Pengerjaan tanggul bocor Jakarta tertunda, hanya 41% proyek NCICD selesai

Pengerjaan tanggul bocor Jakarta tertunda, hanya 41% proyek NCICD selesai

Kebocoran Tanggul Pesisir Jakarta dan Upaya Perbaikan Darurat

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengakui adanya kebocoran pada sejumlah tanggul pengaman pantai di enam titik pesisir Ibu Kota. Keenam lokasi tersebut meliputi Muara Angke, Muara Baru, Sunda Kelapa, Green Bay Pluit, RE Martadinata, Ancol, dan Marunda Pulo. Tanggul-tanggul yang dibangun sejak 2014 itu merupakan bagian dari upaya mitigasi banjir rob sambil menunggu rampungnya proyek tanggul raksasa atau Giant Sea Wall.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, mengakui bahwa perawatan tanggul selama ini belum maksimal. “Kalau ditanya fungsinya, secara struktur masih bekerja. Namun dari sisi perawatan, memang masih perlu ditingkatkan,” ujar Ika, Selasa (9/12/2025).

Dalam beberapa hari terakhir, kebocoran tanggul di kawasan Muara Baru, tepatnya di area Nizam Zachman, menjadi sorotan. Tanggul tersebut berada di bawah pengelolaan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Sejak kebocoran terjadi pada Kamis, 4 Desember, petugas Dinas SDA melakukan penanganan darurat dengan menutup celah menggunakan karung pasir. Setelah itu, perbaikan berkelanjutan dilakukan dengan metode grouting untuk mengisi retakan beton.

“Kami fokus pada segmen hilir sepanjang 400 meter karena kawasan tersebut langsung berhadapan dengan laut dan lebih terdampak ombak,” kata Ika. Perbaikan dilakukan dengan mengeruk area sedalam tiga meter lalu mengisi bagian tersebut menggunakan beton K500 yang dicor sekaligus disuntik dari dalam struktur.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung lokasi kebocoran tanggul di Pantai Nizam Zachman, Muara Baru, pada Senin (8/12/2025). Peninjauan dilakukan menyusul munculnya rembesan saat banjir rob melanda pesisir Jakarta. Pramono menegaskan pentingnya melanjutkan pembangunan tanggul pengaman pantai sebagai bagian dari proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) Fase A.

Progres Pembangunan NCICD

Secara keseluruhan, panjang tanggul yang harus dibangun mencapai 28,279 kilometer. Hingga kini, baru 11,770 kilometer (41,7 persen) yang rampung, sehingga masih tersisa 16,509 kilometer. Memasuki tahun 2026, Pramono meminta Dinas SDA mempercepat pembangunan, terutama pada segmen Asahimas (1,2 km), Ancol Barat Seafront (0,8 km), dan Tanggul Mitigasi Muara Angke (1,1 km).

Adapun delapan klaster pembangunan berada di Kamal Muara, Muara Angke, Pluit, Muara Baru–Pantai Timur, Sunda Kelapa, Ancol, Marunda, dan Tanjungan. Berikut rincian progresnya:

  • Kamal Muara: 0,765 km (selesai)
  • Muara Angke: 1,802 km dari 5,265 km
  • Pluit: 0,390 km dari 5,550 km
  • Muara Baru–Pantai Timur: 4,008 km (selesai)
  • Sunda Kelapa: 1,200 km dari 2,805 km
  • Ancol: 2,020 km dari 2,070 km
  • Marunda: 1,585 km dari 4,556 km
  • Tanjungan: 0 dari 3,260 km

Prioritas Penanganan Banjir Rob

Pramono menyatakan penanganan banjir rob menjadi prioritas. Ia memastikan titik-titik rembesan di Muara Angke, Muara Baru, Sunda Kelapa, Green Bay Pluit, RE Martadinata, Ancol, serta Cilincing–Marunda Pulo telah ditangani. “Saya memahami betul kesulitan warga dan kami terus bekerja memastikan kondisi ini segera tertangani. Kami sudah menjadikan hal ini sebagai prioritas,” ujarnya.

Pembangunan NCICD Fase A diharapkan dapat menekan risiko banjir rob dan meningkatkan kualitas lingkungan pesisir Jakarta. Meskipun progres saat ini masih di bawah target, langkah-langkah perbaikan darurat dan penguatan infrastruktur tetap dilakukan untuk memastikan keandalan tanggul pengaman pantai. Dengan perencanaan yang matang dan koordinasi yang baik antara pemerintah dan pihak terkait, diharapkan Jakarta dapat lebih siap menghadapi ancaman banjir rob di masa depan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan