Pendidikan Vokasi Jadi Pilar Baru Industrialisasi Nasional

Penguatan Vokasi sebagai Kunci Strategi Baru Industrialisasi Nasional

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa penguatan vokasi menjadi salah satu langkah utama dalam Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN). SBIN berfokus pada peningkatan nilai tambah, inovasi teknologi, serta transformasi industri yang berbasis keberlanjutan. Menurutnya, pendidikan vokasi adalah investasi untuk masa depan, karena dengan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan unggul, industri Indonesia akan tumbuh lebih produktif, resilien, dan berdaya saing global.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat sinergi antara pendidikan dan industri melalui beberapa inisiatif seperti standardisasi kompetensi, pemagangan, sertifikasi, serta modernisasi sarana pembelajaran. Tujuannya adalah agar mampu menjawab kebutuhan industri di masa depan.

Selain itu, Kemenperin juga mengembangkan agenda vokasi go global, yang bertujuan mengarahkan pendidikan vokasi pada standar kompetensi internasional, literasi teknologi maju, serta kemampuan adaptif terhadap dinamika pasar global. Nantinya, kurikulum akan mengacu pada standar industri internasional, penerapan sertifikasi profesi berlevel global, perluasan kemitraan strategis dengan industri mancanegara, serta fasilitasi mobilitas tenaga kerja lintas negara.

"Model ini dirancang untuk mendukung Indonesia masuk ke rantai pasok global pada sektor-sektor strategis seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, otomasi industri, energi hijau, serta manufaktur berkelanjutan," jelas Agus.

Pengembangan SDM Berdaya Saing Tinggi

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Doddy Rahadi, menjelaskan bahwa penguatan vokasi merupakan bagian penting dari SBIN, yang memberi penekanan pada pengembangan SDM industri berdaya saing tinggi. Menurutnya, sektor-sektor prioritas nasional saat ini membutuhkan sumber daya manusia dengan keterampilan baru yang relevan dengan teknologi mutakhir.

“Kita harus menjawab kebutuhan masa depan. Target pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi tidak mungkin tercapai kalau SDM-nya masih seperti dahulu. SDM harus produktif, terampil, kompeten, dan berorientasi global,” kata Doddy.

Dia menegaskan bahwa pendidikan vokasi Indonesia tidak boleh terbatas pada penyedia tenaga kerja untuk industri domestik, tetapi harus menjadi bagian penting dari ekosistem industri global, baik melalui kompetensi teknis, mobilitas tenaga kerja, maupun jejaring profesional.

Contoh Pendidikan Vokasi yang Sukses

Salah satu unit pendidikan vokasi milik Kemenperin yang menjalankan mandat tersebut adalah SMK-SMTI Yogyakarta. Unit pendidikan ini telah menerapkan model pendidikan dual system (dengan komposisi praktik mencapai 70 persen), dan kurikulum berstandar internasional sebagai strategi menyiapkan SDM industri yang unggul dan siap kerja.

“Kemenperin berkomitmen memperkuat pendidikan vokasi yang mampu melahirkan tenaga terampil yang relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi, termasuk industri 4.0,” tegas Doddy.

Pendekatan ini tidak hanya membantu meningkatkan kualitas SDM, tetapi juga memastikan bahwa lulusan pendidikan vokasi dapat langsung berkontribusi dalam industri tanpa memerlukan pelatihan tambahan. Dengan demikian, Kemenperin berharap dapat membangun fondasi yang kuat untuk pengembangan industri yang lebih maju dan berkelanjutan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan