Penutup Tahun 2025: IKADIM dan AHC Gelar Webinar Nasional Kepemimpinan Kebahagiaan

Penutup Tahun 2025: IKADIM dan AHC Gelar Webinar Nasional Kepemimpinan Kebahagiaan

Webinar Nasional Happiness Leadership: Membangun Kepemimpinan yang Menginspirasi

Webinar Nasional Happiness Leadership yang diadakan oleh Ikatan Doktor Ilmu Manajemen (IKADIM) bekerja sama dengan Amanah Human Capital (AHC) sukses digelar pada Rabu, 31 Desember 2025. Acara ini menjadi penutup tahun yang penuh makna, sekaligus momen penting untuk merefleksikan makna kepemimpinan dalam era yang penuh tekanan dan ketidakpastian.

Tema utama webinar kali ini adalah “Memimpin SDM di Era Penuh Tekanan dan Ketidakpastian”. Dengan tema ini, acara bertujuan untuk menggugah kesadaran akan pentingnya kepemimpinan yang tidak hanya efektif, tetapi juga membahagiakan, menyejahterakan, dan memanusiakan manusia di semua level organisasi.

Webinar ini mendapat antusiasme luar biasa dari ratusan peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk pemerintahan, korporasi, organisasi sosial, hingga akademisi. Peserta merasa bahwa isu kebahagiaan sangat relevan dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks dan penuh tekanan.

Acara ini menghadirkan beberapa pembicara nasional yang memiliki pengalaman dan keahlian lintas sektor. Antara lain:

  • Dr. Jazuli Juwaini, Ketua Umum IKADIM, sebagai Keynote Speaker
  • Dr. Dingot Hamonangan Ismail, Penulis buku 9 Kebiasaan Manusia Super Bahagia
  • Dr. Baskara Agung Wibawa, Praktisi Korporasi dan Anggota Komite BPH Migas
  • Dr. Sri Sundari, Pejabat di Lingkungan Setjen DPD RI dan Motivator Energi Kebahagiaan
  • Dr. Danang Aziz Akbarona, Penulis buku From Success to Happiness

Dalam sambutannya, Dr. Jazuli Juwaini menyampaikan bahwa IKADIM bersama AHC memiliki peran strategis dalam menyebarkan nilai kebahagiaan melalui praktik kepemimpinan yang beretika dan berorientasi pada kesejahteraan manusia. Ia menekankan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang memberi teladan, memiliki tujuan yang jelas, memberdayakan, memotivasi kemajuan, dan menyejahterakan yang dipimpinnya—baik karyawan, masyarakat, maupun bangsa.

Ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang menuntut pengorbanan dan tanggung jawab penuh untuk membahagiakan orang lain. Dalam pidatonya, ia mengutip Hadits Nabi Muhammad SAW: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka.”

Ketua Umum IKADIM periode 2025–2030 ini berharap dan berdoa agar pemimpin bangsa benar-benar mencintai rakyatnya dan dicintai rakyatnya, karena di sanalah ada ketulusan, keikhlasan, kesabaran, dan tanggung jawab sejati. Doa yang sama juga disampaikannya untuk para pemimpin di level masing-masing.

Dari perspektif kebahagiaan, Dr. Dingot Hamonangan Ismail menjelaskan bahwa kebahagiaan yang langgeng dan berkualitas tidak instan, melainkan dibangun di atas sembilan pilar utama. Beberapa di antaranya adalah iman dan takwa, zikir-pikir-sabar-syukur, keluarga atau tim yang bahagia, kinerja unggul, serta mengisi waktu dengan pekerjaan yang baik dan bermanfaat.

Pakar SDM dan Asesor BNSP ini menegaskan bahwa kebahagiaan tertinggi adalah perjumpaan dengan Allah SWT, yang harus dipersiapkan dengan mempertanggungjawabkan seluruh amanah kehidupan. Ia menambahkan bahwa pemimpin yang sadar akan hal ini akan terus berkarya, mewariskan legacy, dan mencetak kader.

Dari sudut pandang korporasi, Dr. Baskara Agung Wibawa memaparkan realitas kepemimpinan di dunia usaha yang sering kali dihadapkan pada karyawan yang tidak bahagia dan mengalami demotivasi. Menurutnya, pemimpin memiliki peran kunci untuk menghadirkan kebahagiaan dengan menjadi sosok yang melindungi, memberi rasa aman, sekaligus membangun organisasi yang kondusif bagi pertumbuhan dan keberlanjutan.

Menurut Anggota Komite BPH Migas ini, kepemimpinan yang membahagiakan memungkinkan semua potensi SDM dalam organisasi keluar menjadi nyata, terus tumbuh mencapai titik maksimalnya. Mereka merasa nyaman, bermakna, dihargai, dan bertumbuh sebagai manusia.

Sementara itu, Dr. Sri Sundari menekankan bahwa inti kebahagiaan terletak pada kesadaran akan rahmat Tuhan yang melekat dalam diri setiap manusia, seperti nafas, usia, dan berbagai kekayaan nonmateri lainnya. Ia menegaskan bahwa akar kebahagiaan bersifat internal dan harus terus ditumbuhkan sepanjang hayat.

Pejabat di lingkungan Sekretariat DPD RI ini mengajak peserta untuk terbiasa berbuat baik, berprasangka baik, menerima semua takdir dengan ikhlas, sabar, dan tawakal sambil terus berikhtiar menjadi pribadi dengan kemampuan dan kepribadian terbaik.

Menutup rangkaian pemaparan, Dr. Danang Aziz Akbarona menyimpulkan bahwa puncak kebahagiaan bermuara pada spiritualitas. Ia merujuk pada teori kecerdasan mutakhir yang menyatakan bahwa the ultimate intelligence adalah kecerdasan spiritual. Pemimpin yang membahagiakan adalah mereka yang bekerja dengan tujuan, penuh makna, bermanfaat, dan berpijak pada nilai-nilai kebenaran serta kebaikan.

Pemimpin yang membahagiakan mampu mengelola SDM sesuai fitrahnya yang holistik, bahwa manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi justru manusia sejatinya adalah makhluk spiritual. Dengan spiritualitas yang baik, semua potensi lain seperti fisik, intelektual, dan emosional akan terbuka dan berkembang pesat.

Webinar Nasional Happiness Leadership ini menjadi penutup tahun yang bermakna, sekaligus penegasan komitmen IKADIM dan Amanah Human Capital untuk terus mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin yang tidak hanya sukses secara struktural, tetapi juga mampu menghadirkan kebahagiaan dan harapan di tengah ketidakpastian zaman.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan