
Pergantian Tahun, Harapan dan Tantangan bagi Penjual Terompet
Menjelang pergantian tahun, banyak penjual terompet memanfaatkan momen ini untuk menambah penghasilan. Meskipun penjualan tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya, mereka tetap bersyukur atas rezeki yang diperoleh. Berikut kisah para penjual terompet di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Penjual Terompet di Sukoharjo
Di kawasan The Park Mall Solo Baru, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, para penjual terompet mulai bermunculan menjelang malam tahun baru. Wastono (65), warga Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, mengaku sudah dua hari berjualan di tempat tersebut. Ia menjual terompet buatannya sendiri dengan harga mulai dari Rp15 ribu hingga Rp30 ribu per buah.
“Baru dua hari ini jualan di The Park Solo Baru. Saya buat sendiri tiap tahun. Hari ini laku sekitar tiga ratus ribuan,” ujar Wastono, Rabu (31/12/2025).
Untuk berjualan, Wastono membawa dagangannya menggunakan sepeda motor dari Wonogiri ke The Park Mall Solo Baru dengan jarak kurang lebih 71 Kilometer. Ia berencana bertahan hingga malam pergantian tahun.
Wastono menambahkan, dirinya sudah berjualan terompet sejak tahun 2002, jauh sebelum pandemi Covid-19. Namun, ia mengakui kondisi penjualan saat ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dulu pernah ramai sekali, sekarang tidak terlalu ramai, tapi tetap disyukuri,” pungkasnya.
Cuaca Memengaruhi Penjualan
Di kawasan Stadion Pakansari, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, penjual terompet dan kembang api juga cukup banyak dijumpai. Salah satu pedagang, Bayu (37), mengatakan, sudah menjajarkan dagangannya sejak dua hari lalu di lokasi tersebut.
Harga terompet dijual mulai dari Rp10 ribu hingga Rp35 ribu. “Saya itu jualan cuma momen tahun baru doang, kalau bulan puasa jualannya di rumah, itu juga yang jualan ade ipar,” ujarnya saat dijumpai.
Ia telah berjualan pernak pernik tahun baru sejak tahun 2014. Menurutnya, menjual pernak pernik tahun baru dari segi pendapatan cukup menjanjikan meskipun hanya setahun sekali. Sehingga Ia tak pernah melewatkan momen pergantian tahun untuk berjualan dan bahkan istrinya ikut berkecimpung di lapak yang berbeda.
“Karna emang jualan dari dulu, jadi momen tahun baru itu sayang saya lewatin, dari cuma punya lapak satu sampe sekarang punya tiga,” katanya.
Namun, Bayu menyebut penghasilannya pada momen tahun baru ini cenderung menurun dibanding tahun sebelumnya. Menurutnya, hal ini dipengaruhi oleh faktor cuaca yang selalu turun hujan sehingga penjualannya menurun.
“Masih landai aja dari kemaren, engga kayak tahun kemaren, sekarang lebih anyep, jauh banget. Kayaknya cuaca, soalnya kemren cuaca gak bagus ujan terus, sebenernya saya mau buka lapak dari tanggal 28, karna ujan terus akhirnya dari 30 aja,” katanya.
Penjual dengan Usaha Lain
Banyak penjual terompet musiman memiliki usaha lain selain berjualan terompet. Namun, mereka memilih berjualan terompet di momen pergantian tahun karena prospek menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Meski daya beli terompet tahun ini dinilai berkurang, para penjual tetap bersyukur dan berharap rezeki di pergantian tahun. Mereka percaya bahwa setiap momen memiliki peluang tersendiri, baik dalam bentuk keuntungan maupun pengalaman.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar