Pengungkapan Jejak Buruh Musiman di Ijen Bondowoso

Pengungkapan Jejak Buruh Musiman di Ijen Bondowoso

Sejarah Pesanggrahan di Kecamatan Ijen

Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, menyimpan sejumlah bangunan peninggalan kolonial Belanda yang hingga kini masih bisa dijumpai. Salah satu bangunan tersebut dikenal dengan nama Pesanggrahan. Bangunan ini dulunya berfungsi sebagai tempat penampungan bagi buruh kebun musiman.

Dalam bahasa Belanda, bangunan ini disebut braak. Lokasinya berada sekitar 50 meter dari Kantor Kecamatan Ijen, tepatnya berseberangan dengan KUA Ijen dan Dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). Meskipun struktur utamanya relatif tidak berubah, kondisi fisik bangunan menunjukkan sejumlah kerusakan. Beberapa bagian plafon atap terlihat menggantung dan mulai lapuk. Di dalamnya terdapat ruang tamu serta pintu penghubung menuju ruang-ruang lain yang bersifat terbuka.

Fungsi dan Struktur Bangunan

Pada masa kolonial Belanda, kawasan Ijen sering didatangi oleh buruh kebun musiman dari Madura, terutama saat musim panen. Mereka dipekerjakan selama musim panen dan tinggal serta beristirahat di Pesanggrahan. Subkoordinator Sejarah dan Cagar Budaya Bidang Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso, Hery Kusdaryanto, menjelaskan bahwa informasi ini diperoleh dari hasil wawancara dengan masyarakat setempat karena belum ditemukan catatan sejarah tertulis yang secara spesifik membahas bangunan tersebut.

Menurut Hery, Pesanggrahan umumnya dilengkapi dengan fasilitas dasar seperti dapur dan kamar mandi, serta ruang los tanpa sekat kamar tidur. “Biasanya yang memiliki kamar tersendiri hanya kepala pekerja,” tambahnya.

Perkiraan Usia dan Arsitektur

Meski tidak memiliki data arsip resmi, Hery memperkirakan bangunan ini berasal dari akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, berdasarkan bentuk dan model arsitektur yang masih bertahan. Perkiraan ini diperkuat dengan perbandingan pada bangunan kolonial lain di kawasan Ijen, seperti homestay Catimor, yang memiliki karakter material serupa.

Dari sisi konstruksi, bangunan Pesanggrahan menggunakan material bambu dengan alas plester semen. Material ini, menurut Hery, lazim digunakan untuk rumah dinas sinder atau pekerja tetap pada masa kolonial. Sementara bangunan yang difungsikan sebagai kantor administratur atau kantor utama perkebunan umumnya dibangun menggunakan tembok permanen.

Stratifikasi Sosial dalam Sistem Kerja Kolonial

“Dari perbedaan material dan fungsinya, bisa dilihat adanya stratifikasi peran dalam sistem kerja kolonial saat itu,” tambah Hery. Hal ini mencerminkan adanya perbedaan status sosial antara para pekerja musiman dan pekerja tetap.

Bangunan Pesanggrahan memiliki ciri khas dinding gedek (anyaman bambu) dan lantai plester semen. Dulu, bangunan ini difungsikan sebagai hunian buruh kebun musiman. Saat ini, meskipun sudah mengalami kerusakan, bangunan tersebut masih menjadi salah satu bukti sejarah yang penting untuk diketahui dan dilestarikan.

Pentingnya Pelestarian Warisan Budaya

Pelestarian bangunan-bangunan peninggalan kolonial seperti Pesanggrahan sangat penting untuk menjaga warisan budaya dan sejarah lokal. Selain itu, bangunan ini juga dapat menjadi objek wisata sejarah yang menarik bagi masyarakat dan para peneliti.

Dengan adanya informasi dan upaya pelestarian, bangunan-bangunan seperti Pesanggrahan dapat tetap menjadi saksi bisu dari masa lalu yang kaya akan nilai sejarah dan budaya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan