Penjualan mobil belum capai target, insentif tetap berlanjut?

Kinerja Industri Otomotif Indonesia pada Tahun 2025


Industri otomotif di Indonesia mengalami perlambatan kinerja pada tahun 2025. Berbagai lembaga dan pihak terkait, seperti Kementerian Perindustrian (Kemenperin) serta Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), memproyeksikan bahwa penjualan mobil sepanjang tahun ini tidak akan mencapai level psikologis 800.000 unit. Artinya, angka penjualan mobil pada tahun 2025 akan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Gaikindo mencatat bahwa penjualan wholesales (pabrik ke dealer) mobil pada tahun 2024 mencapai 865.723 unit. Sementara itu, hingga November 2025, penjualan mobil baru hanya mencapai 710.084 unit, turun sebesar 9,6% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta, memproyeksikan bahwa penjualan mobil hingga akhir tahun 2025 akan berada di bawah 800.000 unit. Proyeksi ini didasarkan pada tingkat penjualan bulanan yang rata-rata hanya menyentuh 60.000 hingga 70.000 unit per bulan.

"Jika melihat pola penjualan setiap bulan 60.000 hingga 70.000 unit, untuk mencapai 800.000 unit sepertinya akan sulit. Jadi estimasi kami, proyeksinya sekitar 775.000 unit," ujar Setia dalam konferensi pers Kinerja Industri Manufaktur 2025 dan Outlook 2026, Rabu (31/12/2025).

Pada kesempatan terpisah, Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika juga memiliki proyeksi serupa. Ia menyatakan bahwa penjualan mobil tidak akan mencapai 800.000 unit sampai akhir tahun 2025. Gaikindo memproyeksikan penjualan mobil hanya menyentuh sekitar 780.000 unit, lebih rendah dari proyeksi awal yang sebesar 850.000 unit.

"Internal Gaikindo baru memproyeksikan bahwa penjualan pada tahun 2025 sekitar 780.000, itu prognosanya. Intinya dengan kondisi saat ini sulit mengatakan optimis, masih so-so saja, posisinya masih begitu," kata Putu saat ditemui pada Rabu (31/12/2025).

Putu menyoroti bahwa penurunan penjualan mobil terutama terjadi pada segmen pasar entry-low level dan segmen komersial. Menurutnya, penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kondisi perekonomian, implementasi opsi pajak, serta faktor pembiayaan.

"Karena 70% lebih kendaraan bermotor itu kredit. Kalau pembiayaan ada permasalahan atau kurang mendukung, itu akan berdampak. Sudah kami petakan semua apa-apa yang perlu dilakukan untuk bisa mendorong, paling tidak jangan sampai jatuh lagi," imbuh Putu.

Penjualan Mobil Indonesia Tersalip Malaysia

Tingkat penjualan mobil Indonesia tersalip oleh Malaysia yang pada tahun ini mendekati 800.000 unit. Menurut Putu, salah satu faktor yang mendorong laju penjualan mobil di Malaysia adalah pemberian stimulus. Hal ini menjadi perhatian bagi industri otomotif Indonesia yang ingin kembali bangkit.

Usulan Insentif Otomotif 2026

Untuk kembali menggairahkan industri dan pasar otomotif, Putu berharap ada dorongan insentif. Gaikindo telah melakukan pembicaraan dengan Kemenperin terkait insight kondisi industri yang menjadi bahan pertimbangan untuk usulan insentif otomotif pada tahun 2026. Hanya saja, Putu enggan merinci pembahasan maupun usulan dari Gaikindo yang disampaikan kepada Kemenperin.

Putu menyoroti bahwa usulan insentif tersebut turut mempertimbangkan segmen pasar. Apalagi, penurunan penjualan terjadi pada segmen mobil yang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dengan bobot tinggi.

"Segmen pasar yang turun sekarang ekosistemnya berkembang, TKDN tinggi. Industri otomotif berupaya jangan sampai ekosistem terganggu, itu yang dijaga. Kami berharap stimulus itu tetap ada. Kalau ada, itu bisa membantu," ungkap Putu.

Peran Pemerintah dalam Mendorong Pertumbuhan Industri

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengamini perlu adanya dukungan dari pemerintah berupa insentif atau stimulus agar kinerja industri otomotif bisa kembali tumbuh pada tahun 2026. Agus pun menyoroti kontraksi di industri otomotif pada tahun 2025.

Penurunan penjualan mobil turut menekan kinerja industri alat angkutan yang mengalami kontraksi -1,95% hingga kuartal III-2025. Kemenperin ingin mendongkrak kinerja industri alat angkutan agar bisa tumbuh 2,93% pada tahun 2026, sehingga bisa memberikan kontribusi 1,41% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Agus bilang, industri otomotif memiliki keterkaitan ekosistem industri (backward–forward linkage) yang besar terhadap sektor manufaktur. "Fokus kami melindungi tenaga kerja yang ada di ekosistem otomotif, karena backward–forward linkage yang besar, maka harus dilindungi," kata Agus.

Usulan Insentif Otomotif Tahun 2026

Kemenperin pun telah menyerahkan usulan insentif otomotif tahun 2026 kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Hanya saja, Agus belum membuka secara rinci poin-poin usulan insentif tersebut. Hal ini dilakukan agar tidak memicu spekulasi di kalangan industri maupun di tengah masyarakat.

Agus hanya memberikan bocoran bahwa Kemenperin mengusulkan skema yang lebih detail dibandingkan insentif yang diberikan ketika masa covid-19 lalu. Usulan insentif otomotif tahun 2026 mempertimbangkan segmen pasar, jenis teknologi, besaran TKDN, serta nilai emisi terkait aspek lingkungan.

"Kami sudah menyelesaikan dengan proses panjang dan rumit, bagaimana bisa mengkristalisasikan begitu banyak opsi, come up menjadi satu opsi yang sudah saya usulkan ke Menteri Keuangan. Yang harus digarisbawahi adalah kami memperhatikan konsumen. Kalau bicara entry car, first buyer, menjadi prioritas. Mengenai angka-angkanya belum bisa saya buka sekarang," terang Agus.

Meski begitu, Agus menegaskan bahwa pemberian insentif untuk sektor otomotif ini tetap mempertimbangkan kemampuan fiskal atau anggaran negara. Kemenperin pun akan melakukan pembahasan intensif dengan Kemenkeu untuk mempertimbangkan cost - benefit dari usulan insentif otomotif tahun 2026.

"Kami akan menjelaskan secara teknokratis. Masyarakat menunggu, tapi kami juga memperhatikan hitungan cost & benefit. Kami tidak mau usulan ini membuat negara defisit, jadi benefit-nya harus lebih besar daripada cost baik direct maupun indirect," tandas Agus.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan