
Pengalaman Makan Siang yang Tidak Terduga
Siang itu di Nanga Pinoh, Kalimantan Barat, acara makan siang bukan agenda utama. Ia hanya jeda pendek di antara rapat, uji coba sistem, dan kepala yang penuh alur pelayanan. Saya sedang mengerjakan proyek Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP)—pekerjaan yang menuntut rapi di layar, tapi sering berantakan di perut. Maka ketika kami berhenti makan, saya tidak banyak bertanya. Prinsip saya sederhana: kalau terlihat segar, ambil. Kalau masih hangat, habiskan.
Di meja prasmanan, satu panci sup bening mencuri perhatian. Isinya batang-batang putih besar, bersih, tampak "terdidik". Tanpa basa-basi, saya mengambil porsi besar. Ini pembuka, pikir saya. Sayur dulu, biar hidup terasa terkontrol.
Suapan pertama menyenangkan. Segar. Ringan.
Suapan kedua menguatkan dugaan saya. Renyah.
Di kepala saya sudah muncul istilah sok ilmiah: asparagus lahan gambut. Lokal, besar-besar, mungkin belum sempat masuk katalog pangan nasional.
Masalah muncul di suapan berikutnya.
Ada rasa getir yang tidak saya kenal. Bukan pahit yang tegas, bukan juga sepat yang malu-malu. Rasanya seperti orang asing yang tiba-tiba ikut duduk di meja. Lidah saya berhenti, sendok tetap bekerja. Harga diri proyek nasional tidak boleh tumbang oleh semangkuk sup.
Saya menoleh ke teman di sebelah, setengah berbisik.
"Kok asparagus di sini getir ya rasanya?"
Ia melirik mangkuk saya, lalu menatap saya dengan wajah orang yang baru menyaksikan kesalahpahaman budaya.
"Itu pucuk rotan," katanya. "Bukan asparagus."
Sekejap semua asumsi runtuh. Bukan sayur hotel. Bukan menu bandara. Yang saya makan barusan adalah rotan—bahan kursi, bahan keranjang, bahan yang biasanya menopang tubuh, bukan masuk ke dalamnya.
Tawa pecah. Malu, iya. Kagum, lebih iya.
Masyarakat setempat kemudian menjelaskan dengan tenang, seolah ini pengetahuan dasar yang seharusnya sudah saya tahu sejak kecil. Namanya sup umbut rotan. Umbut rotan adalah bagian pucuk muda rotan, dan bagi masyarakat Dayak, ini bukan makanan aneh. Ia adalah masakan khas. Bisa diurap, digulai, atau disup. Rasanya memang getir di awal, tapi justru di situlah identitasnya.
Orang setempat bercerita, umbut rotan memang bukan sayur sembarangan. Ia dikonsumsi turun-temurun karena seratnya tinggi dan memberi sensasi ringan di tubuh, terutama setelah bekerja seharian. Getir di awal justru dianggap tanda alaminya—bukan untuk dilawan, tapi diterima. Di dapur Dayak, umbut rotan bukan makanan eksperimental, melainkan pangan harian yang sudah lama dipercaya menjaga pencernaan dan kebugaran, jauh sebelum kata "superfood" menjadi mode.
Saya kembali menyendok. Kali ini dengan hormat. Getir itu terasa lebih masuk akal. Bukan kesalahan resep, tapi karakter bahan. Pangan lokal yang jujur—tidak berusaha menyenangkan semua lidah, tapi setia pada dirinya sendiri.
Di sela makan siang itu, pekerjaan terus berjalan. Uji aplikasi PTSP selesai. Alur layanan diuji. Tombol ditekan. Data masuk. Semua menunggu satu hal: keputusan akhir.
Beberapa jam kemudian, Bapak Kusuma Hendri, Kepala Dinas PTSP Kabupaten Nanga Pinoh, menandatangani hasil uji aplikasi. ACC. Satu kata pendek dengan efek panjang. Proyek selesai. Tugas rampung. Pulang semakin dekat.
Aneh tapi nyata: bersama keputusan itu, rasa getir di mulut saya ikut menghilang. Entah karena sugesti, entah karena lega. Sup umbut rotan yang tadi terasa keras kini tinggal kenangan. Yang tersisa hanya rasa hormat—pada sistem yang bekerja, pada orang-orang daerah yang sabar, dan pada bahan pangan lokal yang diam-diam luar biasa.
Indonesia memang sering begitu. Kekayaan pangan kita tidak selalu ramah lidah pada pertemuan pertama. Ada yang pahit, getir, keras, dan tidak langsung "enak". Tapi setelah dipahami, setelah diterima apa adanya, ia justru membekas lebih lama daripada makanan yang sejak awal berusaha memanjakan.
Menjelang pulang, saya sempat tertawa sendiri. Dalam kepala saya sudah muncul kontras yang lucu. Dari sup umbut rotan di pedalaman Kalimantan Barat—yang pahit-getir dan jujur—saya tahu, beberapa hari lagi saya akan duduk manis di Pantai Indah Kapuk, menyantap sup asparagus kepiting. Halus. Manis. Internasional. Tidak ada kejutan.
Dua dunia. Dua rasa. Dua Indonesia.
Dan entah kenapa, justru sup rotan yang lebih lama tinggal di ingatan. Bukan karena rasanya paling nikmat, tapi karena ia datang tanpa kompromi—seperti proyek yang selesai tepat waktu, dan keputusan yang akhirnya ditandatangani.
Kadang, yang paling berharga bukan yang paling lezat. Tapi yang paling jujur memperkenalkan kita pada tempatnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar