Perang Dagang AS-China Picu Kenaikan Sewa Pabrik di Tiongkok


Peningkatan permintaan terhadap fasilitas industri di kawasan Tanah Air semakin terasa. Tidak hanya dari perusahaan lokal, tetapi juga dari sejumlah perusahaan asing yang mencari lokasi produksi baru. Salah satu yang paling diminati adalah pabrik siap pakai atau ready-built factory (RBF), serta gudang modern.

Permintaan tersebut didorong oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan tarif impor tinggi Amerika Serikat terhadap produk China. Perusahaan-perusahaan asal Negeri Tirai Bambu ini mulai mencari alternatif lain untuk mempercepat ekspansi produksi tanpa harus menunggu proses pembangunan pabrik sendiri. Hal ini membuat mereka lebih memilih menyewa fasilitas yang sudah tersedia.

Menurut Leads Property, peningkatan permintaan sewa RBF terjadi terutama di kawasan Jabodetabek dan Banten. Perusahaan China biasanya menyewa fasilitas selama tiga hingga lima tahun untuk melakukan uji coba produksi, efisiensi biaya tenaga kerja, serta evaluasi logistik sebelum memutuskan ekspansi jangka panjang. Jenis properti yang paling diminati adalah pabrik siap pakai dan gudang modern.

Kebijakan perdagangan antara Amerika dan China juga menjadi salah satu pemicu meningkatnya permintaan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI), Akhmad Maruf, yang menyebutkan bahwa permintaan tidak hanya datang dari China, tetapi juga dari investor Singapura, Taiwan, Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman.

Akhmad menjelaskan bahwa sektor industri yang paling banyak membutuhkan fasilitas tersebut meliputi industri padat karya, elektronik, packaging, serta manufaktur lain yang fokus pada produksi cepat dan siap ekspor. Ia optimis bahwa permintaan tinggi ini dapat dipenuhi oleh anggota HKI, yang sebagian besar sedang melakukan ekspansi fasilitas. Rata-rata anggota HKI melakukan ekspansi hingga 70%.

Selain itu, kawasan industri kini tidak hanya menyediakan gudang atau pabrik sewa, tetapi juga menawarkan skema joint venture dengan investor yang membutuhkan mitra lokal. Hal ini memberikan peluang baru bagi pengembang dan investor.

Corporate Secretary PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), Muljadi Suganda, mengatakan bahwa pipeline permintaan dari investor asing maupun domestik terus bergerak positif di kawasan Cikarang maupun Kendal. Meski fokus KIJA saat ini adalah penjualan kavling industri, bukan penyewaan pabrik siap pakai, tren permintaan oleh investor asing sangat kuat.

Faktor-faktor seperti relokasi pabrik China ke Asia Tenggara, khususnya untuk sektor padat karya dan consumer goods, turut memperkuat permintaan. Selain itu, ekosistem industri terintegrasi di kawasan Cikarang, biaya yang lebih kompetitif, ketersediaan lahan yang luas di Kendal, serta pertumbuhan konsumsi domestik dan kebijakan pemerintah yang pro-industri juga menjadi alasan utama.

Muljadi menyebutkan bahwa investor asing lebih tertarik terhadap kawasan industri KIJA di Kendal, dengan sektor furnitur, garmen, household goods, dan plastik mendominasi permintaan. Sementara itu, kawasan Cikarang merupakan kombinasi investor asing dan domestik yang membutuhkan ekosistem industri yang lebih matang untuk sektor logistik, elektronik/assembly, dan data center.

Prediksi Muljadi adalah kawasan Kendal akan terus mengalami tren permintaan kavling besar, terutama dari sektor padat karya dan perusahaan yang merelokasi pabrik dari China dan negara-negara Asia lainnya. Dengan pipeline yang sudah ada dan karakter permintaan yang semakin jelas di masing-masing kawasan, ia optimis bahwa permintaan akan tetap kuat ke depannya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan