
Perjalanan Kekuasaan di Keraton Yogyakarta
Hamengkubuwono IV naik takhta dalam usia yang masih belia, dan itulah celah yang dimanfaatkan oleh orang-orang ambisius di sekitar keraton. Di antara mereka, satu nama menonjol sebagai pengendali sesungguhnya dari pemerintahan: Patih Danurejo IV. Setelah Geger Sepehi 1812, keraton Yogyakarta masih seperti rumah besar yang belum sepenuhnya pulih dari guncangan. Banyak bangunan runtuh, banyak martabat hancur. Di tengah kondisi rapuh itu, Belanda kembali berkuasa pada 1816 dan langsung menancapkan pengaruhnya lewat pejabat-pejabat yang bisa diajak bekerja sama. Danurejo IV adalah salah satu yang paling mereka andalkan.
Posisi Sultan yang masih sangat muda membuat kekuasaan sehari-hari berada di tangan para wali raja, dan sebagai patih, Danurejo IV memegang kunci pintu utama pemerintahan. Keputusan-keputusan penting hampir semuanya melewati tangannya. Perlahan, ia membangun lingkaran loyalis: mulai dari kerabat dekat, pegawai administrasi, sampai para penguasa wilayah yang mendapat “jatah khusus” sebagai imbalan dukungan politik.
Ketika Sultan mencapai usia remaja, Diponegoro berharap adiknya itu mulai mengambil kembali kendali negara. Diponegoro yang tinggal di Tegalrejo memantau perkembangan keraton dengan penuh harap. Hubungan mereka sejak kecil begitu dekat. Diponegoro-lah yang mengisi hari-hari Sultan muda dengan bacaan-bacaan sejarah Mataram, etika kepemimpinan, dan kisah wibawa leluhur. Sultan muda tumbuh dengan respek besar terhadap kakaknya.
Namun hubungan harmonis itu mulai retak karena politik internal yang kian panas. Danurejo IV, yang semula terlihat halus dan penuh sopan santun, berubah menjadi figur yang haus kuasa. Ia mulai memengaruhi cara Sultan mengambil keputusan. Setiap audiensi, setiap musyawarah, bahkan setiap surat keluar-masuk keraton harus melewati meja patih. Dan lebih jauh: Belanda mendapat akses langsung untuk mendorong kebijakan yang menguntungkan mereka, semuanya lewat Danurejo IV.
Diponegoro melihat tanda-tanda bahaya itu. Rakyat mengeluh tentang pungutan yang makin tinggi. Para petani tercekik oleh sistem sewa tanah yang baru. Beberapa tanah lungguh bangsawan dialihkan kepada pihak asing. Dan yang paling mengkhawatirkan, Sultan muda tidak lagi bebas menentukan sikap. Lingkaran Danurejo IV mengelilinginya, seakan menjadi pagar yang membatasi ruang geraknya.
Keributan pertama muncul ketika Diponegoro mengkritik keras kebijakan sewa tanah kepada pihak luar yang diprakarsai Danurejo IV. Menurut Diponegoro, tanah adalah sumber kehidupan rakyat dan simbol kedaulatan raja; menjadikannya komoditas untuk keuntungan asing adalah penghinaan terhadap tradisi Mataram. Tapi kritik itu tidak pernah sampai ke telinga Sultan. Lingkaran Danurejo IV justru memutar balik narasi, membuat seolah Diponegoro menghambat kemajuan kerajaan.
Situasi makin panas ketika Danurejo IV mulai mengatur pertemuan-pertemuan Sultan dengan utusan Belanda tanpa persetujuan wali lain. Paku Alam I dan Ratu Ibu sebenarnya tidak sepenuhnya setuju, tetapi kekuatan politik sang patih sudah terlalu kuat untuk ditantang secara frontal. Dalam banyak hal, Sultan muda hanya menjadi simbol, sementara roda pemerintahan berputar mengikuti ritme kepentingan kolonial.
Diponegoro menyadari bahwa keraton sedang diarahkan menuju ketergantungan total dengan Belanda, dan itu bertentangan dengan seluruh prinsip yang diajarkannya kepada Sultan sejak kecil. Ia mencoba memberi nasihat secara pribadi, tetapi aksesnya kepada Sultan semakin dibatasi. Orang-orang Danurejo IV selalu mengawasi, seakan Diponegoro adalah ancaman.
Perubahan sikap Sultan membuat Diponegoro sedih sekaligus curiga. Sultan mulai mengambil keputusan tanpa berkonsultasi dengannya. Beberapa kali Sultan membela keputusan Danurejo IV, bahkan dalam hal yang jelas merugikan rakyat. Bagi Diponegoro, ini bukan hanya soal politik—ini soal harga diri keluarga, soal wibawa kerajaan, soal warisan leluhur yang mulai terkikis.
Pada titik ini, perseteruan belum meledak, tetapi jaraknya semakin jelas: Diponegoro di pihak tradisi dan rakyat; Danurejo IV di pihak kekuasaan dan kolonial. Sultan berdiri di tengah, tapi semakin condong ke arah yang salah. Konflik yang semula kecil mulai membesar, dan keraton Yogyakarta terasa seperti bom waktu yang menunggu ledakan.
Apa pemicu pertengkaran besar pertama antara Diponegoro dan Danurejo IV? Bagaimana keraton semakin terbelah?***
Artikel selanjutnya: Episode 3: Pertemuan yang Membuat Istana Terbelah Dua. Artikel sebelumnya: Episode 1: Benih-Benih Perseteruan dari Keraton yang Retak
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar