
Pertumbuhan Bisnis Data Center di Tengah Adopsi AI yang Berkembang
NeutraDC, anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, mencatatkan pertumbuhan bisnis data center seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi Artificial Intelligence (AI). Meski demikian, kontribusi beban kerja AI saat ini masih berada pada tahap awal. CEO NeutraDC, Andreuw Th.A.F., mengungkapkan bahwa total kapasitas data center yang telah terutilisasi hingga saat ini berada di kisaran 31,8 megawatt (MW).
Meskipun tidak merinci secara detail peningkatan permintaan yang terjadi, Andreuw memastikan bahwa pertumbuhan tersebut berjalan sehat dan sesuai dengan strategi ekspansi bertahap perusahaan. Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan AI saat ini masih bersifat selektif dan berada pada tahap awal.
Kondisi ini mencerminkan situasi pasar Indonesia, di mana adopsi AI masih berkembang secara bertahap. Namun, NeutraDC mulai melihat sinyal permintaan yang semakin jelas, terutama dari pelanggan cloud, hyperscaler, serta segmen enterprise yang tengah mempersiapkan infrastruktur untuk mendukung kebutuhan AI di masa depan.
Fokus pada Pengembangan Kapasitas Baru yang AI-Ready
Memasuki tahun 2026, fokus utama NeutraDC adalah memastikan setiap pengembangan kapasitas baru telah dirancang secara AI-ready sejak awal. Hal ini mencakup kesiapan dari sisi kepadatan daya (power density), sistem pendinginan, hingga konektivitas jaringan. Perusahaan juga akan melanjutkan pengembangan data center hyperscale secara bertahap dengan pendekatan market-driven, sehingga pertumbuhan kapasitas tetap selaras dengan kebutuhan riil pelanggan.
Selain itu, NeutraDC juga memperkuat konektivitas regional, termasuk melalui kawasan SIJORI (Singapura–Johor–Riau). Langkah ini diambil karena perusahaan melihat kebutuhan AI ke depan akan semakin bersifat lintas negara. Pendekatan ini memungkinkan NeutraDC untuk menangkap potensi AI secara berkelanjutan, sekaligus menjaga efisiensi dan utilisasi jangka panjang.
Proyeksi Pertumbuhan Kapasitas Pusat Data di Indonesia
Sebelumnya, Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) memperkirakan kebutuhan kapasitas pusat data (data center) di Indonesia pada 2026 akan tumbuh sekitar 35%–45% dibandingkan 2025. Proyeksi tersebut sejalan dengan meningkatnya pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) generatif, otomatisasi industri, serta kebutuhan pengolahan data secara real-time.
Ketua IDPRO, Hendra Suryakusuma, menyatakan bahwa secara lebih spesifik, kebutuhan kapasitas listrik (power demand) industri pusat data diprediksi meningkat hingga 300–400 megawatt (MW) dalam 1–2 tahun ke depan. "Ini didorong oleh permintaan hyperscale dan edge data center yang mendukung aplikasi AI," ujar Hendra.
Data resmi PT PLN (Persero) mengindikasikan bahwa pada 2030 kapasitas industri pusat data di Indonesia akan mencapai 2,3 gigawatt (GW). Namun, Hendra menilai proyeksi tersebut belum sepenuhnya memasukkan faktor penggunaan AI, khususnya server berbasis GPU yang membutuhkan daya per rak (power per rack) sangat besar, bahkan dapat mencapai 135 kilowatt (kW) untuk GPU GB200.
Hendra menyebut IDPRO melihat adopsi dan pemanfaatan AI berlangsung secara masif di berbagai sektor, baik swasta maupun publik, yang pada akhirnya akan mendorong lonjakan kebutuhan kapasitas dan kapabilitas pusat data di Indonesia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar