Pengemis Jakbar Ganggu Pedagang dengan Maki dan Ludah

Pengemis yang Meresahkan Pedagang di Pasar Pengampuan

Di kawasan Pasar Pengampuan, Srengseng, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, seorang pengemis telah menjadi sorotan karena tindakannya yang meresahkan para pedagang. Diketahui bahwa pengemis tersebut sering kali melakukan kekerasan verbal dan bahkan meludahi para penjual, membuat suasana pasar menjadi tidak nyaman.

Dari foto yang beredar di akun media sosial Instagram @jakbarviral, terlihat bahwa pengemis tersebut memiliki ciri-ciri khas: berbadan gemuk, tidak mengenakan baju, berambut putih, dan membawa tas kresek. Narasi unggahan tersebut menyebutkan bahwa pengemis ini sering kali melontarkan kata-kata kasar kepada para pedagang jika tidak diberi uang. Pesan yang disampaikan dalam unggahan tersebut meminta masyarakat untuk membantu menyebarluaskan informasi agar pengemis tersebut bisa diamankan.

Meli (38), seorang pedagang di Pasar Pengampuan, mengaku pernah menjadi korban dari tindakan pengemis tersebut. Ia menjelaskan bahwa kedatangan pengemis selalu membuat para pedagang merasa waswas. "Dia datang dengan gaya maksa. Dia langsung menunjukkan tangannya ke wajah kita atau depan dagangan. Jika sedang sibuk atau bilang 'maaf', dia langsung melotot," jelas Meli saat ditemui di lokasi.

Pengemis tersebut juga dikenal mengintimidasi para pedagang dengan tatapan dan gelagatnya. Situasi sering memanas ketika pedagang menolak memberikan uang. Penolakan halus justru dibalas dengan makian kasar. "Mulutnya kasar, kalau enggak dikasih, semua nama binatang keluar. Dia teriak-teriak pas lagi ada yang beli. Kan malu juga kita," ujar Meli.

Selain itu, sikap pengemis tersebut juga dinilai mengganggu pelanggan yang sedang membeli dagangan. "Yang beli jadi ngeri, kadang ada yang buru-buru pergi karena takut," tambah Meli.

Menurut pengakuan Meli, pengemis tersebut tidak hanya berkeliling di area Srengseng. Pedagang di pasar-pasar lain di Jakarta Barat juga mengeluh tentang kehadiran pengemis yang sama. "Katanya dia pernah muncul di pasar Patra dan Bojong. Enggak tahu kenapa bisa jauh-jauh ke sana," ujarnya.

Tindakan Meludah yang Menyakitkan Hati

Salah satu tindakan paling menyakitkan bagi para pedagang adalah aksi meludah yang dilakukan oleh pengemis tersebut. Opay (40), seorang pedagang ketoprak di kawasan Srengseng, mengaku bahwa tindakan itu menjadi penghinaan bagi pedagang. "Pernah itu, ya itu yang bikin kita sakit hati. Kalau sama saya sih enggak pernah, cuma pernah lihat, sama mpok-mpok gitu, jualan jus," ucap Opay.

Menurut Opay, pengemis tersebut biasanya bertindak lebih kasar bila berhadapan dengan pedagang perempuan. "Kalau saya lihat langsung sih sekali itu doang, tapi katanya sering, banyak yang kena. Rata-rata yang cewek, yang ibu-ibu," ujarnya.

Opay juga menjelaskan bahwa tindakan meludah sangat merugikan pedagang, terutama yang berjualan makanan. "Ya gimana kalau yang jual makanan, kebersihan harus dijaga. Kalau diludahin gitu jijik, najis, mual orang yang ada," kata dia.

Harapan Para Pedagang

Perilaku agresif pengemis yang terjadi berulang kali semakin menimbulkan keresahan bagi para pedagang. Mereka mengaku lelah harus bekerja di bawah tekanan mental setiap kali sosok tersebut datang. "Sering banget, makanya pedagang sini udah hafal. Kalau dia nongol, kasih aja, daripada ribet," ujar Meli.

Kini, para pedagang dan warga berharap adanya tindakan tegas dari Dinas Sosial (Dinsos) maupun Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk menertibkan pengemis tersebut agar tidak lagi meresahkan pedagang. "Harapannya tolong diamankan. Ini sudah meresahkan, tolong Dinsos atau Satpol PP," ucap Meli.

Senada dengan Meli, Opay juga menyuarakan harapan agar aparat bisa menangkap dan mencegah berulangnya kejadian meresahkan yang disebabkan pengemis tersebut. "Semoga cepat-cepat lah. Emang kadang harus viral dulu baru keliatan tuh," ujarnya.

Opay mengaku bisa saja menangkap sendiri dan memberikan tindakan tegas kepada pengemis tersebut. Namun, ia enggan mendapat masalah apabila dianggap sebagai main hakim sendiri. "Kita mohon maaf, bukannya apa-apa, kan orang sini pada jago-jago. Tapi, enggak boleh gitu. Kalau mau mah bisa, tapi nanti kita yang kena masalah," tuturnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan