Penembakan di Fatuleu Diduga Akibat Sengketa Lahan, Korban Alami Luka Parah dan Operasi

Penembakan di Fatuleu Diduga Akibat Sengketa Lahan, Korban Alami Luka Parah dan Operasi

Petani Ditembak Saat Membersihkan Lahan, Diduga Terkait Sengketa Tanah

Seorang petani bernama Randi Edison Beba (34) menjadi korban penembakan saat sedang membersihkan lahan kebun di Desa Naunu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Peristiwa ini terjadi pada Minggu (30/11/2025) sekitar pukul 12.30 Wita. Menurut keterangan keluarga, penembakan diduga kuat terkait dengan sengketa lahan yang telah berlangsung sejak lama.

Kejadian Penembakan yang Mencemaskan

Korban bersama keluarga sedang melakukan pembersihan lahan kebun di RT 16/RW 06, Dusun 4, Desa Naunu. Menurut sepupu korban, penembakan dilakukan oleh orang tak dikenal yang menembak dari arah belakang. “Sekitar jam setengah 1 siang, tiba-tiba adik saya ini ditembak oleh orang tidak dikenal, dari belakang, kena di tulang pinggul,” ujar sepupu korban saat diwawancarai oleh reporter.

Ia menjelaskan bahwa korban mendengar dua kali letusan. “Tembakan pertama tidak kena, hanya sipit di telinganya. Tembakan kedua mengenai bagian belakang korban, darah langsung keluar,” jelasnya. Peluru yang digunakan diduga jenis peluru senapan angin. Setelah terkena tembakan, korban berteriak minta tolong.

Menurut saksi mata, ada seseorang yang melihat orang lari menjauh ke arah hutan melalui semak belukar. Karena kondisi korban sudah berdarah, keluarga fokus menolong korban dan tidak mengejar pelaku.

Proses Pengobatan dan Operasi

Saat kejadian, korban berada di lokasi bersama adiknya, sementara keluarga lain bekerja di lahan berbeda. Korban awalnya dilarikan ke RS Naibonat untuk pertolongan pertama. Setelah luka dibersihkan dan diberi obat penahan pendarahan, keluarga memutuskan merujuk korban ke RS Siloam Kupang.

“Hasil rontgen menunjukkan peluru mengenai tulang pinggul dan harus dioperasi untuk pengangkatan proyektil. Sekarang operasinya sudah selesai,” ungkap keluarga. Hingga saat ini, korban masih menjalani masa pemulihan pasca operasi.

Perselisihan Lahan yang Berkepanjangan

Keluarga mengungkap bahwa kasus penembakan ini bukan kejadian yang berdiri sendiri. Mereka menduga kuat motifnya terkait perselisihan lahan yang sudah beberapa kali menimbulkan ancaman dan tindakan kasar. “Masalah ini bukan baru. Kami sudah tiga kali melapor ke Polsek Fatuleu sebelumnya. Dua laporan ancaman, satu laporan karena om kami didorong kasar. Sekarang ditambah penembakan ini, total empat laporan,” jelas keluarga.

Mereka menegaskan bahwa beberapa minggu sebelum penembakan, korban dan keluarga sempat menerima ancaman dari pihak yang bersengketa soal tanah tersebut. “Keluarga beranggapan penembakan ini erat kaitannya dengan persoalan lahan sebelumnya,” ujar kerabat korban.

Langkah Hukum dan Penyelidikan

Keluarga mengaku telah membuat laporan resmi ke Polsek Fatuleu pada hari yang sama. Pihak kepolisian juga sudah memberikan surat visum kepada RS Siloam untuk kebutuhan penyidikan. “Pagi ini ada panggilan untuk keluarga memberikan keterangan. Besok katanya akan dilakukan gelar perkara di Polres Kupang,” ujar keluarga.

Hingga kini, pelaku penembakan belum ditetapkan. Ketika reporter mencoba mengonfirmasi ke Polda NTT, pihaknya menyatakan belum menerima laporan resmi dari Polres Kupang terkait kasus ini.

Harapan Keluarga

Korban saat ini masih dalam pemulihan dan keluarga berharap pihak kepolisian segera mengungkap pelaku serta memastikan keamanan di wilayah tersebut. Mereka juga berharap agar kasus ini dapat diselesaikan secara hukum dan tidak terulang lagi.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan