Pemprov NTT Perkuat OVOP Jadi Strategi Utama Pembangunan Ekonomi Desa

Pemprov NTT Perkuat OVOP Jadi Strategi Utama Pembangunan Ekonomi Desa

Pemprov NTT Perkuat Pelaksanaan One Village One Product

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) terus memperkuat pelaksanaan program One Village One Product (OVOP) sebagai strategi utama dalam pembangunan ekonomi desa. Program ini dirancang untuk menjadi motor penggerak perekonomian daerah yang berkelanjutan, bertahap, dan berbasis kolaborasi lintas sektor.

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, menyatakan bahwa pada jangka pendek, fokus OVOP diarahkan pada penataan ekosistem dasar. Langkah-langkah ini mencakup beberapa aspek penting, antara lain:

  • Pemetaan potensi desa dan komunitas
  • Peningkatan kapasitas sumber daya manusia pelaku UMKM
  • Penguatan kualitas produk
  • Pembukaan akses pasar awal melalui NTT Market

Selain itu, konsolidasi kebijakan dengan pemerintah kabupaten/kota juga menjadi prioritas. Hal ini dilakukan karena pelaksanaan OVOP berada langsung di tingkat desa dan komunitas. Menurut Johni, koordinasi lintas pemerintahan menjadi fondasi agar OVOP dapat berjalan efektif.

Pengembangan Jangka Menengah

Di fase jangka menengah, Pemprov NTT menargetkan penguatan hilirisasi dan kelembagaan ekonomi rakyat. OVOP akan diintegrasikan dengan koperasi, termasuk Koperasi Desa Merah Putih, yang mendapat dukungan permodalan dari pemerintah. Koperasi diposisikan sebagai simpul penggerak ekonomi lokal, penghubung antara produksi masyarakat dengan pasar, serta penjamin tata kelola usaha yang sehat dan berkelanjutan.

Pada tahap ini, pemerintah juga memperluas pengembangan varian program seperti one school one product dan one community one product guna memperbesar basis produksi dan inovasi. Standarisasi produk menjadi fokus utama, mencakup peningkatan kualitas, pengemasan, sertifikasi, serta pemenuhan standar tertentu agar produk desa mampu bersaing di pasar regional maupun nasional.

Johni menjelaskan bahwa produk yang masuk ke pasar dan koperasi harus memenuhi standar. Proses ini dilakukan secara bertahap, karena program baru tidak mungkin langsung sempurna, tetapi akan terus diperbaiki seiring berjalannya waktu.

Strategi Jangka Panjang

Dalam jangka panjang, OVOP diarahkan menjadi motor utama transformasi ekonomi NTT berbasis sumber daya alam non-tambang. Pemerintah menargetkan terbentuknya rantai nilai yang kuat dari hulu ke hilir, meningkatnya daya saing produk unggulan daerah, serta terciptanya pasar yang berkelanjutan bagi produk desa dan komunitas.

Namun, dalam hal infrastruktur, Pemprov NTT mengakui masih terdapat sekitar 30 persen jalan provinsi dalam kondisi rusak. Keterbatasan anggaran menjadi tantangan tersendiri, terlebih pemerintah masih melanjutkan sejumlah program dari periode sebelumnya. Meski demikian, perbaikan konektivitas jalan tetap menjadi prioritas karena berpengaruh langsung terhadap keberhasilan OVOP, khususnya dalam distribusi produk dan akses pasar.

Pendapatan Daerah dan Kolaborasi

Dari sisi fiskal, pemerintah daerah terus berupaya memperkuat pendapatan asli daerah (PAD), termasuk optimalisasi pajak kendaraan bermotor yang tingkat kepatuhannya masih di bawah 50 persen. Peningkatan PAD dinilai penting untuk memperluas ruang fiskal pembangunan, baik untuk infrastruktur maupun pengembangan ekonomi berbasis desa.

Dengan pendekatan kolaboratif, Pemprov NTT menjadikan OVOP bukan sekadar kebijakan populis, melainkan strategi pembangunan jangka panjang untuk menggerakkan ekonomi lokal, menciptakan nilai tambah sumber daya alam non-tambang, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT secara berkelanjutan.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan