Penyakit Bakteri yang Mengancam Saat Berenang atau Terendam Banjir


aiotrade,
JAKARTA — Banjir yang disebabkan oleh curah hujan tinggi dan minimnya area resapan meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Musim hujan diprediksi akan memasuki Indonesia pada bulan September hingga November 2025. Beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan sudah mulai merasakan hujan sebelum masa tersebut. Musim hujan ini akan meluas ke wilayah selatan dan timur, dengan sebagian besar daerah diperkirakan mengalami curah hujan tinggi pada September, Oktober, dan November 2025. Curah hujan yang tinggi ini meningkatkan risiko terjadinya genangan air dan banjir.

Berenang di air banjir dapat menyebabkan berbagai penyakit dan bakteri yang menyerang anak-anak maupun orang dewasa. Oleh karena itu, penting untuk menghindari kontak langsung dengan genangan air banjir demi menjaga kesehatan.

Penyakit dan Bakteri Akibat Berenang di Banjir

  1. Infeksi Amoeba Naegleria Fowleri
    Infeksi Naegleria fowleri merupakan kondisi serius yang dapat menimbulkan primary amebic meningoencephalitis, yaitu peradangan otak yang perlahan merusak jaringan otak. Gejala awal biasanya muncul dalam bentuk mual dan muntah, sekitar lima hari setelah seseorang terpapar amoeba ini. Selain itu, gejala lain dapat berkembang dalam jangka 2 hingga 15 hari setelah paparan, termasuk perubahan pada indera penciuman atau pengecap, demam, sakit kepala mendadak, dan leher kaku. Tanda-tanda tambahan yang mungkin muncul mencakup sensitivitas terhadap cahaya, linglung, kehilangan keseimbangan, rasa kantuk, kejang-kejang, mual, muntah, serta halusinasi, yang semuanya menunjukkan tingkat keparahan infeksi ini.

  2. Diare
    Diare termasuk penyakit saluran pencernaan yang paling umum muncul saat terjadi banjir. Kondisi ini perlu ditangani dengan cepat agar tidak menimbulkan komplikasi serius. Penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah dehidrasi parah, yang bisa menyebabkan penurunan kesadaran hingga kematian. Masyarakat perlu waspada dan segera mengambil langkah pengobatan atau pertolongan medis bila gejala muncul.

  3. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
    Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sering disebabkan oleh bakteri, virus, maupun mikroba lainnya. Beragam penyebab ini membuat penyakit ini cukup umum menyerang sistem pernapasan masyarakat. Gejala yang paling sering terlihat adalah batuk dan demam. Pada kondisi yang lebih berat, penderita bisa mengalami sesak napas, nyeri dada, serta gejala tambahan lain yang membutuhkan penanganan medis segera.

  4. Tifus (Demam Tifoid)
    Salmonella typhi menjadi penyebab tifus atau demam tifoid, yang dapat menyebar dengan mudah melalui genangan air. Keberadaan bakteri ini membuat air banjir menjadi salah satu sumber penularan yang berisiko tinggi. Anak-anak berpotensi tertular tifus jika bermain atau berenang di air banjir yang terkontaminasi bakteri. Risiko penularan semakin besar apabila mereka tidak sengaja menelan air banjir saat bermain.

  5. Leptospirosis
    Penyakit leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira dan termasuk salah satu penyakit zoonosis karena dapat ditularkan melalui hewan. Di Indonesia, tikus menjadi hewan penular utama melalui kotoran dan air kencingnya. Pada saat banjir, tikus yang tinggal di liang-liang tanah akan keluar untuk menyelamatkan diri. Jika seseorang memiliki luka dan terendam air banjir yang tercampur kotoran atau kencing tikus yang mengandung bakteri, akan berpotensi terinfeksi leptospirosis.

  6. Penyakit Kulit
    Berenang atau bermain di air banjir berisiko mengalami berbagai penyakit kulit, seperti infeksi jamur, eksem, dermatitis kontak iritan, folikulitis, dan dermatitis venenata akibat gigitan serangga. Paparan ini membuat kulit mereka lebih mudah terkena iritasi dan infeksi. Selain masalah kulit, air banjir juga berpotensi tercemar oleh bahan kimia berbahaya, oli, gas, dan zat toksik lainnya. Apabila tertelan air yang terkontaminasi, bisa mengalami keracunan, yang menjadi salah satu risiko serius dari bermain di banjir.

  7. Hipotermia
    Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh turun secara drastis, biasanya di bawah 35 derajat Celcius, padahal suhu normal tubuh sekitar 37 derajat Celcius. Keadaan ini menunjukkan bahwa tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya untuk mempertahankan suhu. Jika terlalu lama berada atau berenang di air banjir berpotensi mengalami hipotermia. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berakibat fatal hingga menyebabkan kematian.

  8. Demam Berdarah atau Malaria
    Genangan air banjir menciptakan tempat yang nyaman bagi nyamuk untuk berkembang biak. Lingkungan seperti ini membuat jumlah nyamuk meningkat secara signifikan di sekitar area banjir. Bermain atau berenang di air banjir berisiko tinggi digigit nyamuk. Gigitan nyamuk ini dapat menularkan penyakit serius seperti demam berdarah dan malaria.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan