Jamaluddin Jompa sebagai calon rektor. Tidak masalah jika demikian. Bukankah putra-putri terbaik dari para calon rektor adalah kebanggaan kita semua?

Sebagai alumni yang jauh dari kampus, saya menyaksikan prestasi Unhas dalam laporan rektor tahun 2025 yang disampaikan pada saat dies natalis ke-69. Unhas berhasil masuk Top 1000 QS World University Ranking, Top 500 QS World University Ranking 2025 BY SUBJECT, dua kali menjadi juara umum Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa (Pimnas), yaitu Pimnas ke-37 di Universitas Airlangga dan Pimnas ke-38 tahun 2025 di Unhas sendiri.

Unhas TV juga telah mencatatkan prestasi yang menjanjikan. Dalam laporan sebanyak 116 halaman tersebut, banyak prestasi lain yang tercantum. Keberlanjutan reputasi dan prestasi ini membutuhkan kritik konstruktif dari berbagai pihak, termasuk sumbangsih alumni, agar langkah-langkah ini bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan di masa depan.

Tantangan dan Peluang Pasca Pilrek

Mereka yang kini menatap posisi rektor akan diumumkan oleh Majelis Wali Amanat, badan tertinggi di Unhas, pada pertengahan Januari 2026. Representasi mereka adalah wajah dari kampus merah. Kami berharap tantangan apapun ke depan hanyalah batu-batu kerikil kecil, asalkan soliditas dan makna terdalam dalam lagu mars Unhas mampu mengetuk hati, tindakan, dan doa kita sebagai para insan akademis Unhas.



Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan