
Pendapat Warga Terhadap Rencana Pembangunan Flyover di Simpang Lima
Rencana pembangunan flyover di kawasan Simpang Lima Kota GorontaloTelaga mulai menarik perhatian warga setempat. Khususnya mereka yang sering menghadapi kemacetan di Jembatan Telaga setiap hari. Para pengemudi bentor, yang menjadi saksi langsung kepadatan arus kendaraan pada pagi dan sore hari, turut menyuarakan pendapat mereka terkait rencana ini.
Dua dari mereka, Sofyan Harun dan Karam Masalata, pengemudi bentor asal Desa Hulawa, Telaga, mengaku sudah sangat hafal ritme lalu lintas di kawasan tersebut. Mereka biasanya mangkal di sekitar jembatan, mengamati pertemuan arus kendaraan dari Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo yang sering kali menumpuk di satu titik.
Rencana pembangunan flyover yang sempat muncul dalam rapat paripurna DPRD Provinsi Gorontalo membuat keduanya penasaran. Awalnya, mereka merasa bingung membayangkan bentuk dan cara kerja flyover itu. Namun setelah mendapat penjelasan sederhana, sikap mereka berubah.
Kalau untuk mengurangi kemacetan, saya setuju, ujar Sofyan, Jumat (12/12/2025). Menurutnya, puncak kemacetan biasanya terjadi pada sore hari ketika arus pulang kantor memadati jembatan. Antrean panjang sering kali melebar hingga ke pertigaan di depan.
Pada pagi hari situasinya memang lebih ringan, meski sesekali terjadi kepadatan. Upaya polisi mengalihkan arus melalui jalur selatan dinilai belum cukup mengatasi masalah. Sofyan menegaskan, penyebab utama kemacetan bukan semata kendaraan besar, tetapi volume kendaraan yang bertemu di satu titik pada waktu yang sama.
Kendaraan dari berbagai arah berkumpul di Simpang Lima. Jadi mau tidak mau tersendat, ujarnya.
Senada dengan Sofyan, Karam Masalata menilai Jembatan Telaga adalah jalur vital yang tak mungkin ditinggalkan warga. Alternatif jalan memang ada, tetapi jaraknya memutar dan jarang diminati. Ini jembatan utama. Kalau pun ada jalan lain, orang malas mutar, ungkapnya.
Ia menilai kehadiran flyover bisa membantu mengurai kemacetan tanpa memaksa pengendara mencari jalur lain. Terlebih, kata Karam, kepadatan di kawasan itu terasa kian parah dalam beberapa waktu terakhir. Lebar dan panjang jalan tetap sama, sementara kendaraan bertambah terus. Belum lagi sekarang ada sepeda listrik, katanya.
Pantauan menunjukkan kondisi serupa. Laju kendaraan dari arah Telaga Park menuju Simpang Lima bergerak sangat pelan, terutama roda empat. Arus kendaraan dari lima jalur berbeda yang bertemu di satu titik membuat mobilitas tersendat sepanjang sore.
Sebelumnya, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dalam paripurna 5 Desember 2025 mengungkapkan bahwa pemerintah telah memasukkan visibility study pembangunan Flyover Simpang Lima ke dalam APBD 2026. Jadi kita teliti dulu, kita kaji dulu cocok atau tidak. Yang jelas data awalnya mendukung, ujarnya.
Ia menyebut, laporan terakhir menunjukkan tingkat kepadatan di kawasan itu sudah melampaui 75 persen pada pagi dan sore hari. Itu indikator bahwa tidak lama lagi kemacetan akan semakin parah kalau kita tidak memikirkan flyover, jelasnya.
Gusnar menambahkan, pembahasan dengan Kementerian PUPR sudah berjalan. Mudah-mudahan bisa didukung terus dan ini menjadi kenyataan, pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar