
Penyebab Kematian Pratu Farkhan Syauqi Marpaung Masih Dalam Penyelidikan
Kasus kematian Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, anggota TNI yang dugaan tewas akibat penganiayaan, sedang dalam penyelidikan oleh pihak TNI AD. Komandan Brigif 25/Siwah Aceh, Kolonel Infanteri Dimar Bahtera, mengungkap bahwa ada dugaan kekerasan yang dilakukan oleh oknum senior berpangkat Kopral TNI terhadap Pratu Farkhan saat ia menjalankan tugas pengamanan di perbatasan Indonesia–Papua Nugini.
Namun, detail kekerasan tersebut masih belum dapat diungkapkan secara lengkap karena proses penyelidikan masih berlangsung. Kasus ini telah ditangani langsung oleh TNI AD atas perintah Panglima TNI dan dikawal oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Terduga pelaku telah diamankan di POM Timika, dan penyelidikan masih terus dilakukan untuk mengetahui apakah ada pelaku lain yang terlibat.
Pratu Farkhan Syauqi Marpaung adalah anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti Aceh. Berdasarkan pangkatnya, kemungkinan besar ia lulus Sekolah Calon Tamtama (Secaba) pada tahun 2023-2024. Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti merupakan satuan militer TNI AD yang berada di bawah Kodam Iskandar Muda (Kodam IM) wilayah Aceh.
Peran Danbrigif 25/Siwah dalam Kasus Ini
Komandan Brigif 25/Siwah, Kolonel Infanteri Dimar Bahtera, menyatakan bahwa Pratu Farkhan adalah prajurit yang tangguh dan memiliki motivasi tinggi. Ia menjadi contoh bagi rekan-rekannya dan dikenal sebagai sosok yang fleksibel, mudah bergaul, serta tegas. Menurut Danbrigif, kasus kematian Pratu Farkhan sedang diusut oleh pihak TNI AD, dan proses penyelidikan dilakukan dengan mekanisme profesional.
Ia juga meminta masyarakat untuk percaya kepada proses hukum dan mendukung penyelidikan yang sedang berlangsung. Meski sudah ada satu orang terduga pelaku yang diamankan, Danbrigif menyatakan bahwa penyelidikan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada pelaku lain yang terlibat.
Keluarga Korban Meminta Kejelasan
S Marpaung, pengurus Persaudaraan Marga Marpaung Kabupaten Asahan, menyampaikan rasa salut atas ketegaran orang tua korban, namun juga melontarkan tuntutan tegas kepada pimpinan tertinggi TNI. Ia meminta Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan KASAD Jenderal Maruli Simanjuntak untuk mengusut tuntas penyebab kematian Pratu Farkhan.
Dugaan kuat adanya penganiayaan oleh oknum senior di balik peristiwa ini membuat keluarga korban sangat resah. Mereka meminta jika nantinya terbukti ada unsur penganiayaan oleh oknum senior, maka sanksi pemecatan adalah harga mati.
Kronologi Penganiayaan yang Dituduhkan
Menurut keterangan ayah korban, Zakaria Marpaung, Pratu Farkhan sempat sakit dan menghangatkan badan di dekat perapian pos pengamanan. Seorang senior berpangkat sersan datang menanyakan kondisinya. Namun, situasi berubah setelah seorang senior lain berpangkat kopral datang dan diduga melakukan kekerasan.
Pratu Farkhan dipukul menggunakan ranting dan dipaksa melakukan sikap tobat. Setelah itu, ia ditendang dan melawan. Zakaria menyatakan bangga dengan anaknya yang berani melawan. Ia merasa kecewa karena anaknya meninggal di tangan sesama TNI, bukan di tangan pihak luar.
Tangisan Ibu Pratu Farkhan
Tangis Marsinah, ibu Pratu Farkhan, pecah saat menceritakan tentang sang anak. Ia tampak tak kuasa menahan duka, tubuhnya sedikit terkulai dengan kepala mendongak ke atas, mulut terbuka lebar seolah meluapkan ratapan yang tertahan. Air mata dan jeritan kesedihan menyatu dalam ekspresi wajahnya yang menggambarkan kehilangan paling dalam seorang ibu terhadap anaknya.
Marsinah tidak menyangka bahwa anaknya telah meninggal dunia dalam tugas yang bukan lain diduga di tangan seniornya sendiri. Ia menyatakan bahwa anaknya menelponnya sebelum meninggal dan mengatakan sedang sakit, namun akhirnya tetap dipukul dan dianiaya.
Rencana Pernikahan yang Tertunda
Pratu Farkhan Syauqi Marpaung juga dikenal memiliki rencana pernikahan dengan kekasihnya setelah pulang dari tugas di perbatasan IND-PNG. Menurut keterangan ayahnya, wanita tersebut menangis histeris di depan rumahnya sambil memeluk foto anaknya. Ia mengatakan bahwa mereka sudah berjanji akan menikah seusai pulang dari pamtas.
Zakaria juga mengungkap bahwa wanita tersebut ikut mengantar anaknya di pelabuhan Aceh saat berangkat ke Papua. Ia mengaku baru mengetahui hal ini setelah anaknya meninggal.
Proses Persemayaman Masih Berlangsung
Hingga saat ini, prosesi persemayaman masih berlangsung di rumah duka dengan penjagaan militer. Pihak keluarga masih menanti kejelasan resmi terkait penyebab pasti gugurnya Pratu Farkhan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar