Pengeluh Pedagang Ancol Tahun Baru 2026: Pengunjung Sepi, Omzet Turun 75%

Kondisi Penjualan di Ancol pada Tahun 2026

Pada malam Tahun Baru 2026, Wati (53), seorang pedagang makanan dan minuman yang telah menjadi mitra binaan Ancol selama bertahun-tahun, menghentikan hitungannya di angka Rp2 juta. Angka tersebut menunjukkan penurunan drastis dibandingkan omzet harian yang biasanya mencapai Rp8 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Wati menyebut bahwa penurunan ini tidak sepenuhnya mengejutkannya karena ia telah merasakan lesunya penjualan sejak awal tahun. Menurutnya, penurunan omzet bisa mencapai 60–70% dalam beberapa bulan terakhir. Ia juga menyatakan bahwa tahun 2026 menjadi tahun dengan omzet terkecil yang pernah ia kumpulkan setelah pandemi Covid-19.

Kehadiran pengunjung di kawasan Pantai Laguna, Ancol, tampaknya semakin berkurang. Dulu, perayaan Tahun Baru selalu disesaki oleh para pengunjung hingga sulit untuk berjalan di antara mereka. Namun, kini pengunjung dapat berlari-larian tanpa kesulitan. Hal ini menunjukkan penurunan jumlah pengunjung yang signifikan.

Faktor Penyebab Lesunya Penjualan

Salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan penjualan adalah jumlah event yang berlangsung di Ancol pada tahun 2025. Biasanya, Ancol mengadakan berbagai event pada kuartal pertama setiap tahunnya. Namun, pada 2025, realisasi event tersebut dinilai kurang optimal.

Selain itu, kenaikan harga tiket yang diterapkan untuk pengunjung Ancol juga diduga menjadi penyebab utamanya. Wati mengatakan bahwa harga tiket yang tinggi membuat orang lebih enggan untuk berbelanja di dalam kawasan tersebut.

Pengalaman Pedagang Lain

Selain Wati, Nani (50), seorang pedagang mainan anak-anak, juga merasakan dampak lesunya penjualan pada malam Tahun Baru 2026. Pada momen yang sama tahun lalu, Nani bisa membukukan omzet hingga Rp3 juta per hari. Namun, kini hanya mencapai Rp1 juta.

Menurut Nani, maraknya marketplace daring menjadi salah satu penyebab penurunan penjualan. Bahkan, penjualan pada momentum libur selama 2025 juga menunjukkan penurunan yang signifikan. Misalnya, pada weekend, Nani biasanya meraup omzet hingga Rp1,5 juta–Rp1,8 juta per hari. Namun, pada 2026, omzetnya hanya mencapai Rp500.000–Rp800.000 per hari.

Nani mengungkapkan bahwa banyak anak-anak yang ingin membeli mainan, tetapi orang tua mereka sering menahan keinginan anak-anak tersebut. “Anak-anak TK, kadang-kadang nangis minta mainan, anaknya dicubitin sama emaknya. Kita enggak bisa bilang apa deh,” katanya.

Realisasi Pengunjung di Ancol

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. (PJAA), sebagai pengelola Taman Impian Jaya Ancol, mengakui bahwa jumlah pengunjung pada malam Tahun Baru 2026 mengalami penurunan. Realisasi kehadiran pengunjung hanya mencapai 65.821 orang, jauh di bawah target yang ditetapkan sebesar 100.000 pengunjung.

Selain itu, realisasi pengunjung pada malam Tahun Baru 2026 juga turun sebesar 5,97% year-on-year (YoY) dibandingkan realisasi 2024 sebanyak sekitar 70.000 pengunjung pada 31 Desember 2024.

Kesimpulan

Penurunan penjualan dan jumlah pengunjung di Ancol pada tahun 2026 menunjukkan adanya perubahan yang signifikan. Berbagai faktor seperti penurunan event, kenaikan harga tiket, dan persaingan dari marketplace daring menjadi penyebab utamanya. Para pedagang seperti Wati dan Nani harus beradaptasi dengan kondisi yang semakin sulit, sementara pengelola Ancol juga menghadapi tantangan dalam menjaga daya tarik kawasan tersebut.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan