
Tugas Negara dan Kepedulian di Tengah Bencana
Pada suatu hari, aku berpamitan kepada anak dan istriku. Aku akan menjalankan tugas negara dengan pergi ke wilayah yang beberapa waktu lalu terkena bencana. Tujuanku adalah sebuah kota pelabuhan penting yang terletak di pesisir barat Provinsi Sumatera Utara, Indonesia, tepatnya di Teluk Tapian Nauli, menghadap Samudra Hindia, yaitu Pelabuhan Sibolga. Perjalanan memakan waktu dua hari. Kami berangkat pada tanggal 2 Desember 2025 dan sampai tujuan pada tanggal 4 Desember 2025.
Kami pergi ke sana untuk menjalankan tugas dari rumah sakit kami, RSPPN Soedirman Kemhan Pesanggrahan Jakarta Selatan, sebagai bagian dari tim satgas bencana Sumatera. Saat di kapal, aku bertemu dengan tim satgas lain seperti dari Tim PUSKESAL (Pusat Kesehatan TNI Angkatan Laut), Organisasi Dokter Ortophedi Makasar, dan juga dari Kadet (mahasiswa militer) Universitas Pertahanan. Kami disatukan di rumah sakit kapal KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992, tempat kami membuka pelayanan rumah sakit untuk membantu pelayanan rumah sakit sekitar yang kekurangan tenaga. KRI ini juga membawa berbagai kebutuhan pokok untuk membantu warga memenuhi kebutuhan pasca bencana.
Wilayah Terdampak Bencana
Seperti yang kita ketahui, area terdampak bencana di Sumatera Utara ada di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Tapanuli Selatan, Langkat, Kota Sibolga, serta beberapa wilayah lain seperti Kabupaten Deliserdang dan Kota Medan. Hari-hari ku sebagai perawat di sebuah kapal besar ini menjalani fungsi sebagai perawat. Jika sedang ada pasien rawat inap, aku bertugas di sana, tapi jika tidak ada pasien rawat inap, aku berjaga di ruang gawat darurat (IGD), ruang operasi (OK), atau bahkan di ruang ICU. Menjadi perawat berarti harus bisa alih fungsi secara cepat sesuai kondisi. Jika diperlukan di IGD, maka mode perawat IGD harus aktif, begitu pun mode lainnya.
Kebutuhan Masyarakat Pasca Bencana
Menurut para pasien yang diantar ke rumah sakit ini, masyarakat Sibolga pasca kejadian bencana dominan lebih membutuhkan pemenuhan pangan, air bersih, dan listrik. Listrik padam sejak kejadian bencana dan baru menyala pada hari Kamis (4/12) sore. Bencana memang datang tanpa rencana.
Kapal KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992
Kapal KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 yang saat ini aku dan tim tumpangi seharusnya berangkat pada Januari nanti untuk membawa bantuan ke Gaza. Namun karena bencana di negeri sendiri berlangsung begitu cepat dan tiba-tiba, membuat sarana dan prasarana kesehatan di daerah bencana juga ikut lumpuh. Oleh karena itu, Presiden menginstruksikan melalui surat perintahnya agar kami turun langsung berjaga dan melayani para korban pasca bencana. Walau aku tidak turun langsung ke lokasi bencana melainkan berjaga di dalam rumah sakit kapal, banyak pasien korban bencana datang ke sini.
Beberapa di antaranya adalah karena tertimpa longsoran kayu, patah tulang, dan kejadian gawat darurat. Beberapa hari yang lalu, dokter di KRI ini sudah berhasil melakukan tindakan operasi di atas rumah sakit kapal, dengan kasus patah tulang di femur (paha).
Pengalaman Sebagai Perawat di Kementerian Pertahanan
Perawat dalam Kementerian Pertahanan ini adalah hal pertama bagi ku. Tak pernah terpikir olehku menjadi perawat berpakaian loreng khas TNI. Sudah lama aku menjadi perawat sebelumnya, aku menggeluti perawat di berbagai bidang, seperti menjadi perawat konstruksi, perawat perusahaan, perawat rumah sakit, perawat 119 dinas kesehatan, dan kini perawat di rumah sakit milik Kementerian Pertahanan membuat ku belajar banyak hal bahwa menjadi perawat ternyata tidak hanya berfokus di satu lingkup: merawat orang sakit. Tapi juga bisa menjadi edukator, konselor, serta bersiaga membantu korban pasca bencana.
Rencana Keberangkatan dan Pesan untuk Anak
Kami masih akan berlayar, setelah di Sibolga akan lanjut ke Padang. Belum tahu sampai kapan kembali ke Jakarta lagi. Yang pasti sampai keadaan benar-benar tenang, para korban sudah mendapat pengobatan, pelayanan, dan perintah dari atasan. Berpisah dengan anak dan istri memang jadi hal yang paling membuat rindu, namun jarak yang terbentang akan terasa tak berjarak jika komunikasi terus terjalin.
Sekaligus aku titip pesan untuk anakku Haziq: "Nak, Jadilah manusia yang peduli, bersyukur dan siap membantu, sekecil apapun yang kamu bisa."
Dukungan untuk Korban Bencana
Melalui interview jarak jauh dengan salah satu perawat Kapal KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992, Ners. Haris Abidin yang saat ini bersama tim sedang berlayar dan siaga di Pelabuhan Sibolga, Sumatera Utara. Ners Haris merupakan teman sejawatku semasa masih bertugas di RS Abdoel Moeloek Provinsi Lampung pada tahun 2015. Saat ini bertugas di RS milik Kemhan, menurutku ia membawa insight baru tentang perawat yang terjun langsung pasca bencana. Kegiatan perawat yang turun pasca bencana jarang sejali disorot dan dokumentasikan, padahal apa yang para perawat kerjakan memberikan impact yang besar bagi saudara-saudara kita yang butuh perawatan kesehatan.
Semangat Kemanusiaan
Bencana Alam selalu menghadirkan kepiluan tersendiri. Orangtua yang kita sayangi, anak, adik, sanak saudara, rumah bahkan harta bisa lenyap begitu saja. Namun yang membuat saudara-saudara kita tetap bisa kuat dan tegar adalah rasa kasih, kemanusiaan dan gotong royong, bahwa kita bisa bersama-sama perlahan bangkit.
Semoga semua bantuan, sarana prasarana, air bersih, makanan, listrik menyala, obat-obatan, baju layak pakai tersalurkan dengan lancar tanpa hambatan.
Dear Kompasianer, mari bantu, doakan saudara-saudara kita di Sumatera ya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar