Pemkot Yogyakarta Siapkan Skenario Parkir untuk 2 Juta Wisatawan Libur Nataru

Pemkot Yogyakarta Siapkan Skenario Parkir untuk 2 Juta Wisatawan Libur Nataru

Prediksi Lonjakan Wisatawan di Yogyakarta Selama Libur Nataru

Yogyakarta diprediksi akan mengalami lonjakan kunjungan wisatawan yang signifikan selama masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta telah mempersiapkan berbagai skenario untuk menghadapi kondisi tersebut, baik dalam hal pengelolaan lalu lintas maupun kantong parkir.

Tingkat Kunjungan Wisatawan yang Meningkat

Berdasarkan tren tahunan, diperkirakan akan ada tambahan sekitar 2 hingga 3 juta wisatawan yang memadati Kota Yogyakarta pada akhir tahun ini. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menjelaskan bahwa secara statistik, kunjungan wisatawan ke wilayahnya senantiasa menyentuh angka 10 juta per tahun.

Data dari Dinas Pariwisata (Dispar) sampai dengan bulan Oktober lalu menunjukkan bahwa angka kunjungan tercatat sudah mencapai kisaran 8 juta wisatawan. "Dari tahun ke tahun, kunjungan wisatawan itu sekitar 10 juta. Sampai bulan Oktober kemarin, mencapai 7 juta sampai 8 juta," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa peak-nya di akhir tahun ini bisa mencapai 2 juta. "Karena biasanya nanti totalnya itu mesti 10 juta lebih. Berarti November-Desember mesti menyisakan 2 juta kunjungan," jelas Hasto.

Target sisa kunjungan sekitar 2 juta hingga 3 juta wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, diyakini bisa tercapai pada masa libur Nataru mendatang.

Persiapan Kantong Parkir

Untuk mengantisipasi membludaknya kendaraan yang diboyong wisatawan, Pemkot Yogyakarta telah menyiapkan beberapa skenario kantong parkir. Salah satu yang menjadi sorotan adalah penggunaan Stadion Kridosono sebagai lokasi parkir insidental untuk menampung kendaraan pelancong yang hendak tamasya ke Kota Pelajar.

Meski demikian, Hasto menyebut bahwa langkah itu bersifat backup jika kondisi sudah sangat mendesak, karena akan lebih dulu mengoptimalkan lokasi parkir di kawasan eks Menara Kopi. "Kridosono belum fixed. Tentu kan kita punya alternatif. Kalau seandainya dalam kondisi terpaksa, maka Kridosono itu bisa kita buka," jelasnya.

Skenarionya, kendaraan dari arah Kridosono akan diarahkan berbelok kiri masuk ke area Menara Kopi yang merupakan pindahan dari Tempat Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali. Lokasi tersebut dinilai mampu menampung bus-bus kecil hingga kendaraan pribadi, khususnya untuk turis yang hendak menyambangi Malioboro.

"Namun, kalau nanti kondisinya benar-benar over, ya Kridosono kita rencanakan kita minta untuk dibuka, untuk (lahan) parkir," tambahnya.

Rekayasa Lalu Lintas di Kawasan Malioboro

Sementara itu, terkait rekayasa lalu lintas di sumbu filosofi atau kawasan Malioboro pada malam pergantian tahun, Pemkot Yogyakarta akan menerapkan sistem buka-tutup secara situasional. Rencananya penutupan jalan tidak dilakukan sejak sore hari, namun jika kepadatan kendaraan roda empat maupun roda dua sudah membuat lalu lintas terkunci, akses ke Malioboro akan ditutup total.

"Mungkin penutupannya bisa sekitar jam 19.00 atau jam 20.00. (Sifatnya) situasional ini ya," jelas Hasto.

Ia mengakui, penutupan jalan utama Malioboro kerap berdampak pada penuhnya jalan-jalan sirip di sekitarnya yang beralih fungsi menjadi kantong parkir dadakan. Fenomena tersebut, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri karena keterbatasan kantong parkir resmi yang memadai di sisi barat maupun timur kawasan tersebut.

"Biasanya kalau begitu, maka sirip-sirip itu otomatis terisi (parkir). Itu yang sering kita susah mengendalikannya. Karena kita mau melarang parkir di sirip juga tidak memungkinkan, karena kantong parkir tidak mencukupi," pungkasnya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan