Penjualan Mobil 2025 Turun, Kemenperin Usulkan Insentif ke Kemenkeu


nurulamin.pro.CO.ID - JAKARTA

Penurunan penjualan mobil di tahun 2025 menjadi perhatian khusus dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Kemenperin telah mengajukan sejumlah usulan insentif untuk sektor otomotif dengan harapan mampu meningkatkan pertumbuhan pada tahun 2026.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melaporkan bahwa hingga Januari–November 2025, jumlah penjualan mobil baru mencapai 710.084 unit. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 9,6% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, yaitu sebanyak 785.917 unit secara wholesales.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta memproyeksikan bahwa penjualan mobil hingga akhir tahun 2025 akan berada di bawah 800.000 unit. Proyeksi ini didasarkan pada rata-rata penjualan bulanan yang hanya mencapai 60.000–70.000 unit.

"Jika melihat pola penjualan setiap bulan antara 60.000–70.000 unit, untuk mencapai 800.000 unit tampaknya sulit tercapai pada tahun ini. Estimasi kami adalah sekitar 775.000 unit," ujar Setia dalam konferensi pers Kinerja Industri Manufaktur 2025 dan Outlook Industri Manufaktur 2026, Rabu (31/12/2025).

Penurunan penjualan mobil juga memberi dampak pada kinerja sub sektor industri alat angkut. Hingga triwulan III-2025, industri alat angkut mengalami kontraksi sebesar -1,95%. Namun, Kemenperin menargetkan pertumbuhan positif sebesar 2,93% untuk tahun 2026.

Usulan Insentif Otomotif 2026

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa kontraksi di industri otomotif pada tahun ini memerlukan dukungan dari pemerintah. Menurut Agus, diperlukan insentif atau stimulus agar kinerja industri otomotif dapat kembali tumbuh pada tahun 2026.

Agus menjelaskan bahwa industri otomotif memiliki keterkaitan ekosistem yang besar terhadap sektor manufaktur. "Melihat data kontraksi sebesar -1,95%, maka Kemenperin memiliki kewajiban untuk mengusulkan insentif. Fokus kami adalah melindungi tenaga kerja yang ada di ekosistem otomotif karena adanya backward–forward linkage yang signifikan," ujarnya.

Kemenperin telah mengirimkan usulan insentif otomotif tahun 2026 kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Meski belum membuka detail poin-poin usulan tersebut, Agus memberikan sedikit bocoran bahwa skema insentif yang diajukan lebih rinci dibandingkan insentif yang diberikan saat masa pandemi covid-19 lalu.

Usulan insentif otomotif tahun 2026 mempertimbangkan beberapa faktor seperti segmen pasar, jenis teknologi, besaran Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta nilai emisi. "Yang penting adalah kami sangat memperhatikan konsumen. Untuk entry car atau pembeli pertama, menjadi prioritas utama. Mengenai angka-angkanya belum bisa saya sampaikan sekarang," jelas Agus.

Agus memastikan bahwa usulan insentif yang disampaikan oleh Kemenperin telah mempertimbangkan masukan dari Gaikindo selaku asosiasi pelaku industri otomotif. Kemenperin akan melakukan pembahasan intensif dengan Kemenkeu untuk mempertimbangkan cost – benefit dari usulan insentif otomotif pada tahun 2026.

"Kami akan menjelaskan secara teknokratis. Masyarakat menunggu, tapi kami juga memperhatikan hitungan cost & benefit. Kami tidak ingin usulan ini menyebabkan defisit negara, jadi benefit-nya harus lebih besar daripada cost baik direct maupun indirect," tandas Agus.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan