
ACEH TAMIANG, berita
Pengungsi korban banjir di Provinsi Aceh mengeluhkan minimnya penanganan dampak banjir dan longsor yang terjadi di 18 kabupaten/kota pada 26 November 2025 lalu.
Banyak pengungsi menyampaikan keluhan mereka kepada berita, Jumat (12/12/2025), bahwa bencana banjir disertai lumpur tebal membuat warga tidak bisa melarikan diri. Banyak bangunan, mulai dari rumah hingga fasilitas umum, rusak parah akibat banjir.
Amiruddin, salah seorang pengungsi di Desa Pahlawan, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, menjelaskan bahwa hingga dua pekan setelah banjir, belum ada upaya besar-besaran untuk membantu para korban.
Bahkan listrik, air bersih, dan sinyal telepon saja tidak ada. Kami harus keluar ke perbatasan Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, atau Langsa untuk mencari bahan pangan, kata Amiruddin melalui telepon.
Kepergian ke luar Aceh Tamiang bukan hanya untuk mencari bahan pangan, tetapi juga untuk mencari sinyal telepon agar bisa menyampaikan informasi ke keluarga. Ia meminta pemerintah pusat mengerahkan seluruh kekuatan untuk membantu pengungsi.
Kami butuh air bersih, kelambu, terpal, dan bahan pangan. Nyamuk banyak sekali dan besar-besar, itu nyamuk malaria, katanya.
Hal yang sama disampaikan oleh Kepala Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Fazir Ramli.
Satu dusun di desa saya rata dengan tanah. Mirip tsunami, air sungai meluap langsung menghancurkan semuanya, ujarnya.
Namun, saat bencana tsunami terjadi, bantuan dari pemerintah pusat tiba sangat cepat. Kali ini, meski musibahnya mirip dengan tsunami, bantuan dari pemerintah pusat sangat minim.
Kalau tsunami dulu, penanganan cepat sekali. Kali ini, musibahnya mirip tsunami, penanganannya tidak mirip sama sekali, tambah Fazir.
Kerja Sama Pusat dan Daerah
Menko Polkam RI Djamari Chaniago, saat meninjau dampak banjir di Aceh Utara, menyebutkan bahwa semua orang punya keterbatasan. Karena itu, kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk menyelesaikan seluruh permasalahan korban banjir.
Dia berjanji bahwa pemerintah pusat akan mengerahkan seluruh upaya untuk mempercepat penanganan dampak banjir di Aceh.
Pak Bupati punya keterbatasan, saya punya keterbatasan, semua punya keterbatasan sebagai manusia. Kita kerja sama, maka semua keterbatasan itu akan bisa kita atasi, tuturnya.
Beberapa langkah penting yang perlu dilakukan antara lain:
- Pemulihan infrastruktur seperti jalan, rumah, dan fasilitas umum yang rusak akibat banjir.
- Penyediaan logistik dasar seperti air bersih, makanan, serta perlengkapan darurat seperti terpal dan kelambu.
- Peningkatan pengawasan kesehatan masyarakat, terutama untuk mencegah wabah penyakit seperti malaria yang disebabkan oleh nyamuk.
- Pemulihan komunikasi, termasuk memperbaiki sinyal telepon dan internet untuk memudahkan koordinasi antara pihak berwenang dan pengungsi.
- Penyusunan rencana tanggap darurat jangka panjang yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan instansi terkait.
Selain itu, diperlukan adanya koordinasi yang lebih baik antara pemerintah pusat dan daerah dalam menghadapi bencana alam. Hal ini akan memastikan bahwa bantuan dapat didistribusikan secara cepat dan efisien, sesuai dengan kebutuhan yang mendesak.
Dengan kolaborasi yang kuat dan komitmen yang tinggi, diharapkan masyarakat Aceh dapat segera pulih dari dampak bencana yang terjadi dan kembali menjalani kehidupan normal.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar