Pemimpin Alfamart Djoko Susanto Meraih Penghargaan di BIG 40 Awards

Penghargaan BIG 40 Awards untuk Djoko Susanto

Djoko Susanto, pendiri PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) atau Alfamart, mendapatkan penghargaan BIG 40 Awards dalam kategori Mass Retail Network Visionary Award for Excellence In Modern Trade. Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas kontribusi luar biasa yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh terkemuka dalam membangun ekonomi dan industri Indonesia.

BIG 40 Awards merupakan puncak perayaan 40 tahun perjalanan Bisnis Indonesia. Selama empat dekade, media ini telah menjadi salah satu sumber informasi ekonomi dan bisnis yang paling terpercaya di tanah air. Melalui ajang ini, para tokoh, institusi, dan inovator yang berkontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi, penguatan industri, dan kemajuan sosial Indonesia diberikan penghargaan.

Tema perayaan HUT ke-40 Bisnis Indonesia menggarisbawahi pentingnya refleksi dan apresiasi terhadap perjalanan bangsa dalam membangun ekosistem bisnis yang tangguh. Setiap penerima penghargaan mewakili kisah inspiratif tentang visi, kepemimpinan, dan ketekunan yang menggerakkan perubahan positif di sektor masing-masing.

Proses pemilihan penerima penghargaan dilakukan melalui metodologi yang ketat, termasuk desk research mendalam, penelusuran rekam jejak publik, dan kurasi komprehensif oleh Tim Redaksi Bisnis Indonesia yang dikenal sangat selektif dan independen. Penghargaan ini menjadi wujud penghormatan atas dedikasi, integritas, dan pencapaian para tokoh tersebut.

BIG-40 diharapkan tidak hanya mengapresiasi kiprah individu, tetapi juga menghadirkan inspirasi bagi masyarakat dan dunia usaha untuk terus berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing.

Penyerahan penghargaan dilaksanakan pada Senin (8/12/2025) di Hotel Raffles Jakarta dan diterima langsung oleh Djoko Susanto, menandai apresiasi atas kiprah panjangnya dalam membangun jaringan ritel modern di Indonesia.

Profil Djoko Susanto

Djoko Susanto atau Kwok Kwie Fo lahir pada 9 Februari 1950 di Jakarta. Pada Agustus 2022, nama Djoko Susanto sendiri masuk dalam daftar orang terkaya ke-9 di Indonesia. Forbes mencatat harta kekayaannya per Agustus 2022, kini kekayaannya mencapai US$3,1 miliar atau setara Rp45 triliun.

Berdasarkan Forbes Real Time Billionaires, besaran kenaikannya mencapai 1,51% atau sebesar US$46 juta yang setara dengan Rp628 miliar. Bahkan, diketahui peringkat ini naik drastis, dari tahun sebelumnya yakni 2021, di mana Djoko sempat menempati posisi ke-22 dari 50 orang terkaya di Indonesia.

Melansir dari Forbes, Djoko merupakan anak ke-6 dari 10 bersaudara. Di balik kesuksesannya sebagai bos ritel Alfamart, dia hanya mengenyam pendidikan dasar saja karena memilih menjaga kios keluarganya di Pasar Arjuna, Jakarta.

Pada umur 17 tahun, Djoko mulai mengelola warung-warung makanan. Dia juga menjajarkan rokok dan membuka beberapa warung kelontongan lagi. Usaha dalam bisnis kelontong berjalan baik, hingga sukses membuka 560 gerai yang tersebar di berbagai pasar tradisional.

Dari sanalah bisnisnya mulai bertumbuh dengan cepat serta membuat para perokok, pengusaha grosir serta pengecer menjadi pelanggan tetapnya. Sayangnya, tahun 1976 Djoko pernah terpuruk karena peristiwa kebakaran yang melanda Pasar Arjuna. Namun, Djoko Susanto segera bangkit dan mulai berjualan kembali.

Pengalaman itu lantas tidak menghentikan langkah Djoko, dia mulai bangkit dari keterpurukan di waktu yang relatif singkat dengan mengembangkan inovasi lain yaitu, dengan berjualan rokok. Saat itu, baginya rokok menjadi barang yang selalu laku dan banyak peminatnya.

Dengan keberhasilannya tersebut, membuat Putera Sampoerna yang memiliki perusahaan tembakau dan cengkeh terbesar di tanah air kala itu tertarik untuk bekerja sama. Kemudian, tahun 1985 terjadilah kesepakatan antara Djoko Susanto dengan rokok kretek Putera Sampoerna untuk membuka kios serupa hingga akhirnya menciptakan 15 kios rokok berhasil dibuka di Jakarta.

Awal Mula Berdirinya Bisnis Alfamart (AMRT)

Kolaborasi antara Djoko Susanto dan Putera Sampoerna akhirnya berjalan dengan lancar. Pada 27 Agustus 1989, keduanya kembali sepakat untuk mengembangkan jaringan bisnis retail minimarket dengan nama Alfa Toko Gudang Rabat. Minimarket inilah yang menjadi cikal bakal kesuksesan Djoko Susanto dengan merek dagang Alfa. Lalu, tahun 1994, nama merek dagang ini berganti menjadi Alfa Minimart.

Namun pada 2005, kerja sama antara Djoko Susanto dan Putera Sampoerna berhenti. Pasalnya, Putera Sampoerna menjual semua perusahaan dan anak perusahaannya, termasuk rokok kepada Phillip Morris. Mengutip dari Forbes, kini Alfamart yang berada di bawah naungan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk telah berada di bawah pengawasan kedua anak Djoko yakni Feny Djoko Susanto sebagai Presiden Komisaris, dan Budi Djoko Susanto sebagai Komisaris dan memiliki lebih dari 18.000 toko di seluruh Indonesia.

Selain bisnis supermarket, Djoko Susanto masih memiliki lini bisnis lainnya, satu di antaranya properti. Divisi propertinya, Alfaland juga mengoperasikan Omega Hotel Management di seluruh Indonesia. Tak hanya itu, Djoko Susanto juga mendirikan Universitas Bunda Mulia di Jakarta pada 2003.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan